Cerpen

14 Hari Menyenangkan Lyxzen

Telapak kakinya kering dan mulai mengelupas, namun ia masih terus melangkah tak peduli. Rambut panjangnya mengkilap terkena sinar matahari yang sedang gagahnya, bukan karena Pomade namun berminyak. Matanya merah dan kantongnya pun menghitam, sudah dua hari ia terjaga dari nidera berkat efek Amfetamin cair yang mengalir dalam darahnya.  Kedua tangannya terus gemetar seperti sedang berada dimusim dingin tanpa sehelai jaket. Giginya tak henti bergidik. Pandangannya lurus ke depan seakan pasti namun kosong. Ia baru saja melewati masa-masa sulit dalam hidupnya.

Penampilannya lusuh sekali dengan kaos bertuliskan Lust For Life kuning dan jeans panjang yang sudah melekat selama sebulan. Jangan tanya soal aroma tubuhnya, cium saja ikan tuna yang kau biarkan diluar pendingin dalam waktu yang cukup lama, toh sama saja. Rasanya mustahil sekali bagi para pengemudi mobil dari arah Bristol menuju North Somerset, tidak tercuri perhatian pada nya. Siapapun yang melihatnya akan mengira sedang terjadi syuting The Walking Dead untuk episode terbaru.

Bahkan beberapa pengemudi ada yang rela menepi sejenak untuk mengambil foto pemuda kurus dan lusuh tersebut. Mereka tidak tertarik dengan potongan pemuda yang nampak seperti tuna-wisma itu, kecuali pada tato di keningnya. Tidak ada pengemudi yang bisa mengambil foto dengan baik, karna Lyxzen selalu menjauh ketika ada seseorang yang mencoba mendekatinya. Hal tersebut membuat jalur lalu lintas Clifton Suspension Bridge menjadi berbeda pada hari itu.

Langkah kaki Lyxzen berhenti ditepi sungai Avon, kulit telapaknya semakin terkelupas dan memerah sebab darah  yang membeku. Ia duduk dihamparan rumput yang basah dan bersikap seolah itu adalah tempat terkering yang pernah ia temui. Pandangannya kosong menyusuri hamparan sungai, pikirannya sedang berkecamuk hebat. Sesekali ia menjerit histeris apabila teringat sebuah kejadian beberapa hari lalu.

Langit mendadak gelap, petir mulai menampakan taringnya, kemudian hujan turun secara membabi-buta tanpa sempat permisi lebih dulu pada Lyxzen. Sedangkan ia tak peduli sama sekali.

***

Selasar rumah itu tampak sunyi dan berdebu namun sejuk berkat rindang pepohonan yang mengelilinginya. Dua orang pemuda dengan perawakan tak jauh berbeda, berdiri di depan salah satu ruangan, mereka terlibat perbincangan yang cukup serius bahkan sampai melupakan rokok yang hinggap ditangan masing-masing. Salah satu dari mereka masuk lebih dulu ke dalam ruangan.

“WELCOME TO MY PARADISE!” teriak Mayer, menyapa seorang pemuda dihadapannya. Wajahnya berseri. “Bagaimana hari mu anak muda ?”

Pemuda itu menatap Mayer seperti seekor elang yang sedang mengintai buruan. Keringatnya mengucur deras dari segala penjuru tubuh, degup jantungnya berdebar hebat, di dalam kepalanya menyimpan banyak pertanyaan. Mulutnya ingin sekali mengumpat namun terganjal oleh Slave Solid Ball. Kedua tangannya mengepal kencang, dalam kondisi seperti ini ia ingin sekali memukul seseorang, namun tertahan oleh ikatan keras.

“Ini tidak seperti yang kau bayangkan,” ujar Mayer sembari melempar senyum. “Tidak juga seperti adegan penculik di fim Holywood sialan yang pernah kau saksikan.”

Pemuda itu terus berusaha sekuat tenaga untuk melepas dirinya dari ikatan lalu memukul Mayer hingga K.O. kemudian pergi jauh. Sayang tenaganya tidak sekuat pengikat kulit berlapis yang telah didesain tahan guncangan. Setidaknya itulah ekspektasinya.

“Kau suka bersenang-senang, bukan ?” tanya Mayer. Sesekali ia menghisap rokok yang baru dibakarnya kembali, berusaha menciptakan suasana yang nyaman dan santai. “Di sini aku akan memberikan apapun yang kau senangi: alkohol, rokok, makanan ringan, pizza, narkotika, dan tentunya seks. Untuk yang terakhir itu, tentu sangat kau senangi bukan ?” Mayer menyeringai.

Nafasnya berderu hebat, ia seakan memompa tenaga dan berharap benar-benar bisa terlepas. Sebuah usaha yang sia-sia dan hanya menghabiskan tenaganya. Sebelum pada akhirnya ia merasa letih sendiri. Pandangan matanya mulai sayup, energinya terkuras.

“Aku tidak suka kekerasan, apalagi terhadap tamu ku sendiri. Tapi aku paling benci jika tamu ku tidak menikmati setiap suguhan yang telah diberikan,” tegas Mayer, kali ini bola matanya menatap serius pemuda tersebut. “Aku harap kau menikmati semuanya!”

Mayer beranjak meninggalkan pemuda itu sendiri dalam ruangan persegi yang mirip ruang interograsi kepolisian. Suara sepatunya mulai mendekati pintu keluar. Sebelum Mayer benar-benar meninggalkan pemuda tersebut, ia berpesan. “Tenang anak muda. Aku pastikan tidak akan ada yang tersakiti disini!”

*Musik instrumental Jazz perlahan berkumandang*

Seorang gadis berambut pirang tiba-tiba masuk, postur tubuh dan pakaiannya sekilas mirip Pamela Anderson di film Barb Wire, payudaranya yang besar dibiarkan setengah terbuka. Sang gadis menari dengan centil dihadapan pemuda tersebut, gerakannya seirama lantunan musik. Seketika hati pemuda itu berdebar dan ada sesuatu yang bergerak dari balik jeansnya perlahan. Setidaknya ketegangannya kini berganti sebab. Seorang pria berperawakan tambun dan berkulit hitam tiba-tiba masuk tanpa mengenakan sehelai pakaian, menghampiri sang gadis. Mata pemuda itu pun langsung membelalak, kaget. Secara perlahan sang pria mulai melucuti busana sang gadis, sementara sang pemuda semakin berdebar.

Fuck!” umpat si pemuda, samar. Ia kaget bukan kepalang melihat sang gadis yang ternyata seorang Shemale. Ia membuang pandangannya ke bawah, namun telinganya masih terbuka lebar menangkap setiap desahan dua pria yang sedang bertingkah selayaknya bingtang Brazzers.

Pemuda itu berusaha untuk tidak fokus pada dua pria di depannya namun kedua tangannya tak bisa menutupi telinga. Sesekali matanya memberanikan diri melihat, dua pria sedang asyik dengan 69 Style-nya, perasaan mual yang dahsyat  mulai dirasakan pemuda itu.

Suara desahan semakin besar, si pemuda sibuk mengalihkan fokus. Tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang membasahi tubuhnya, cairan putih kental dengan aroma yang tak asing sama sekali menempel tepat di kaosnya, yang langsung membuat ia muntah sejadi-jadinya.

“Ohhhhhhhhh…Arrggghhhhhhhhh,” teriak salah satu dari dua pria tersebut. Sebelum akhirnya mereka pergi meninggalkan si pemuda sendirian.

Keesokan harinya, seorang perawat masuk ke dalam ruangan. Si pemuda menatapnya dengan tak acuh, ia tak mau terjebak seperti kemarin. Kali ini tidak seperti kejadian sebelumnya, si perawat hanya bertugas untuk menyuntikan Tadalafil cair ke tubuh si pemuda.

Tepat setelah 15 menit berlalu, si pemuda mulai merasakan gelisah, celana dalamnya menyempit karena ereksi, dan ia harus bertahan dalam kondisi seperti itu selama kurang lebih 36 jam sebagai efek samping dari pemberian substansi yang telah disuntikan. Degup jantungnya berdebar, isi kepalanya menyimpan banyak pertanyaan dan kekhawatiran, tubuhnya gemetar karna ketakutan.

Seorang Shemale blonde tiba-tiba sudah dihadapannya tanpa sehelai busana, tak perlu menunggu waktu untuk berkenalan, si pemuda pun mendapatkan oral pertamanya. Jeritan keluar dari mulutnya dan air mata pun tak tahan berlinangan, ada perasaan kesal sekaligus malu yang bercampur dalam diri si pemuda. Perihal oral, sesungguhnya ia tak menikmati sama sekali.

Selama 12 hari ke depan, si pemuda akan terus berhadapan dengan situasi yang sama. Mayer memang sengaja menyuguhkan seks untuk si pemuda, karena ia tau pemuda tersebut adalah Casanova murahan. Namun Mayer tau bahwa pemuda itu juga seorang homophobia, sebab itulah suguhan seks kali ini berbeda dari yang biasa pemuda itu dapatkan.

Sebelum berada dalam ruang kotak ini, si pemuda selalu mudah menaklukan wanita demi memenuhi hasrat biologisnya. Terakhir ia berhasil meniduri Emily -gadis popular di sekolahnya- hanya bermodalkan rayuan juga wajah tampan dan tubuh atletis -suatu hal yang memang menjadi barometer bagi kebanyakan wanita untuk jatuh (atau dibutakan) cinta. Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, ia pun meninggalkannya begitu saja setelah mengetahui bahwa gadis tersebut hamil. Hingga pada akhirnya, Emily mengalami depresi berat karna tak kuat menanggung stigma masyarakat yang mulai melabeli dirinya sebagai pelacur. Ditambah tidak kuatnya ia melihat keluarganya yang terus menerus bersedih.

Mayer tau betul bagaimana harus memperlakukan tamunya yang satu itu dengan sebaik mungkin. Ia tau bahwa gaya hidup seusia pemuda itu tidak lepas dari Junk Food, hampir setiap jam makan ia selalu memberikannya. Walaupun sebenarnya Mayer tau bahwa Junk Food dapat berakibat fatal terhadap sistem imun manusia. Toh, memang sebenarnya itu tujuan Mayer.

Efek dari mengkonsumsi Junk Food secara intens membuat fisik pemuda itu lemas, untuk membuatnya kembali bersemangat, Mayer menyuntikan Amfetamin berkali-kali dengan dosis rendah. Yah kehidupan pemuda itu tak bisa lepas dari seks, amfetamin, dan  junk food.

Sudah genap 14 hari, si pemuda terbaring ditempat duduk tanpa mandi, pakaian bersih, dan udara segar. Membuat guncangan hebat pada psikisnya, ia menjadi lebih tenang, tatapannya selalu kosong, bola mata memerah dengan kantong menghitam, ia persis mayat hidup. Sesekali meracau tak jelas. Penggunaan Slave Solid Ball terlalu lama menyebabkan mulutnya sulit tertutup, alhasil ia menganga sepanjang waktu. Sepertinya tulang rahangnya sudah kaku.

“Sudah kau lakukan ?” tanya Mayer kepada kawannya. “Sudah!”

Kawan Mayer baru saja memberikan sebuah kenangan-kenangan sebuah tato bertuliskan “I’M RAPIST” tepat di kening pemuda tersebuut. Hal itu dilakukan sebagai bentuk sanksi bagi para pemerkosa. Mereka merasa bahwa itulah hukuman yang setimpal, pemuda seperti ini layaknya predator dan tentunya berbahaya. Jadi perlu diberikan tanda, agar orang lain khususnya wanita dapat lebih waspada.

                “Apa perlu diberikan Calcium Channel Blocker dengan dosis tinggi ?” tanya kawan . “Tidak perlu. Ia sudah mendapatkan imbalan yang setimpal,” jawab Mayer datar.

                “Mayer!” tegur salah seorang kawan lainnya. “Mobil fan telah siap, mau kemana kita ?”

“Clifton Suspension Bridge,” jawab Mayer, singkat.

Beberapa orang sibuk memindahkan pemuda tersebut ke dalam mobil fan yang telah disiapkan. Sisanya mulai membersihkan ruangan. Pemuda itu nampak begitu tenang, ia merasakan lemas yang teramat parah disekujur tubuhnya efek penkonsumsian amfetamin berlebih, rambut panjangnya terurai dan berminyak, aroma tubuhnya sudah tidak karuan lagi, bahkan bobot tubuhnya menurun drastis.

Mayer termenung di bagian depan mobil. Ia menatap sendu pada sebuah foto adik perempuan yang ada di dalam dompetnya. Ada perasaan sedih yang berkecamuk dalam sanubarinya, namun terselip sebuah perasaan yang lega juga.

“Sudah ku balaskan rasa sakit mu padanya. Predator itu, kini tidak akan menelan korban lagi,” ujarnya dalam hati. “Yang tenang di sana, Emily.”

**Pernah dimuat pada Majalah Aspirasi edisi 86, 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s