Intisari

Tenang Saja, Saya Mengaku Kafir

Beberapa hari ini, saya merasa kagum dengan teman-teman yang total dalam pekerjaannya mengkafirkan orang lain. Betapa mereka tak letihnya terus bekerja. Di Facebook, Twitter, Youtube, pusat perbelanjaan, di atas trotoar, bahkan di mana-mana. Mereka sedang sibuk bekerja mengkafir-kafirkan.

Sewaktu baru pulang dari pekerjaan utama saya saat ini, nongkrong-nongkrong asyik. Terbesit dalam benak saya, apakah teman-teman yang sibuk itu sudah makan atau belum ? Sudah sempat membalas WhatsApp gebetannya atau belum ? Sudah tidur atau belum ?

Saya khawatir kalau mereka sampai lupa makan karena saking sibuknya bekerja. Bagaimana nanti kalau sakit. Bagaimana kalau gebetannya tiba-tiba minta putus karena chatnya tidak dibalas. Bagaimana kalau mereka sampai pingsan karena kurang tidur. Bukannya apa-apa, kalau itu semua terjadi, lantas bagaimana dengan pekerjaan mereka. Bisa terbengkalai begitu saja.

Saat ini saya hanya bisa sebatas khawatir. Sebab saya tidak bisa membawakan mereka makanan, mengingat jumlahnya yang tak sedikit. Lagipula, saya hanya sarjana pengangguran yang duitnya cuma cukup beli kretek separuh. Apalagi saya juga tidak tidak tau gebetan mereka semua, jadi tak bisa memberitahu kalau pasangannya sedang sibuk bekerja. Paling yang saya bisa lakukan yaa cuma itu, mengingatkan untuk tidur yang cukup. Mengingat pekerjaan yang mereka lakukan sangat berat, butuh ekstra energi.

Wahai teman-temanku yang baik hati lagi total bekerja. Izinkan saya untuk meringankan beban pekerjaan kalian yang berat itu. Bahwa saat ini, saya akan mengaku sebagai kafir. Sehingga teman-teman tidak perlu lagi mengkafirkan saya.

Yha, setidaknya dari daftar calon nama yang kalian hendak kafirkan, ada satu nama yaitu saya yang sudah mengaku. Jadi tak perlu repot lagi menuding saya kafir. Kalian bisa lanjut ke calon nama berikutnya. Atau rehat sejenak untuk makan, bagi yang memang belum makan; buka WhatsApp dulu, bagi yang lalai membalas chat gebetannya; atau yang belum tidur, yah bisalah tidur sedikit saja, jangan banyak-banyak, konon Nabi Muhammad SAW itu tidurnya sedikit.

Terakhir yang ingin saya sampaikan. Sesungguhnya pekerjaan yang sedang kalian lakoni itu sungguh berat. Sebisa mungkin untuk jaga kesehatan dan keharmonisan antarsesama (khususnya ke gebetanmu itu). Semoga apa yang kita lakukan saat ini, mendapatkan ridhonya.[]

 

Depok, 22 Desember 2016

Alfian Putra Abdi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s