Cerpen

Jangan Bengong Cung!

Matahari terbit dengan penuh kepercayaan bahwa ia mampu memberi kehangatan pada seisi bumi. Si Kacung bangun tidur dengan penuh kegelisahaan. Dengan langkah yang malas-malasan, si Kacung berjalan menuju pelataran rumah orang tuanya. Menghela nafas panjang berkali-kali, digelengkan kepalanya, bibirnya berdecak tak jelas.

Rambutnya gondrong tak karuan, belum sempat shampoan. Bukan tak sempat, si Kacung punya waktu yang sangat luang, hanya uang untuk membeli shampo yang tak ada. Maka jangan heran, apabila rambutnya bau tengik dan berantakan. Sesekali jemarinya menjamah selak beluk kepalanya, digaruknya pelan-pelan hingga beringas. Gatal sekali rupanya.

Mendaratlah pantatnya yang bohai itu di lantai, disenderkannya badannya yang bongsor di salah satu tiang. Si Kacung kembali menghela nafas panjang, kali ini dibarengi dengan kalimat mantra, “Aduuuhhhhhh!”

Ia begitu bukan tanpa sebab, setahun belakangan ini otaknya mumet sekali. Apalagi masalahnya, kalau bukan urusan dompet yang tak berpenghuni. Setahun lalu si Kacung kerja sebagai Satpam klub malam, namun karena tak kuat diterpa angin malam dan sering sakit, pihak manajemen klub terpaksa memutus kontraknya. Ketika mengetahui akan dipecat, si Kacung bersikeras untuk meyakinkan pihak klub bahwa dirinya masih mumpuni sebagai Satpam. Sayangnya tak ada kesempatan baginya.

Semenjak saat itu, tak ada satupun pekerjaan yang menyapa dirinya. Awal-awal si Kacung masih santai, karena tabungan hasil jerih payah menjadi Satpam masih ada. Namun semakin hari semakin gelisah dirinya, tabungannya menipis hingga habis tanpa sisa. Bergelinjanglah dirinya tak karuan.

Matahari semakin menunjukan kepercayaan dirinya, sementara si Kacung masih membenamkan bokongnya sembari termenung. “Kayaknya nikmat nih kalau pagi seperti ini bisa ngopi dan makan pisang goreng hangat,” ujarnya.

Dalam kondisi tanpa uang sepeserpun, mustahil ia bisa melakukannya. Bisa meminta pada orang tuanya, tapi mau diletakan di mana wajahnya yang jelek itu. Tangannya meraba perut, sambil berkata, “Lu tenang-tenang saja yah. Sekarang istirahat dulu, nanti baru kerja lagi.” Berharap si perut mengerti apa yang si Kacung utarakan.

Dari kejauhan Ngkong Buyung lewat depan rumah si Kacung. Ia ketawa-ketiwi melihat si Kacung loyo begitu. “Cung, kenapa muka lu begitu ?” Si Kacung hanya membalasnya dengan pandangan lirih disertai melempar muka dari tatapan Ngkong Buyung. Ia sedang tidak mood untuk bercanda. “Mendingan lu ikut gua, Cung. Temenin gua mancing di kali,” lanjut Ngkong Buyung.

“Kagak ah!” Jawab si Kacung, acuh.

“Dari pada lu mati bengong di situ,” Ngkong Buyung masih berupaya merayu. “Tenang nanti gua kasih persenan.”

Mendengar begitu si Kacung mulai beruba pikiran, kopi dan pisang goreng masuk dalam alam pikirnya, terbang-terbang di kepala lalu memanggil namanya. Tapi si Kacung gandrung gengsi kalau mengiyakan tawaran Ngkong Buyung. “Sudahlah Cung, lu cepet kemari. Jangan gengsian sama gua,” Celetuk Ngkong Buyung seperti bisa membaca pikiran si Kacung.

Dengan wajah berseri dan senyum kecil, si Kacung menghampiri segera Ngkong Buyung. “Nih, lu bawa pelet ikan gua. Awas jangan sampai tumpah.” tegas si Ngkong Buyung.

Ngkong Buyung gemar sekali memancing, sejak muda tak ada hobi yang lain. Soal memancing dia paling ahlinya, tapi entah kenapa Ngkong Buyung tak pernah mau mengikuti kejuaraan lomba memancing. Padahal kalau dia ikut, bisa jadi juara dan memenangkan banyak hadiah. Si Kacung sempat menanyakan hal tersebut, jawabannya sederhana sekali, ia malas dan merasa buang waktu. Padahal memancing sendiri memang aktivitas yang buang waktu, bukan ?

“Gini Cung,” Ngkong Buyung coba menjelaskan. “Gua mancing selain untuk membunuh waktu, juga mau untuk melatih kesabaran. Kalau gua ikut lomba mancing, sama saja gua gagal melatih kesabaran sebab yang dituju pasti hadiahnya.”

Si Kacung pusing mendengar penjelasan Ngkong Buyung. “Aduh Kong, seterah dah. Saya nggak paham.”

Setelah berjam-jam melempar kail, akhirnya Ngkong Buyung mendapatkan tangkapannya yang pertama. Si Kacung sudah kepalang senang, lumayan ikan yang ditangkap besar dan kalau dijual bisa mahal. Tapi ternyata Ngkong Buyung punya khendak lain, dilepaskannya lagi ikan yang baru saja ditangkapnya. “Lah, kenapa dilepas lagi kong ?” si Kacung terheran-heran.

“Kasian! Ikannya jelek. Gak suka gua sama mukanya.”

Si Kacung semakin geleng-geleng kepala dan merasa telah salah mengikuti orang. Impiannya untuk minum kopi dan makan pisang, mulai jauh dari angan. Ia tidak habis pikir sama tingkah laku Ngkong Buyung yang menurutnya kurang kerjaan sekali: ikut lomba mancing tidak mau dan setelah berjam-jam menunggu lalu dapat ikan malah dilepas kembali.

Setelah Ngkong Buyung melepas tangkapannya, selesailah rutinitas mancing hari itu. Mereka berdua berjalan meninggalkan kali dan menuju pulang. Si Kacung hanya diam meski Ngkong Buyung terus mengajaknya bicara sepanjang jalan, ia sudah kepalang keki dan ingin segera sampai di rumah. Apa yang dibicarakan Ngkong Buyung kalah keras dengan suara pikirannya yang berjubel.

“Cung!” tegur Ngkong Buyung sembari menghentikan langkahnya. Dari dalam peci hitam yang ia kenakan, diambilah pecahan 20 ribu dua dan 10 ribu satu lalu diberikan pada si Kacung.

“Waduh, Ngkong!” sontak kaget si Kacung. “Apaan ini ?”

“Ini persenan lu nemenin gua mancing tadi.”

Si Kacung bengong, kali ini berganti sebab, bukan karena memikirkan nasibnya. Ia tak menyangka akan mendapatkan upah yang banyak. “Ah yang bener, Ngkong ? Kalau bener yaa terima kasih dah.”

Wajah si Kacung sumringah. Ia mencium tangan Ngkong Buyung sebagai bentuk maaf sekaligus terima kasih. Mereka pun memutuskan untuk pisah, Ngkong Buyung pergi ke arah selatan untuk bertemu istri ke duanya sementara si Kacung melangkah ke utara menuju rumah.

Sepanjang jalan pulang, si Kacung senyum sendirian. Bayangan kopi dan pisang goreng sudah sangat dekat, hanya berjarak 5 cm dari keningnya. Hidungnya yang pesek seakan mencium aroma pisang goreng yang ranum dan kopi yang hangat. Ia tak sabar untuk segera ke warung Mak Ijah untuk menjemput kopi dan pisang goreng impiannya.

Belum sampai warung Mak Ijah, tiba-tiba Bayu menghampiri si Kacung. Ia nampak tergesah-gesah dan sedikit kikuk. “Bay, lu mau kemana ?” tanya si Kacung.

“Ini Cung, mau ke Mpok Ningsih.”

“Waduh Bay, jangan yang kagak-kagak.”

Siapapun warga kampung yang lagi membutuhkan uang tunai, biasanya selalu menjadikan Mpok Ningsih sebagai solusinya. Walaupun mereka tau, Mpok Ningsih tidak sedang bekerja secara sukarela sebab selalu ada bunga yang mengikuti di setiap pinjaman. Bunganya tidak kecil. Belum lama, Mat Kribo menjadi korban Mpok Ningsih. Motor bebeknya ditarik sebagai jaminan karena lalai membayar pinjaman selama dua bulan. Itupun belum cukup, terakhir dengar, rumah Mat Kribo yang diincar untuk menutupi hutangnya.

Baca juga: Doa Kretek dan Kopi

“Lu butuh untuk apa sih ?” tanya si Kacung.

“Ade gua Cung, sakit panas minta dibeliin mainan di kota. Emak gua lagi belum punya uang. Bapak gua juga ojeknya lagi sepi.”

Tanpa banyak basa-basi lagi, Bayu pun pamit pergi ke rumah Mpok Ningsih. Si Kacung masih terdiam melihat kawannya perlahan meninggalkannya. Ia tidak tega dengan kawannya berurusan dengan lintah darat yang selalu lapar harta.

“BAY!” teriak si Kacung, sambil menuju ke arah Bayu. “Mainan yang ade lu mau, berapa harganya ?”

“Gocap, Cung.”

Si Kacung kembali terdiam sejenak, uang dikantongnya cukup sekali dengan yang dibutuhkan Bayu. Di sisi lain kopi dan pisang goreng mulai merayu, sementara itu perut-nya pun mulai menunjukan kegamangan.

“Gua ada nih,” si Kacung memberikan seluruh uangnya dan meletakannya di telapak tangan kanan Bayu. “Lu langsung ke kota yah.”

Bayu menunjukan gelagat tak enak hati kepada kawannya, berusaha untuk tidak menerimanya. “Bay, lu ke kota sekarang. Sebelum malam nih. Bawa deh.”

Bayu tak bisa berkata tidak, dengan mantap kakinya melangkah ke kota. Sementara si Kacung kembali menghela nafas panjang. Selama perjalanan pulang mulutnya tak henti bersenandung, “Kopiiiiiiiiiiiiiiii….Pisgorrrrrrrrrrrr…..Kopiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii….Pisgor……..Hanyalah mimpi.”

Di pelataran rumah, si Kacung melihat emaknya lagi membereskan jemuran jengkol yang sejak siang dibiarkan bertemu matahari. “Anak sue lu. Dari mana aja ?!” sambut Emak. Si Kacung menggerakan kepalanya ke arah timur, sebagai tanda bahwa ia habis dari sana.

Langkah kakinya yang lemas menuju ke dalam rumah. Emak kembali menegurnya, “Cung mau kemana lu ? Jangan masuk dulu!”

Si Kacung menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Emak. “Mau mandi makkkkkkkkkk!”

“Enak aja lu, pulang-pulang mau mandi. Lu disuruh Big Boss ke warung Mak Ijah buat ngambil kopi sama pisang gorengnya. Abis itu lu mampir ke warung Mpok Seli beliin Emak shampo tiga sama buat lu satu tuh, kalau mau.”

Si Kacung kembali bengong.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s