Intisari

Menjadi Hewan Ternak

Pada masa akhir perkuliahan saya sempat kebingungan. Bukan karena memikirkan di mana saya akan bekerja selepas wisuda nanti. Atau apakah saya akan mendapatkan pekerjaan atau tidak. Bukan soal itu semua.

Saya bingung harus dibawa kemana ilmu dan pengetahuan yang telah dimiliki ini.

Desakan kebutuhan yang tak kenal toleransi, sempat membuat saya untuk membawanya bekerja. Saya berpikir, bagaimanapun caranya, setelah wisuda nanti langsung bekerja dan mendapatkan penghasilan. Jangan banyak pertimbangan soal tempat kerjanya asal menyenangkan dan di beri gaji bulanan. Lalu menjalani kehidupan sebagaimana mestinya. Mengikuti siklus hidup sebagai rutinitas.

Dengan perspektif demikian, mau tidak mau saya harus mengkubur semua aktivitas yang pernah saya lakukan sebelumnya. Bermain di band, menjalankan webzine musik, mengorganisir gigs, dan membuat karya. Semua harus dikurangi, kalau perlu dikubur. Saya harus fokus mencari uang dan kemudian membina keluarga.

Kalau kata kawan yang progresif, “Hidup mengikuti arus!”

Yah, kurang lebih perspektif saya seperti itu.

Suatu waktu, saya malah menjadi dilema sendiri dengan pilihan hidup seperti itu. Gamang bersarang dalam nadi. Timbul pertanyaan paling mendasar, “Yakin mau hidup dengan pola seperti itu ? Yakin nanti tidak akan bosan ?”

Saya mulai mengamini, baru kali ini saya khawatir bosan. Bahaya kalau bosan itu bersarang, efeknya hidup akan susah bahagia dan paling parahnya tidak gampang bersyukur.

Lalu, saya bertanya pada diri sendiri, mau dibawa kemana ilmu dan pengetahuan ini.

Sampai akhirnya, waktu membawa bertemu pada satu sosok yang kemudian saya sebut guru (meski entah saya layak disebut murid atau tidak), Ren Muhammad, namanya. Beliau yang mempersilakan saya masuk menjadi salah satu juru tulis di media yang sedang dirintisnya. Saya tidak diimingi apapun termasuk uang, justru saya malah digembleng menulis dan bagaimana menyikapi dunia berserta isinya. Yang mana malah saya nikmati.

Dari pertemuan itu, saya menjadi sedikit paham, mau dibawa kemana ilmu dan pengetahuan saya yang sedikit ini. Ternyata semesta tidak mengizinkan saya untuk terlelap begitu saja dalam gelar kesarjanaan. Apalagi sampai meraup untung darinya. Alih-alih, saya malah harus berbalas budi.

Selain itu, ia lebih hina dari hewan ternak karena ia telah memilih nasibnya itu, tidak seperti hewan ternak yang tidak bisa memilih.

Kalau dipikir-pikir, saya sudah mengeluarkan uang yang banyak untuk mendapatkan gelar sarjana ini. Setelah lulus, harusnya gelar sarjana itu yang bisa saya manfaatkan untuk mengembalikan uang yang telah keluar. Lalu kenapa saya tak boleh meraup rupiah darinya ? Logika saya berkhendak demikian, tapi hati saya menolaknya dan malah menyuruh untuk membayarnya.

Selepas wisuda saya disibukkan dengan berbagai aktivitas non-profit yang semuanya berdasarkan kompetensi saya. Mulai dari membantu dalam pagelaran Tribute to Sukarno, membidani Lokakarya Jurnalistik, menjadi punggawa desain di usaha sablon, dan menulis di Majalah Arka. Secara tidak langsung hal itu yang bisa menjawab, jika ada pertanyaan, “Kerja di mana sekarang Al ?”

Selain itu saya juga menyibukan diri membidani sebuah website yang sudah mulai berjalan dan satu proyek yang belum terealisasi yakni membuka taman baca di rumah Garut.

Tanpa diprediksi, pundi-pundi uang justru mengalir dari lubang yang lain. Lubang yang tak pernah diperkirakan terbuka untuk saya. Mulai dari membantu event off-air sebuah radio siaran, memotret pernikahan teman, menjadi fotografer lepas event CSR Bank, dll.

Menjadi sarjana bukan perkara bagaimana bisa mendulang emas dari nya. Menjadi sarjana adalah bagaimana bisa berguna bagi sesama atau untuk hal-hal yang tak melulu uang. Bukan saya yang mengeluarkan kalimat tersebut, tetapi semesta yang memberitahu hati saya.

Apakah saya kemudian menolak bekerja ? Tidak juga.

Sampai saat ini saya masih melamar pekerjaan. Bagaimanapun usaha harus terus digencarkan. Saya percaya bahwa hidup ini tidak mengkhendaki makhluknya statis, justru ia menginginkannya untuk terus berjalan agar dinamis.

Satu kalimat yang akhirnya menjawab kebingungan saya, di tulis oleh Syekh Abdul Qadir Al-Jailani:

“Jangan sibukan dirimu melakukan pekerjaan mereka yang hidup bagaikan hewan ternak.”

Kalimat yang merujuk pada Q.S Al A’raf (7):179, yang mengatakan:

“Hewan ternak hanya bisa makan, bereproduksi, dan tidur. Hewan ternak tidak menyadari apa pun di luar yang ia alami dalam beberapa menit, dan mereka tidak memahami apa pun.

Mereka bekerja untuk memberi makan tuan mereka, mereka juga tidak bisa melepaskan diri dari kemungkinan dibunuh untuk dimanfaatkan tuan mereka.

Namun, orang yang tidak berpikir/berakal itu bagaikan hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi karena ia berjalan menuju neraka. Selain itu, ia lebih hina dari hewan ternak karena ia telah memilih nasibnya itu, tidak seperti hewan ternak yang tidak bisa memilih. Karenanya, jangan menjadi orang yang tidak mau berpikir.”

Depok, 07 Desember 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s