Resensi

Obat Mawas Diri ala Cak Nun

gelandangan-di-kampung-sendiri_20150409172402Tidak ada kata terlambat untuk membaca antologi esai milik Emha Ainun Nadjib satu ini. Kendati buku berjudul Gelandangan di Kampung Sendiri berisikan kumpulan tulisan Cak Nun –begitu beliau kerap disapa- yang pernah tercecer dibeberapa media nasional circa 90an, namun masih terasa relevansinya dengan kondisi Indonesia sekarang.

Pada satu sisi, buku ini menyerupai kumpulan keluh kesah rakyat kecil kota hingga desa yang tertuang dalam berbagai fragmen kehidupan. Di sisi lain, buku ini justru menawarkan perbincangan hangat seputar politik dan sosial dengan pendekatan budaya dan kadang agama. Yang Cak Nun kemas seringan mungkin, namun tetap memiliki gizi yang seimbang di setiap pembahasannya. Alih-alih membosankan untuk dibaca, Cak Nun membuat sebaliknya. Satu hal yang tidak bisa dipungkiri ialah bahwa bertebarannya nilai-nilai kehidupan yang tercecer dalam tiap lembarnya.

Cak Nun menceritakan berbagai masalah sosial yang terjadi pada rakyat secara objektif namun tidak lembek juga gegabah dalam menjunjung nilai keadilan dan kemanusiaan. Seperti ketika ia membahas dikotomi buruh dengan perusahaan, Cak Nun tidak serta merta membela buruh begitu saja, “Terus terang saja, saya tidak suka pada pemogokan kaum buruh. Itu mengancam ketentraman sosial.” (Hal.18), juga tidak membela perusahaan, “Para juragan di perusahaan bisa menatar para buruh –sesudah menatar diri mereka sendiri- bahwa perburuhan Pancasila, misalnya, adalah kesejahteraan kolektif pada semua yang terlibat dalam suatu lembaga ekonomi. Suatu akhlak yang memperhatikan kepentingan bersama, tidak ada yang menghisap, tidak ada yang dihisap, tidak ada yang mengeksploitasi, dan tidak ada yang dieksploitasi. Tidak harus berdiri sama tinggi duduk sama rendah, sebab tempat kedudukan direktur dengan tukang sapu memang berlainan sesuai struktur pembagian kerja. Namun, setidaknya berat sama dipikul ringan sama dijinjing.” (Hal.20). Keduanya mendapat jatah porsi untuk dibahas olehnya. Hal yang sama bisa dijumpai dalam esai berjudul “Kepentingan Oknum dan Sindrom Ketertindasan” dan beberapa tulisan sejenis yang mungkin nanti kalian temukan sendiri.

Provokasinya terhadap kesewenang-wenangan birokrat terasa sangat adem, tidak menggebu-gebu layaknya ahli propaganda partai oposisi. Hal tersebut bisa disimak dari beberapa judul esainya seperti “Lingsem”, “Awas, Pasar Kalian Terbakar!”, “Kontraktor Pembangunan”, dan beberapa tulisan sejenis yang mungkin nanti kalian temukan sendiri.

Kritik Cak Nun terhadap sikap represif aparatur negara yang kerap ditemui kawan-kawan mahasiswa ketika aksi pun takalah sejuknya.“Akan lebih baik jika saja aparat keamanan itu menyikapi para mahasiswa sebagai bapak. Bertanya dengan ketulusan dan mengajak dialog dengan akal yang jernih. Security approach memang harus, tetapi ia bukan satu-satunya pilar untuk membangun suatu bangsa. Perlu ada juga pendekatan intelektual, pendekatan empati, dan cinta kasih, saling ngemong.” (Hal. 30)

Sekaligus yang paling penting ialah mudah dicerna oleh pembaca -yang paling malas membaca sekalipun- hingga mampu memahami gejolak fenomena sosial yang dituturkannya. Silahkan nikmati esai Cak Nun yang berjudul “Amsal dari Probolinggo”, “Balada Faridah dan Mbah Jiwo”, dan beberapa tulisan sejenis yang mungkin nanti kalian temukan sendiri.

Tak ketinggalan pula unsur komedi sarkas, turut pula disajikan oleh Cak Nun, “Akan tetapi, justru karena keahliannya, dia sering kali merugikan usaha saya. Sampai tingkat tertentu ia bisa memperbaiki suatu onderdil dengan cara dan akal yang tak habis-habisnya sampai layak pakai kembali. Namun, itu berarti tingkat jual toko saya dirugikan. Padahal, sudah menjadi kebiasaan bengkel di mana-mana untuk suka menyuruh pemilik mobil ganti onderdil, dan tentunya itu wajar dalam dunia bisnis.” (Hal. 50). Perlu disimak pula ketika dengan santainya ia menggunakan kalimat sarkasme dalam bertutur demikian, “Di mata kita sekarang, Muhamad dan Amatoa adalah pemimpin tolol. Mereka tidak tahu mumpung, tak tahu posisi, jabatan, kekuasaan, dan peluang.” (Hal. 65) Sebab itu pula (mungkin) Cak Nun kerap dituding kafir oleh golongan fundamentalis yang gagal memahami tutur pikirnya.

Sekilas membaca tulisan Cak Nun yang tercerai pada beberapa bagian:Pengaduan I, Pengaduan II, Ekspresi, dan Visi, menyiratkan bahwa ia secara absolut berdiri segaris dengan rakyat, sebab beberapa esai menampilkan Cak Nun sebagai pengkritik kekuasaan. Para kaum progresif mungkin akan tersenyum sembari berkata “Betul itu Cak, ayo gilas kaum tirani!” dalam sanubari mereka. Tapi Cak Nun tidak berada di mana-mana, ia hanya berdiri kokoh di tapak kemanusiaan yang diyakini olehnya.

“Artinya, saya adalah bolo-nya setiap orang, karena yang saya cari memang titik temu kemanusiaan. Saya juga bolo-nya Pak Menteri. Bolo-nya penjual terang bulan. Bolo-nya mahasiswa progresif. Bolo-nya siapa saja karena sepanjang bergaul dengan mereka, yang saya tekankan adalah kesamaan-kesamaan dambaan terhadap kesejahteraan lahir batin manusia, siapa dan apa pun jabatan yang disebut manusia itu.” (Hal.28-29)

Satu pesan saya ialah –karena resensi ini diperuntukan untuk majalah kampus, buku antologi esai milik Cak Nun ini perlu dibaca oleh teman-teman mahasiswa. Terutama judul-judul seperti “Mendemonstrasi Demonstrasi”, “Kaum Muda yang Menggemaskan”, dan jangan lupa berkenalan dengan sosok guru Mataki yang hadir di buku ini. Supaya sebagai mahasiswa timbul mawas diri, pun tak sekedar menjadi sekedar masyarakat industry.

Total terdapat 288 halaman dalam buku ini yang menawarkan, bukan saja, diskurus politik belaka, melainkan juga problematika sosial yang dibalut selimut sastra yang hangat dengan keanekaragaman falsafah kehidupan di dalamnya, khas cendekiawan muslim yang bersastra ria

**Tulisan ini peruntukan untuk majalah kampus Aspirasi, UPN “Veteran” Jakarta

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s