Intisari

Ternyata Nama Itu Bernyawa

Di suatu malam yang biasa saja, saya menanyakan asal usul dari nama  yang menjadi identitas saya sebagai seorang manusia kepada Papa. Kenapa beliau menyematkan Alfian Putra Abdi sebagai nama untuk anak sulungnya ini.

Papa yang baru pulang kerja menjawabnya sembari menikmati rokok juga kopi hitam seperti biasa. Karena Papa berdarah Sunda, maka ia memberikan nama Alfian Putra Abdi pada anaknya. Yang berarti Alfian Putra Saya, dalam kamus Bahasa Sunda, abdi berarti saya.

Kemudian Papa melanjutkan, yang bisa juga dalam Bahasa Jawa, abdi berarti pegawai keraton. Memang jika menelisik KBBI, abdi berarti orang bawahan/hamba/pelayan. Masih merujuk KBBI, abdi bisa pula diartikan sebagai ‘pegawai pemerintah yang pada dasarnya mempunyai kewajiban melayani masyarakat’ atau ‘pegawai yang bekerja pada pemerintah; pegawai negeri’.

Sebelum saya menanyakan hal ini, saya sudah menduga jawaban Papa dan ternyata tak meleset. Persis seperti apa yang beliau katakan di atas.

Namun saya tidak mau menyerahkan pemaknaan nama ini kepada Papa begitu saja. Saya mencoba mengkulitinya sendiri, secara serampangan. Dari apa yang Papa jelaskan saya tangkap dua poin dari nama saya, yakni sederhana dan mengabdi.

Lalu saya coba menghubungkan dua poin tersebut berdasarkan empiris seumur hidup.

Sederhana, tidak perlu repot-repot untuk menterjemahkan nama saya, bukan ? Cukup mengetahui asal daerah, siapapun kalian pasti dengan mudah mengartikannya. Entah, memang nama saya sengaja diciptakan sesederhana ini atau beliau terlalu senang mendapatkan anak pertama sampai-sampai tak sempat memikirkan nama yang ngjelimet nan kaya filosofis.

Sejauh umur ini bergulir, saya menyadari selalu berada dalam kondisi yang serba berkecukupan. Tidak kaya raya ataupun jatuh miskin. Semuanya berada dalam level yang setengah, tidak tinggi dan tidak rendah. Dalam aspek apapun di hidup saya, poin ini selalu bernyawa.

Kemudian mengabdi, apakah beliau memang memproyeksikan saya untuk bekerja di pemerintahan ? Sebagaimana beliau dan beberapa sanak famili saya yang sekarang mengemban status sebagai Pegawai Negeri Sipil. Tapi sepertinya bukan kesana maksudnya.

Poin kedua ini yang sebetulnya masih belum bisa saya jawab sekarang. Sebab saya belum memberikan sumbangsih apapun pada masyarakat dan negara, jauh dari kesan melayani apalagi mengabdi malah.

Lain hal jika konteksnya kepada Big Boss pemilik semesta ini, tidak bisa ditawar lagi bahwa saya memang hambanya. Tapi jika dikatakan mengabdi, saya rasa pun sama, belum, masih banyak memberontaknya. Hamba yang kurang ajarlah, begitu saya mengistilahkan.

Namun, apabila saya memiliki ketertarikan pada isu sosial dan kemasyrakatan, itu saya dapat akui. Hal yang kemudian membawa saya pada cita-cita sebagai jurnalis/penulis. Meski demikian saya belum bisa menjawab makna dari mengabdi itu sekarang, mungkin di kemudian hari. Itu pun entah mengabdi di mana dan sebagai apa. Apakah menjadi jurnalis/penulis yang menulis untuk kepentingan orang banyak, atau apa. Biarlah masih terselimuti kabut.

Lucunya dari nama saya yang sederhana dan empiris yang telah saya lalui ini, keduanya saling berhubungan. Nama ini seperti refleksi dari jalan yang telah saya tempuh seumur hidup.

Ajaibnya lagi Papa memiliki nama Wahyudin. Sesuai dengan makna wahyu pada namanya, Papa seperti perantara yang memberi amanah kepada saya melalui nama ini. Bisa saja ini sebuah kebetulan, tapi yang jelas saya sudah merasakan: bagaiamana sebuah nama bekerja pada kehidupan pemiliknya.

Sampai di sini, saya malah merasa bahwa nama saya tidak terdiri dari tiga kata tetapi satu yakni hanya Alfian semata. Yah, hanya Alfian. Sebab, kata kedua ‘Putra’ saya artikan sebagai identitas seksual. Lalu, kata ‘Abdi’ adalah tugas saya di dunia. Yang mana saya artikan sebagai Alfian anak lelaki yang mengabdi. Saya hanya berharap, semoga tidak mengabdi pada persoalan duniawi yang fana ini.

Yang jelas,

Dua poin tersebut dilain hal seperti menjadi alarm untuk tidak memberi hak pada saya untuk pongah. Apa yang bisa saya banggakan ? Hidup saja seperti ini, harta tak punya, apalagi ilmu yang tak sampai setetes. Mau bersikap pongahpun tak pantas, seperti mendzolimi nama sendiri. Namanya juga kacung.

Saya perlu berterimakasih atas penyematan nama ini. Di balik namanya yang sederhana ternyata tersimpan sebuah maksud yang mudah-mudahan menjadi mulia. Meski di awal saya sempat berlaku kurang ajar serta sombong, dengan menyingkatnya menjadi Alfian Putra A.

Jika William  Shakespeare berpendapat apalah arti sebuah nama. Saya justru merasa bahwa nama yang tersemat pada raga kita menyimpan banyak arti. Yang mungkin bisa berupa pesan, arahan/jalan hidup, amanah, atau lain halnya.

Lantas, bagaimana dengan nama kalian ?

Advertisements

One thought on “Ternyata Nama Itu Bernyawa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s