Intisari

Sarjana Tanpa Kampus

Di atas bangku makan kami saling duduk berhadapan. Sedikit jarak antara kami, sebab saya sedang menikmati kretek dan Mama tak kuat aromanya. Garut malam itu (seperti biasa) dingin. Apalagi saat itu sudah menjelang sepertiga malam.

Mama dengan pakaian kebanggaannya, dress alakadarnya, asyik menutur cerita. Beberapa kalimat yang dikeluarkannya langsung dari hati. Sementara saya sibuk menyimak dan menghisap. Menghisap kretek tentunya.

Sekilas jika dipandang mata, malam itu biasa saja. Anak sedang berbincang dengan ibunya di ruang makan. Tidak ada yang istimewa. Namun entah bagaimana bisa, saya merasa sedang berada dalam perkuliahan. Saya sebagai murid dan Mama dosennya.

Singkat cerita, Mama mengkuliahi saya tanpa sekalipun ia bermaksud demikian dan tanpa disadari olehnya sama sekali. Kadang saya jawab, kadang saya hanya menunduk.

Satu kalimat keluar dari Mama. Kalimat terindah yang saya dengar:

“Mama heran. Orang kalau sedang senang, kadang lupa bahwa apa yang diucapkannya bisa menyakiti orang lain.”

Mama terdiam. Begitupun saya.

“Kalau lagi susah, pasti ucapannya beda lagi,” lanjut Mama. “Kadang kalau dipikirpikir suka sakit dengarnya. Bisa aja Mama ngbalikin ucapannya. Tapi buat apa ? Biarlah Mama pendam aja. Daripada orang itu ikut sakit hati juga, biar Mama aja (yang sakit hati).”

Ruang makan seketika berubah menjadi ruang kuliah semesta. Mama seorang yang hanya tamatan SMA dan mengabdi sebagai Ibu Rumah Tangga. Malam itu tampil bagaikan seorang sarjana.

Tentu bukan sarjana seperti saya ini, sarjana bohong. Mama sarjana kehidupan yang lulus dari universitas terbaik sejagat raya, Universitas Semesta namanya. Mama sepertinya mengambil jurusan Ilmu Kebijaksanaan, yang mana kalau saya kuliah di sana pasti tak akan pernah bisa lulus.

Mama adalah wanita yang menjelma menjadi ibu tanpa bantuan buku panduan Parenting. Hanya mengandalkan nurani untuk mampu membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Paling tidak, ilmunya hasil turunan dari para leluhurnya.

Tapi terkadang saya sebagai anak justru meremehkan kesaktian Mama. Namanya juga sarjana bohong, begitu ketemu sarjana tipikal Mama begini, pasti bentrok. Sok pintar dan sok tahu, padahal Mama diatas saya jauh sekali.

Yang lebih mengesankannya Mama tidak pernah bangga dengan kesarjanaannya. Lha, bagaimana mau bangga, Mama saja tidak menyadari bahwa dirinya ini seorang sarjana. Beda sekali dengan saya, lulus kuliah modal untung-untungan, tapi selalu pamer gelar. Aduuuh!

Mama juga yang paling santai, mendengar saya yang gagal mendapatkan pekerjaan. “Belum rejekinya. Sabar nanti juga kebagian. Mungkin nanti kali, tahun depan (2017).”

“Bantu doa yah, Ma.” pinta saya.

Yha, orang tua mah. Cuma bisa doain doang deh.”

Benar saja, 2017 baru bergulir beberapa hari. Ucapan Mama langsung terbukti. Saya mendapat pekerjaan, tanpa proses yang ngjelimet. Tak ada tes apaapa, hari ini kirim lamaran, besok dipanggil, dua hari kemudian langsung kerja. Bahkan sewaktu negosiasi gaji, angka yang saya berikan bukannya diturunkan, justru sebaliknya. Aneh bin ajaib!

Malam itu kami berbincang cukup alot. Hingga tak sadar waktu hampir menjelang subuh. Mama bergegas tidur sebentar, meninggalkan saya sendiri yang lanjut merenung.

Jauh-jauh saya mencari sosok filsuf, baca bukunya Si Anu-Si Ini. Ternyata saya sudah hidup 20 tahun lebih bersama seorang filsuf. Saya terkekeh-kekeh, mentertawai kebodohan diri sendiri.

Saya membatin pada diri sendiri, “dasar anak kurang ajar!”

Advertisements

2 thoughts on “Sarjana Tanpa Kampus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s