Intisari

Telanjang Bersama

Ibarat ketika berada pada tepian pantai tanpa sehelai benang di badan. Bersama-sama berlari menyusuri bibir pantai, merasakan peraduan ombak, menyambut angin yang membelai tangan, kaki, kepala, ketiak, penis, vagina, bahkan lubang dubur sekalipun. Lalu membiarkannya terjadi begitu saja, menikmatinya, menertawainya, dan merayakan setiap prosesnya.

Tentu tidak semua orang bisa melakukannya. Bersikap seleluasa mungkin dalam kondisi telanjang, terlebih keterlanjangannya terumbar di pandangan orang lain. Hanya ada sedikit yang mampu melakukannya: istri di hadapan suami yang berbaring di ranjang atau pelacur yang sedang menanti waktu senggama dengan tamu yang rela membayar untuk setiap menitnya, sebab mereka telah memiliki kesepakatan di dalamnya.

Begitu halnya dengan sahabat, ialah pola hubungan antar-manusia yang saling menelanjangi-ditelanjangi. Sebab itu jumlahnya hanya sedikit dari teman. Karena tidak ada yang menghendaki dirinya ditelanjangi oleh sembarang orang.

Teman adalah orang yang hanya kita kenali sebatas namanya saja. Tetapi sahabat adalah orang yang kita kenali tidak hanya sebatas nama melainkan hidupnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s