Esai

Sastra Koran Hanya Ada Di Indonesia

Konon menurut isu yang beredar dunia sastra dan media informasi khususnya koran di Indonesia mempunyai kedekatan yang unik, yang tidak bisa di temukan di negara lain. Kedekatan tersebut disinyalir karena sastra hadir dalam setiap lembar koran. Yang mana pada satu titik tertentu kedekatan tersebut menimbulkan kontroversi, seorang pengamat sastra menilai kedekatan tersebut terlalu berlebihan sehingga mengurangi esensi sebuah koran. Sementara pihak sastrawan menilai bahwa sastra harus mempunyai tempat khusus sendiri.

Sebelum telanjur menjamah seluk lekuk sastra koran, ada baiknya sebagai permulaan, perlu pemisah antara dua suku kata tersebut: sastra dan koran. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan sastra sebagai kesusastraan. Apabila ditinjau, kata kesusastraan sendiri mengandung konfiks ke-an dan susastra. Konfiks ke-an dalam bahasa Indonesia memiliki arti “kumpulan” atau “hal yang berhubungan dengan”. Sedangkan susastra, Meminjam istilah A. Teeuw, berasal dari su yang ditambahkan sastra. Kata sastra berasal dari bahasa sansekerta yang berakar pada kata sas yang berarti mengarahkan, mengajar, memberi, atau instruksi. Sedangkan tra berarti alat sarana. Alfian Rokhmansyah dalam buku Studi dan Pengkajian Sastra: Perkenalan Awal Terhadap Ilmu Sastra mengartian istilah kesusastraan sebagai kumpulan atau hal yang berhubungan dengan alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku intruksi, atau pengajaran yang baik dan indah.

Yakob Sumarjo dan Saini dalam buku Apresiasi Kesusastraan mengartikan sastra sebagai ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat keyakinan dalam suatu bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa. Yang terbagi menjadi dua bagian yakni sastra non-imajinatif berisi esai, kritik, biografi, otobiografi, sejarah, catatan harian, dan surat. Sedangkan, sastra imajinatif berupa puisi, prosa, novel, cerpen, dan drama.

Sementara koran, menurut KBBI diartikan sebagai lembaran kertas bertuliskan kabar berita dan sebagainya, terbagi dalam kolom-kolom yang terbit setiap hari atau secara periodik.

Premisnya bahwa sastra koran adalah kumpulan karya sastra yang diterbitkan di sebuah media harian. Pun yang perlu diingat bahwa sastra koran hanyalah metode penerbitan karya sastra bukan mengindetifikasikan suatu genre baru dalam sastra, layaknya “Novel Teenlit” dan “Novel Filsafat”.

Di Indonesia sendiri sastra koran terbilang sudah bersinergi sejak lama. Putu Fajar Arcana selaku Redaktur Kompas yang juga sastrawan dalam satu kesempatan mengatakan, hal tersebut telah terjadi sejak masa kolonial Belanda. Ketika abad ke-19, pemerintah Hindia-Belanda memberikan izin bagi setiap warga untuk mendirikan media massa, lalu munculah koran dengan konten berita dan belum memuat karya sastra di Semarang dan Surabaya. Selepas hengkangnya Belanda dari Indonesia, barulah karya sastra menjadi bagian dalam sebuah terbitan media massa.

Gaya penulisan karya sastra yang ringan, renyah, dan menghibur, menurut Bli Can –sapaan akrab Putu- mendapatkan jatah terbit pada akhir pekan. Hal tersebut ditujukan untuk memberikan ruang istirahat sejenak pada pembaca setelah seminggu dijejali berita berat.

Ahmadun Yosi melalui esainya yang berjudul Evolusi, Genre, dan Realitas Sastra Koran menyampaikan bahwa perjalanan sastra koran mencapai puncak pada dekade 70-an dan 80-an. Di mana beberapa media seperti Kompas, Sinar Harapan, Kedaulatan Rakyat, Berita Buana, dan Suara Karya menyajikan rubrikasi sastra di dalam lembar-lembar halamannya.

Uniknya relasi antara sastra dan koran hanya terjadi di Indonesia. Yang mana diakui oleh Bli Can sebagai fenomena yang jarang terjadi sebab di luar sana koran-koran tidak menerbitkan karya fiksi dan non-ilmiah. Yang kemudian membuat  Katrin Bandel –pengamat sastra Indonesia dari Universitas Hamburg- terheran-heran, dalam sebuah esai berjudul Sastra Koran di Indonesia, ia mengatakan bahwa fungsi halaman sastra di Indonesia dinilai berlebihan karena menyeleweng dari peran koran pada umumnya sebagai media informasi.

Menilisik pernyataan Bandel, mengisyaratkan bahwa seharusnya sastra dan koran berjalan terpisah dan berada dalam tempat ekslusifnya masing-masing. Wanita yang berprofesi sebagai dosen magister di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta tersebut, mencoba membandingkan dengan kondisi sastra di negara asalnya, Jerman, menurutnya di sana karya sastra hanya dimuat pada media-media tertentu saja. Hal yang senada di ucapkan oleh Bli Can dalam wawancaranya bersama Gatra pada April 2016 lalu, ia mengatakan bahwa kontroversi sastra koran telah terjadi di era-era awal lahirnya sastra koran itu sendiri. Ketika itu ada anggapan yang muncul dari kalangan sastrawan bahwa sastra harus tersaji dalam ruang khusus bukan dimuat di koran. Ia menilai anggapan tersebut karena ketika era-era awal tersebut, koran dianggap bukan sebagai media sastra.

Kendati demikian sastra dan koran menciptakan satu pola simbiosis mutualisme. Sebab relasi sastra dan koran yang sedemikian erat itu-lah, pada akhirnya memunculkan nama-nama besar seperti Sutardji Calzuom Bachri, Emha Ainun Najib, Korrie Layun Rampan, Seno Gumira Ajidarma, Yanusa Nugroho, Taufik Ikram Jamil, Djenar Maesa Ayu, Dewi “Dee” Lestari, Asma Nadia, dan tentunya masih banyak lagi nama-nama penulis yang sebelumnya berkarya dengan medium surat kabar.

Bahkan beberapa media seperti Kompas sampai menerbitkan antologi cerpen pilihan Kompas sejak 1992,  Riau Pos yang menerbitkan Anugerah Sagang 2000: Kumpulan Cerpen, Sajak, dan Esai Riau Pos 2000, Republika dengan antologi cerpennya Dokumen Jibril, dan lain lainnya. Bahkan para penulis yang sebelumnya berkarya melalui media massa pun kemudian menerbitkan karyanya sendiri dalam bentuk buku kumpulan, seperti yang dilakukan Benny Arnas dengan Jatuh dari Cinta, Yetti A.KA dengan Satu Hari Bukan di Hari Minggu, atau Cak Nun yang menerbitkan buku kumpulan esai yang pernah di muat disejumlah media yang berjudul Gelandangan di Kampung Sendiri.

Namun sejatinya sastra tak pernah kenal tempat, diletakan di mana-pun sastra tetaplah sastra. Tidak pernah ada kriteria khusus bahwa sastra buku lebih baik dari sastra koran, atau sebaliknya. Meminjam istilah Prof. Dr. H. Wahyudi Siswanto, sastra yang baik adalah penafsiran kehidupan dan mengungkapkan hakikat kehidupan. Lalu mampu mengungkapkan apa yang tidak bisa dilihat dan diungkapkan orang lain.

(Tulisan ini pernah dimuat dalam Majalah Arka #2)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s