Figur

Sisi Lain Guru Agama Yang Mencintai Lenong

Hasan Basri terlihat sibuk bebenah ruang guru bersama beberapa rekan sekerja di SMU 8 Depok. Meja dan kursi dari kayu berulang kali digeser kesana kemari guna mendapati posisi yang sesuai. Ia masih tampak begitu bersemangat meski jam kerja telah usai. Bahkan ia tidak merasa keberatan ketika diminta untuk wawancara. Walaupun raut lelah tetap tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.

Dengan seragam batik yang dikenakan, sejujurnya ia terlihat seperti guru pada umumnya. Namun siapa sangka pria yang menjabat sebagai guru agama islam itu, ternyata seorang yang memiliki kecintaan besar terhadap seni dan budaya khususnya lenong betawi. Sebuah kesenian tradisional yang sudah ia kenal sejak masih kecil. Yang secara tidak langsung dikenali oleh ayahnya. “Baba [Ayah dalam bahasa Betawi] saya dulu senang manggil lenong Bolot. Mpok [Kakak] saya nikah, jual kebon, manggilnya lenong. Bahasa betawinya, udah kecekok lenonglah,” katanya seraya tertawa.

Ia mengaku, ketika kecil sempat pula merasakan gegap gempita pentas lenong baik secara perorangan maupun grup.

IMG_9890.JPG

Kecintaannya terhadap lenong, menggiring langkahnya pada akhir tahun 2012 lalu untuk bertemu dengan Mak Wol, pewaris sekaligus pembina sebuah paguyuban lenong Fajar Jaya yang terletak di Cilodong, Depok. Paguyuban lenong paling tua yang sudah berdiri secara turun temurun ini diakui nya sedang mengalami masa-masa kolaps. Sudah beberapa tahun belakangan, aktivitas lenong tidak menggeliat. “Mak Wol beringinan sekali supaya budaya lenong itu tetap bertahan di wilayah itu,” ujarnya.

Dari pertemuannya dengan Mak Wol itu, ia diangkat sebagai pimpinan dengan tugas mengurus segala keperluan paguyuban lenong. “Saya sebagai orang asli Betawi. Saya mau bergabung dan ingin memajukan itu [lenong]. Supaya jangan hilang ditengah-tengah budaya luar yang deres kaya air hujan, gerujuk aja. Kita pertahankan itu supaya gak hilang. Nanti kaya batik lagi,” tuturnya dengan logat Betawi yang masih kentara.

Sebagai permulaan ia akan melakukan pembenahan kepengurusan baik dalam segi administrasi serta dokumentasi. Hal ini dilakukan karna sejak memulai debutnya, paguyuban Fajar Jaya kurang memperhatikan dua hal tersebut. Sehingga orang yang ingin tau tentang asal muasal lenong di Cilodong kerap kesulitan untuk mendapatkan akses informasi mengenai sejarah. “Orang dulu kan kalau main yah main aja. Kaga pake tulis menulis. Mak Wol juga sering dapet penghargaan dimana-mana. Bahkan pernah lenongnya diminta konsepnya dibuatin film. Tapi yah begitu, secara administrasi orang tua dulu lahir aja kaga tau ‘lahir gua bareng pohonan rubuh’ begitu orang dulu mah. Nah kita sebagai penerusnya, pengen ngurus: administrasinya bagus, dapet penghargaan kita bingkai dan dipajang, ditulis siapa pendiri-pendirinya. Ketika orang mau tau sejarahnya jadi tau. Kalau kaga dibuat begitu nanti kehilangan obor kalau kata orang Betawi mah,” tegasnya penuh semangat.

Beberapa hari yang lalu ia baru saja menyelesaikan izin operasional ke kantor Kelurahan Kalibaru yang terletak di Kecamatan Cilodong. Ia sedang mengurus rencana pendirian gedung kesenian dan pemberdayaan setu Cilodong sebagai pusat kesenian Betawi. “Jadi mau di bentuk semacam setu Babakan gitu. Nanti disitu ada reliefnya. Ada relief kromong, gendang, kaos, dan lain-lain. Kalau ada orang dari luar nanya ‘mana nih kampung lenong Cilodong?’ jadi mereka bisa belajar disitu,” ungkapnya.

“Saya mau bikin sanggar lenong bocahnya juga,” tambahnya. Hal tersebut diakui sebagai upaya memperkenalkan kesenian lenong sejak dini. Dengan harapan, adanya generasi-generasi baru dapat memperkuat sekaligus mempertahankan kesenian lenong.

Kesenian lenong sendiri memang sedang menurun popularitasnya. Meskipun masih banyak grup-grup atau paguyuban-paguyuban lenong yang masih bertahan namun tetap belum dapat mengembalikan kejayaan lenong seperti pada tahun-tahun sebelum televisi mengambil ahli dunia hiburan masyarakat seperti sekarang ini. Dimana dulu setiap orang bisa menghabiskan waktu dari pagi hingga malam hanya sekedar untuk menyaksikan pertunjukan lenong. Apalagi jika yang disuguhkan adalah cerita-cerita yang popular saat itu dan mampu mengundang gelak tawa penonton. “Bahkan mereka [masyarakat pada waktu itu] dulu semacam ada kekuatan yang sangat kuat. Orang seneng nonton lenong. Mungkin karna dulu televisi belom ada. Dan lenong cuma hiburan satu-satunya,” kenangnya.

Untuk mengakali hal tersebut. Hasan menyiasatinya dengan mengkolaborasikan cerita-cerita modern dengan pembawaan yang khas lenong. Sasarannya tentu saja agar menambah minat generasi muda terhadap lenong. Ia mengatakan lebih lanjut, ini hanya masalah bagaimana cara mengemasnya saja. Jika kemasannya bagus. Tentu orang pun akan menjadi tertarik. Dan tidak menutup kemungkinan kesenian ini akan terus eksis. Sehingga dapat bersaing dengan budaya lain.

Kini usahanya untuk mengembalikan kejayaan seni lenong, khususnya paguyuban Fajar Jaya sudah berjalan kurang lebih hampir satu tahun. Selama itu pula ia berhasil melakukan pementasan dari kampung ke kampung, sekolah, hingga kepemerintahan. Namun ada masalah yang kini dihadapi olehnya. Sejak kevakuman Fajar Jaya beberapa tahun silam, banyak alat-alat penunjang lenong yang dipinjami dan tidak balik lagi. Alhasil, demi menunjang pementasan ia harus meminjam alat-alat milik seorang murid Mak Wol yang kini membuka grup lenong sendiri. Hal tersebut menjadi pekerjaan rumah tambahan di tengah upayanya melestarikan lenong.

Meski begitu besar harapannya terhadap keberlangsungan hidup lenong di tengah derasnya arus gencatan budaya asing, tetap tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia terus berupaya supaya lenong bisa dapat diterima oleh hati masyarakat luas. “Kalau kita gak ada upaya begitu siapa lagi. Maka kita sebagai generasi berikutnya yang pikirin. Kita tanem sekarang, anak cucu kita yang ngrasain,” tandasnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s