Intisari

Biarkan Saya Tertidur

Sabtu dini hari (5/11) saya hendak tidur, lelah sekali rasanya. Mata saya mulai sayup, tenggelam dalam bantal yang ceper nan empuk. Tubuh perlahan mulai berdamai.

Tiba-tiba…

Mata saya membelalak, pandangan terang. Telinga saya menangkap suara dari pengeras suara Masjid. Kata demi kata digelontorkannya, mata saya semakin terang di buatnya. Telinga meresapi setiap kata. Dan…

Pengeras suara itu masih bercerita soal insiden demo hari Jumat kemarin (4/11). Kalimat-kalimat perjuangan mengalir dengan semangat. Siapapun yang mendengarnya, pasti akan menderu sanubarinya.

Saya merinding jadinya.

Lalu bingung dibuatnya.

“Saya ini orang bodoh. Tidak pantas mendengarkan ini. Saya tidak paham,” ujar saya dalam hati. “Saya mau tidur. Tolong Big Boss, saya mau tidur. Biarkan saya tertidur saja.”

**

Sehari sebelumnya, mulai dari linimasa media sosial, televisi, grup-grup Whatsapp & Line, hingga trotoar jalan, mendadak ramai. Apalagi kalau bukan perkara demonstrasi yang terjadi di Ibu Kota dan melibatkan mayoritas umat muslim Indonesia yang jumlahnya ribuan itu.

Saya buka Facebook, mulai dari yang pro hingga kontra, silih berganti ambil bagian untuk unjuk opini. Begitu juga dengan beberapa media sosial lainnya, sama saja. Dalam dunia realitas pun serupa, ada yang mengkhendaki aksi demo tersebut atau juga yang menolaknya.

Melihat fenomena ini, saya memperhatikan.

Muncul pertanyaan, “Apakah memang sepatutnya melakukan aksi seperti ini ? Atau justru sebaliknya ?”

Belum juga terjawab, muncul lagi pertanyaan yang lainnya, “Saya ini kan beragama Islam, apakah saya harus pergi ke Jakarta juga ?”

Saya bingung kelabakan. Hingga akhirnya tanpa saya sadari, waktu telah terbuang untuk menyantap batagor dekat kampus dan nongkrong di rumah dengan teman-teman hingga malam hari.

Lalu saya mendengar demonstrasi yang digadang sebagai #aksidamai berubah ricuh. Saya tengok linimasa kembali, yang kontra semakin menjadi menyudutkan yang ikut aksi. Sumpah serapah keluar dengan ringannya dari jemari mereka.

Saya memperhatikan kembali.

Lalu muncul pertanyaan ini, “apakah saya harus menghujat mereka yang melakukan aksi tersebut karena telah ikut mencoreng agama Islam ? atau, apa saya harus menghujat mereka yang nyinyir soal aksi tersebut karena tidak ikut membela Islam ?”

Belum juga terjawab, tiba-tiba muncul pertanyaan. “Lagi di mana ? Besok jadi jalan nggak ?” yang datangnya dari teman wanita saya di Line. Yasudah saya jawab pertanyaan yang itu saja dulu, lebih mudah soalnya.

Teman-teman saya yang sedang asyik menikmati kopi dan kreteknya diselingi cerita soal kehidupan dan (tentunya) asmara, begitu larut dalam ruang dan waktu. Tiba-tiba di tivi muncul lagi breaking news soal kondisi terkini di Jakarta.

Saya menjadi bingung lagi. Aduh, saya ini sarjana gak guna. Dikit-dikit bingung.

Muncul pertanyaan, “Loh, bukannya aksi itu untuk membela Islam dari dugaan penistaan yang dilakukan Ahok yah ? Kenapa banyak bendera yang berbeda-beda berkibaran ?”

Saya perhatikan secara saksama, tidak ada bendera Islam. Maksudnya bendera yang hanya bertuliskan “ISLAM”. Rata-rata bendera bertuliskan: Barisan Pemuda Ganteng Islam, Cantik Cantik Islam, Front Sayang Mama Bukan Mantan, Forum Masyarakat Sayang Bunda, dan Barisan Sakit Hati Ditinggal Nikah.

Tentu yang terakhir itu saya berbohong. Tidak ada bendera dengan tulisan seperti itu.

Tiba-tiba muncul pertanyaan, “Sudah makan belum a ?” yang datangnya dari Mama melalui SMS. Saya jawab, “Sudah pakai air kopi dan kretek, eh gorengan juga deh.” Padahal Mama mempertanyakan sudah makan atau belum, dijawab dengan gorengan-pun sebenarnya yang paling tepat. Tapi saya malah kemana-mana jawabnya. Sepertinya saya lelah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s