Intisari

Gerbong Kereta

John Lennon on board a train, August 1967
The Beatles, Mick Jagger, Marianne Faithfull and the Mystic from the Himalayas, Maharishi Mahesh Yogi, had No. 13 platform at Euston Station in an uproar when they arrived for the 15.05 out to Bangor. The train was held up for five minutes for some of the Beatles who arrived so late that they climbed into the last door as the train moved out. John Lennon in the train. August 1967

Kalau sedang malas berkendara saya lebih memilih naik kereta api untuk sampai di tempat kerja. Selain untuk menghemat energi dan finansial. Menggunakan transportasi umum seperti ini tentu akan lebih banyak menghasilkan sebuah cerita, ketimbang sendiri di atas kuda besi.

Mengamati sekeliling adalah pekerjaan saya selama berada di dalam gerbong kereta. Menjumpai banyak orang yang rela berdesak-desakan demi sesuatu yang dituju. Semua rela berhadapan tanpa jarak, walaupun perasaan risih tentu saja ada. Namun arogansi seperti terpendam begitu saja, tidak ada yang merasa paling penting dari yang lain sehingga perlu dikhususkan (kecuali para ibu hamil, lansia, dan difabel). Semua orang merasa penting tanpa harus dipentingkan.

Dalam satu perjalanan pulang dari Stasiun Palmerah menuju Stasiun Depok, saya menjumpai beragam orang. Saya bertemu dengan pegawai kantoran berpenampilan necis, petugas cleaning service, pedagang, anak muda dengan seragam FPI, bapak-bapak yang bekerja di sekretariat PDI-P, remaja K-Pop, metalhead berkaos Seringai, Arab, Cina, Jawa, Papua, tubuh yang wangi parfum, tubuh yang wangi bawang, dan masih banyak lagi. Mereka semua berada dalam jarak yang teramat dekat hingga nafas bisa terdengar, terkumpul di dalam satu gerbong yang sama, demi satu kepentingan yang serupa tapi tak sama yakni untuk sampai ditempat tujuan.

Siapapun saling memberi ruang bagi yang hendak masuk dan memberi celah bagi yang hendak keluar. Tidak ada satupun yang memaksakan khendaknya untuk turun di stasiun secara bersamaan. Semuanya saling memberi kesempatan untuk bisa turun di stasiunnya masing-masing. Semua bebas naik dari mana saja dan turun di mana saja, sesuai dengan khendaknya. Seperti telah menandatangani perjanjian bahwa kita semua yang di dalam gerbong harus saling menghargai satu sama lain. Tentu saja, mereka tidak melakukan itu, semua mengalir begitu saja seperti sudah hukum alam.

Gerbong kereta seperti miniatur kehidupan yang penuh kedamaian. Berbagai macam orang berkumpul, berbagi tempat yang sempit dan tak nyaman dan tidak peduli pada tujuan orang lain kecuali pada tujuannya sendiri. Saya menduga John Lennon semasa hidupnya sering menaiki kereta ekonomi jurusan Maja-Jakarta Kota.

Di gerbong kereta yang hanya sepersekian waktu itu bersemayam nilai kebhinnekaan dan toleransi di dalamnya. Sialnya hanya sementara, hal-hal yang indah semasa di gerbong kereta, luluh lantak tak tersisa. Setelah keluar gerbong maka kegilaan dunia ini berlanjut. Kita semua sibuk mengurusi tujuan orang lain, bahkan memaksakan untuk satu tujuan.

Jika boleh, saya tidak mau keluar dan memilih hidup di dalam gerbong selamanya. Tapi sayang di dalam gerbong tidak ada yang menjual rokok. Lagi pula merokok di dalam gerbong itu dilarang.

Depok, 31 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s