Resensi

Elegi: Folk Penyendiri di Tengah Riuh Kota

artworks-000182710391-vgsyii-t500x500Depok sebuah kota yang sedang dalam masa pertumbuhan, sejak 17 tahun silam memutuskan diri pisah dari Kabupaten Bogor. Di mana kepadatan penduduk yang berbanding lurus dengan pembangunan infrastruktur yang pesat. Menimbulkan dinamika sosial serta keruwetan tersendiri yang kadarnya menyerupai ibu kota.

Di tengah rutinitas kota dengan jumlah penduduk 2.033.508 jiwa dan kepadatan penduduk mencapai 10.2555 jiwa/km2 yang kian penuh sesak. Perlu hiburan yang cukup memadai untuk meminimalisir keracunan aktivitas menjadi masyarakat industri. Kehadarian Elegi seperti antidot dari ini semua.

Adalah Bimo Aryo Prasetyo yang secara sadar menggunakan Elegi sebagai nama pentasnya dalam menyulam kata serta meramu nada menjadi untaian folk yang tenang. Folk penyendiri begitu ia menyebut proyek musikal sederhananya ini.

Elegi memang menawarkan musik yang sederhana dan meneduhkan, namun ia menjadi tidak sesederhana itu sebab hadir di tengah-tengah siklus kehidupan masyarakat industri yang serba kompetitif, cepat, dan rentan depresi. Di mana masyarakat dewasa ini seakan tidak punya pilihan lain selain menjalaninya atau tersingkir dari roda kehidupan yang kapitalistik.

Meminjam konsep alienasi milik Karl Marx, bagaimana pola kehidupan yang kapitalistik saat ini mengontrol hubungan manusia dengan manusia lain dan alamnya secara ketat, sehingga potensi diri mereka menjadi terpuruk. Sebab mereka hanya diposisikan sebagai mesin produksi, tanpa jiwa dan kualitas sebagai manusia.

Elegi seakan berupaya lepas dari keterasingan diri yang timbul akibat kesibukan mengais rezeki dari puing-puing pembangunan kota yang kian gencar. Untuk tidak terlelap begitu saja, namun mencoba tetap produktif sebagai bagian dari merayakan sifat sejati manusia. Sebab pada dasarnya manusia adalah makhluk kreatif. Tidak perlu sesuatu yang “wah” memang untuk sekedar meredam kebisingan dan penat kehidupan, seperti halnya Elegi, cukup dengan gitar kopong lalu berbahagialah.

Setelah hanya menyimpan lembaran lirik dalam laci sejak 2013 silam, Elegi mulai menyulapnya menjadi sebuah musik. Barulah pada 15 September 2016 kemarin, folk penyendiri ini merilis single perdananya bertajuk “Bulan di Margonda” melalui Soundcloud. Single perdana yang menyajikan deretan kalimat bernafas kerinduan dan dibalut dengan petikan gitar yang mengiringi perjumpaan. Tak ada hal yang diingat selain gelak tawa yang keluar bersuka cita. “Bulan di Margonda” ialah perihal bagaimana merayakan cinta kembali di tengah hiruk pikuk perkotaan yang nyaris kehilangan cinta.

Jika folk hanyalah sebuah fenomena yang sedang hinggap di atas ranting musik Indonesia dan digadang-gadang bersifat temporer. Namun sejatinya, folk adalah oase dari kehidupan yang serba kapitalistik saat ini. Maka, tidak ada kata terlambat untuk Elegi menyirami padang kehidupan yang tandus.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s