Cerpen

Pertempuran

Pecahan barang pecah belah berserakan di lantai. Kursi dan meja terbalik. Bingkai foto tak lagi menempel mantap di dinding. Kaca berukuran 15×60 yang biasa digunakan untuk mengukur paras rupawan perharinya, kini tak berbentuk, dan ternoda oleh merahnya darah.

Kacung tersungkur lemas di antara keporak-porandaan tersebut. Nafasnya tertatih, matanya kadung sayup, darah mengucur lihai dari tangan kanannya. Pecahan kaca masih menancap setia di sela jemarinya. Aw!

Sudah sekitar 60 menit, ia seperti itu. Setelah sebelumnya gigih berperang. Perang melawan dirinya sendiri. Hingga pada akhirnya Kacung kalah telak oleh amarahnya. Tidak hanya diri Kacung yang menjadi korban dari peperangan tersebut. Seisi ruang tamu pun turut menjadi korban.

Piringpiring menjadi yatim. Kursi menjadi piatu. Kaca telah berpulang, tanpa satupun yang menangisinya. Sementara tembok tak kuasa menahan tangis, sebab ingin sekali mengumpat namun tak bisa karena bisu. Sementara itu amarah, tertawa lepas. Lalu, Kacung lemas.

“Dunia ini brengsek!” Kacung membatin dalam ketidak berdayaannya. Sisasisa amarah yang masih lekat menempel itu yang berkata. “Semua orang bangsat!”

Dalam kondisi tak berdaya, Kacung mencoba berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Dia ingin menyembuhkan lukanya. Luka yang baru saja ia ciptakan.

“Kenapa harus diciptakan. Kalau akhirnya mau disembuhkan ? Dasar bocah gendeng,” umpat gayung yang di pegang oleh tangan kiri Kacung untuk menciduk air.

“Tau tuh ?!” celetuk baskom.

“Biarkan saja luka itu menganga,” teriak keran air.

“Benar. Benar. Benar!” Sahut kerumunan air.

Tembok tak lagi menangis. Kini ia yang gantian tertawa geli melihat Kacung. Lalu di mana amarah ? Oh dia sedang relaks di teras, sembari menikmati semilir angin sore.

Kacung menyiram air ke lukalukanya. Berharap darahdarah itu segera bersih dari tangannya. Tanpa ia ketahui air yang ia gunakan, meludahi tangannya bahkan ada yang sampai mengenai tubuhnya. Sikap air itu sebagai bentuk protes atas ketololan yang baru saja Kacung lakukan.

Langkahnya gontai, jelas saja terlalu banyak darah yang keluar. Kacung duduk di salah satu sudut ruang tamu yang bersih dari pecahan kaca. Berkalikali menghela nafas panjang, supaya pikirannya tak seperti kerumunan anak STM tawuran yang tibatiba dipergoki Polisi.

Dari teras rumah, amarah menengok ke dalam rumah. Pandangannya mantap menanti mata kacung menatapnya. Lalu, mata Kacung menyambut pandangan yang datang padanya. Amarah pun langsung tersenyum manis.

***

Bukan Pasar Kuncup kalau tidak ramai. Sebagai satusatunya pasar di Kampung Cidolan, Pasar Kuncup menjadi sentra dari kehidupan masyarakat kampung dan sekitarnya. Beragam orang ada di sana. Kalau mau contoh konkret kebhinnekaan yaa di sana tempatnya.

Di tengah kepadatan masyarakat yang sibuk dengan proses tawar-menawar. Kacung berada di antaranya, seperti ada dan tiada. Wajahnya tegang, matanya nyureng, seperti sedang dalam medan perang dan berhatihari takut musuh menerjang. Ditambah nafasnya yang berdengus.

Kacung mengarah ke arah, Torix, preman pasar yang sedang asyik pesta minuman keras. Padahal matahari sedang dalam kondisi prima. Namanya juga Torix, ia seperti manusia tanpa lambung.

“Kacung!” teriak Torix menyambut datangnya sahabat. “Duduk dululah kau di sini. Tak usah banyakbanyak kau pikirkan. Sinisini duduk samping ku.”

Kacung duduk di samping Torix tanpa keluar sekatapun. “Tai kau Torix. Tau apa kau soalku. Urus diri saja tak becus. Segala kau tanya diriku,” kata Kacung dalam hati.

Torix sedikit terheran melihat tingkah temannya yang tak biasa. “Minum dululah ini Ciu Bekonang paling wahid. Asli dari Solo. Tenggaklah sedikit agar kau tenang,” ujar Torix menuangkan Ciu kedalam gelas plastik bekas air mineral yang dipotong setengah.

Kacung tak merespon tawaran Torix. “Sialan kau. Mau jerumuskan aku rupanya kedalam kehidupan mu yang kelam itu.”

Torix menepuk pundak Kacung. “Cung…Cung…,” ujarnya pelan. “Minumlah sedikit. Aku tak mau kau seperti ini.”

“Aku cabut dulu.”

Kacung melangkah pergi, Torix hanya menatapnya sambil senyum simpul dari kejauhan. Perlahanlahan Kacungpun menghilang dari pandangannya.

Kacung menyisir pinggiran pasar, tepatnya ke bilikbilik yang kalau malam menjadi sarang prostitusi. Matanya melirik ke bawah, bungkusan kondom di mana-mana. Kacung geleng kepala.

“Hai Cung,” Sapa lembut seorang wanita. “Masih juga siang, sudah mampir saja. Tak tahan yah ?”

Kacung menatap tanpa kata ke arah pemilik suara itu, Mona namanya, Pekerja Seks Komersial di tempat itu dan sekaligus teman Kacung.

Baca juga: Orang Kaya Tidak Raya

“Cung,” Tegur Mona sekali lagi. “Duduk dulu sini. Sini…sini di samping mami.” Pinta Mona dengan gaya centil khasnya.

Kacung duduk di samping Mona, tak ada kata yang keluar. Matanya menyusuri dari ujung rambut hingga kaki Mona yang seksi bagaikan Melania Trump.

“Sudahlah Cung. Tak usah dipikirkan sekali.” Suara Mona lembut membelai daun telinga Kacung. “Jamahlah aku, barangkali kamu akan tenang.”

Kacung mengernyitkan dahi. “Dasar perek. Belaga sekali tingkahmu. Kau mau jerumuskan aku kejurang penuh kehinaan sepertimu.”

Tibatiba saja tanpa dipinta, Mona memeluk erat tubuh Kacung. Bibirnya mendekat tengkuk Kacung, lalu naik hingga dekat sekali daun telinganya. “Jamahlah aku Cung. Aku rela, asalkan kamu tidak seperti ini.”

Kacung beranjak dari tempatnya duduk dan pergi begitu saja meninggalkan Mona. Langkahnya tak jelas arah.

“Woi Kacung!” teriak Saji’i. “Mampir dululah. Kita nyanyi Iwan Fals bareng lagi. Biar kau tenang.”

Kacung tak mengindahkan ajakan teman pengamennya itu.

“Satu lagu aje, Senandung Lirih,” bujuk Saji’s yang sepertinya bertepuk sebelah tangan. Kacung lenggang begitu saja, menjauh.

“Cung, jangan kaya gini lu,” teriak Saji’i dari kejauhan.

Kacung mempercepat langkah kakinya, nafasnya kembali berdengus. Seperti atlit UFC yang kena submission lawannya.

“Bang Kacung, kita main bola yuk,” Ajak Iqbal.

Kacung tak memperdulikan anak kecil itu. Langkah kakinya terus saja dipercepat. Hingga di Masjid pasar Kacung berhenti sejenak. Sepertinya ia mulai kelelahan.

“Hari macam apa ini buruk sekali. Bertemu dengan orangorang kayak gitu,” ujar Kacung dalam hatinya.

“Salam Cung,” sapa Kong Jali, marbot masjid. “Lesuh amat lu. Mandi dulu sana. Biar segeran dilihatnya.”

Kacung purapura tak dengar.

“Ambil wudhu kalau gak mau mandi, biar segar dilihat aja. Abis itu terserah mau solat atau kagak.” saran Kong Jali sekali lagi. Namun tetap tak didengar Kacung.

Dalam hati Kacung mengumpat lagi. “Aduh kong. Apapaan sih. Segala disuruh wudhu.”

“Cung, ngkong kagak bisa nglihat lu begini.”

Tidak satupun saran Kong Jali dituruti Kacung. Ia memilih kembali melalang buana. Entah apa yang dicari atau sebenarnya memang tidak ada yang sedang dicarinya.

Di tengah perjalanannya yang semakin tak jelas itu, Kong Buyung muncul sambil menenteng pancingannya.

“Biasa gua mau mancing,” sahut Kong Buyung ke arah Kacung yang tak menanyakan apaapa.

“Sini lu,” perintahnya pada Kacung. Karena Kacung tak mau mendekatinya, akhirnya Kong Buyung yang maju mendekatinya sambil memberikan ember berisi penuh umpan ikan.

“Selama masih dalam bentuk niat, pertolongan itu harus lu terima. Selanjutnya,  mau lu eksekusi itu tergantung kebutuhannya, pertolongan kayak gimana yang perlu dieksekusi. Karena kagak ada pertolongan yang buruk,” ujar Kong Buyung.

Kacung terdiam menyimak ucapan Kong Buyung, sambil kedua tangannya menggenggam ember umpan milik Kong Buyung.

“Di dunia ini, orang jahat itu langka. Kalau orang bego, banyak.” lanjut Kong Buyung. “Setiap orang, menolong sesuai dengan peran dan kapasitasnya masingmasing. Cuma kita yang kelewat bego, gak sadar itu upaya pertolongan. Yang ada kita malah berpikir sebaliknya.”

Kacung terdiam, coba memahami.

“Sekarang lu ikut gua mancing mendingan,” ajak Kong Buyung, sembari pelanpelan jalan ke arah tempat pemancingan favoritnya: sungai. Kacung mengikutinya dari belakang. Sementara amarah diam di pasar sendirian, ia relaks kembali dan menikmati semilir angin pasar yang membawa harum sayuran yang telah menjadi sampah basah. []

Depok, 23 Januari 2017

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s