Intisari

Bekerja Menjaga Doa

img_1072
Ilustrasi. Sumber: huelorenzostan

Sudah sejak SMA literatur anarkisme mengetuk pintu hidup saya, yang lantas membawa decak kagum dalam perjumpaan pertama. Seorang anak SMA kedatangan tamu yang tak diprediksi akan hadir di hidupnya, tamu yang membelalakan matanya. Yha, pandangan-pandangan anarkisme membawa sorotan mata saya kepada hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dijumpai.

Anarkisme singgah dalam ruang tamu hidup saya. Mulai menuturkan pengalamannya. Saya dijejali oleh berbagai kejahatan nan kondisi pelik dunia. Tentang bagaimana kapitalisme begitu lihai dan sistematis menjerat leher kita semua, isu rasial, pertentangan kelas, konsep kebebasan dan kesetaraan, serta berbagai aspek lainnya. Walaupun, tidak semuanya bisa saya pahami pun amini.

Semenjak kedatangan anarkisme, kehidupan saya bisa dikatakan ada yang berubah. Terutama melihat bagaimana kapitalisme mencoba membuncitkan perutnya terus menerus di atas aliran darah kaum papa dan di sela-sela tulang kerontang kaum marjinal. Saya tumbuh sebagai bocah yang selalu mengernyitkan dahi, bilamana bersinggungan dengan prinsip kerja kapitalisme.

Apalagi ketika saya harus kerja formal. Tak henti saya mengutuk diri sendiri, bagaimana bisa saya terjerembab dalam perangkap yang dibuat para kapitalis itu. Saya terus sesumbar, mengumpat dalam diam, kadang menulis esai. Ketika itu, pergulatan hebat terjadi dalam diri.

Terlebih ketika saya menyadari apa yang saya hasilkan tidak sebanding dengan yang didapat dari perusahaan. Saya menghasilkan income yang banyak untuk perusahaan, namun hanya mendapat sekian persen yang sedikit dari jumlah pendapatan yang banyak itu. Saya merasa telah dibodohi, ada yang tidak masuk akal terjadi. Hingga akhirnya saya merasa beruntung bisa segera resign.

Beruntung ? Ketika itu saya beranggapan demikian.

Tahun demi tahun berlalu, kapitalis semakin berkuasa dan perutnya terus membuncit. Mereka meresap dalam setiap lini kehidupan ini, bahkan menguasai alam bawah sadar kita semua. Jeratannya begitu erat, seperti seakan mustahil untuk di lawan, apalagi dibinasakan.

Dalam jeratannya, saya sempat megap-megap dibuatnya. Langkah tertatih. Pandangan hidup menjadi suram. Serasa ingin lepas tapi tak ada daya. Serasa ingin menikmati, namun batin bergejolak.

Semakin di lawan, semakin saya letih. Tak di lawan, saya gelisah. Hingga pada satu fase, saya memutuskan untuk berdamai dalam situasi dan kondisi. Saya menyadari, terus di lawan akan menguras tenaga. Tapi jika tidak di lawan, maka akan banyak darah terkuras. Maka dari itu saya memilih berdamai untuk menenangkan diri, sembari menyusun strategi lagi.

Dalam proses berdamai pada diri sendiri, perut saya terus keroncongan. Saya harus mengisinya, namun apa daya tidak punya uang. Maka saya harus bekerja. Tapi saya sudah kadung malu pada diri sendiri, sebab pernah mengumpat kerja formal ketika dulu. Dilain sisi saya menyadari tidak (atau lebih tepatnya, belum) memiliki potensi berniaga.

Saya sempat bersikeras untuk tidak terjerembab dalam perangkap kapitalis yang sama. Tapi saya lupa, bahwa sedang dalam kondisi berdamai. Sudah seharusnya tidak ada genjatan senjata antara kami. Keputusan dibuat, saya akan bekerja formal kembali. Namun langkahnya tidak semudah yang saya bayangkan. Ditolak berkali-kali adalah santapan. Sepertinya saya memiliki hobi baru yakni melamar pekerjaan.

Saya sampaikan keluh kesah ini kepada orang tua. Singkat cerita mereka menyuruh saya bersabar. Hingga awal 2017, saya bisa menjadi pegawai dengan proses tak terduga sekaligus mudah. Satu persatu ucapan yang keluar dari tamu anarkisme ketika dulu muncul lagi. Namun saya urung dengarkan, sebab saya masih dalam proses berdamai. Haram mengasa pedang.

Dalam posisi saat ini menjadi pegawai. Saya menghindari mengumpat pekerjaan, sebisa mungkin untuk bersyukur. Justru saya cenderung giat dalam bekerja, serasa bersalah jika mangkir dari tanggung jawab. Bukan lantaran saya berkompromi dengan dunia dan sistem yang keji ala kapitalisme. Melainkan -mungkin hal ini akan terkesan aneh-, untuk menjaga doa-doa baik yang datang dan membantu saya.

Saya meyakini doa itu bukan berasal dari saya, sebab tidak mungkin manusia penuh dosa ini bisa mendapat pengabulan doa dari semesta. Saya taksir, kemungkinan terbesarnya datang dari Mama dan Papa serta orang-orang di sekitar saya. Berkat doa mereka, perut ini bisa terisi dalam keadaan sedang berdamai. Sembari pelan-pelan menyusun strategi kembali.

Yha, saya kembali menjadi pegawai formal. Bekerja sebaik mungkin untuk menjaga doa terbaik. Yang kemudian menjadi tonggak niat. Sebab selama dua puluh tahun lebih menjalani hidup, saya terlalu sering menciderai doa, khususnya doa orang tua.

Kalian mau tau bagaimana rasanya menciderai doa orang tua ? TIDAKLAH NIKMAT SAMA SEKALI.

Kalian bisa anggap saya sedang berbohong dan merasakannya sendiri. Jika berkenaan, berbagi cerita dengan saya.

Depok, 9 Februari 2017

(Ditulis dalam kondisi batin yang bahagia, karena habis mendengarkan musik bagus dan bertemu orang kecil yang mengagumkan)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s