Intisari

Nasehat Sang Waktu

Entah bagaimana kami semua bisa terkumpul seperti ini, tentu itu adalah misteri semesta. Yang mampu saya cerna ialah kami di sini memiliki benang merah yakni musik “keras”.

Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, kami bertemu secara terpisah dan bertahap. Yang satu kenal yang satunya lagi, lalu dikumpulkan dan terkumpul. Magnet utamanya adalah hardcore punk.

Setelah terkumpul, direkatkan kembali oleh musik. Mulai sering mengorganisir gigs, sempat pula mengadakan screening film, tabling Food Not Bombs, touring band, vakansi, etc. Tentu tidak semua yang terkumpul, bisa rekat gitu saja. Ada yang timbul dan tenggelam. Hal lumrah dalam sebuah pertemanan.

Hari itu, kami kembali kumpul. Entah saya pantas menyebutnya “kembali kumpul” atau tidak. Sebab saya sendiri memang sudah tidak intens berkumpul bersama mereka. Sudah beberapa waktu belakangan ini seperti itu. Tapi dari pengakuan mereka, kami memang ternyata sudah jarang ngumpul.

Dulu, hampir setiap hari, dari pagi hingga malam sampai bertemu pagi lagi, bisa nongkrong. Namun waktu yang akhirnya menasehati kami. Membuat satu persatu dari kami menyibukan diri masingmasing.

Ada yang sibuk mencari diri, bekerja, berniaga, berkeluarga, dll.

Intensitas bertemu yang mulai memudar, yang pada akhirnya membuat waktu kembali menasehati kami untuk kumpul di hari itu.

“Kumpulah kalian. Sudah lama tak kumpul,” ujar waktu pada kami.

Saya terdiam menyimak nasehat sang waktu.

“Kumpullah. Dengan cara yang berbeda. Salah satu dari kalian sedang berproses menjadi Ayah, Istrinya sedang menyimpan karunia semesta dan sudah berjalan tujuh bulan. Kumpullah. Ikut berbahagia.”

Berdasarkan nasehat waktu. Minggu (15/1) itu kami kumpul untuk merayakan pertemanan sekaligus bertepatan dengan kehamilan salah satu Istri dari kami.

“Hujanilah pertemuan itu dengan sukacita. Sukacita yang timbul, bukan karena pengaruh alkohol. Melainkan sukacita menyambut anggota baru yang akan datang di tengahtengah kalian.”

Kami mengangguk.

Hari itu, meski tanpa Intisari dan Anggur Orang Tua, kami merasakan senang. Padahal kami hanya meneguk air jeruk kemasan, kopi hitam, dan kola.

Tak ada alunan musik yang keluar, namun jiwa kami bergoyang sebab lantunan doa yang secara bergantian dilafalkan. Doa yang keluar untuk yang sedang menanti kelahiran, rezeki pekerjaan, jodoh, dan doa untuk bisa terus berkumpul.

1484678557036
Giring (kiri) dan Nyot (kanan), Pasutri yang sedang menanti kelahiran anak pertama.

“Bukan…bukan…pertemuan ini bukan untuk mengubah kalian menjadi baik. Sebab itu terlalu muluk. Namun berharaplah bahwa ini akan menjadi sebuah tradisi baru dari tongkrongan kalian dan membudaya,” ujar sang waktu.

Biarlah harapan untuk baik, menjadi urusan masingmasing dari kami. Hanya yang pasti, hari itu terjadi untuk menyuguhkan satu tradisi baru dalam pola hubungan pertemanan kami: merayakan kehamilan.

“Sekalikali kalian kumpul untuk hal seperti ini. Sudah terlalu sering kalian memperkaya tukang jamu. Kini giliran kalian memperkaya diri sendiri dengan kebahagian atas kehamilan salah satu dari kalian,” pesan waktu pada kami lagi.

1484495729629

Waktu…Waktu… kau tidak membahayakan seperti saya duga sebelumnya. Buktinya kau sungguh bijak lagi baik. Kau menyempatkan diri mengingatkan kami, kapan harus berpisah dan kapan untuk rekat kembali. Hanya kadang kehadiranmu yang kurang dihargai.

Selamat sekali lagi, atas kehamilan Nyot, Istri dari Giring. Tak ada yang lebih membahagiakan melihat semesta menitipkan satu dari sekian banyak kesaktiannya pada seorang wanita.

Takjub!

Terimakasih semesta, waktu, dan para sahabat.

Maafkan kekurang ajaran kami selama ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s