Cerpen

Larut Dalam Kebahagian

1487105624_987a974858
Ilustrasi: goresanamburadul.blogspot.co.id

Siang yang panas itu, membuat orang dewasa memilih berteduh di dalam ruangan berpendingin, di bawah pohon teduh, atau tenda-tenda pinggir jalan. Sebisa mungkin untuk terhindar dari belaian sinar matahari. Beberapa dari mereka bahkan menghujat kondisi yang menyengat itu. Tak tahan sebab badan menjadi lengket.

Curik, bocah kecil berusia lima tahun justru menantang matahari. Tanpa alas kaki, langkahnya melintas padang aspal dengan mantap. Kepalanya yang berambut tak lebat pun, tak bertopi. Curik mengizinkan ubun-ubunnya untuk dibelai sinar matahari secara langsung tanpa perantara apapun.

Kadang langkah Curik menjadi lari, mengejar layang-layang yang putus. Terkadang langkahnya terhenti, memperhatikan kucing yang tengah berreproduksi. Curik melakukan berbagai hal di bawah sengatan matahari. Tak peduli ketiaknya sudah banjir. Kepalanya bau sangit. Senyum sumringah tak pernah lepas dari wajah mungilnya.

Tiba-tiba saja awan mendung datang. Matahari yang berseri harus pamit undur diri. Kerumunan orang dewasa itu berbahagia. Satu persatu keluar dari persembunyiannya. Jalan-jalan mereka kuasai kembali.

Curik melongok ke arah awan. Matanya berbinar-binar, hingga air mata keluar bergitu saja. Seorang Pak Tua menghampirinya, lalu bertanya gerangan apa yang membuatnya bersedih.

“Awannya sedih di tinggal matahari,” jawab Curik polos. “Kemana matahari yang berbahagia itu ?”

Pak Tua gagap tak tau harus menjawab apa. Hanya senyum yang bisa diberikan pada Curik.

“Kenapa mereka justru bahagia ?” tanya Curik sambil menunjuka ke arah kerumunan orang dewasa.

Lagi-lagi Pak Tua hanya menjawabnya dengan senyuman. Lalu meninggalkan Curik begitu saja.

Bulir-bulir gerimis berdatangan. Jumlahnya yang belum banyak, namun sanggup membubarkan kerumunan orang dewasa itu. Hingga satu persatu dari mereka kembali mencari tempat untuk berteduh. Mereka kembali menghujat. Sebab tak mau dress mahalnya terkena percikan air kotor, sepatu bersihnya terkena becekan, dan rambutnya yang rapih menjadi acak tak karuan.

Curik melempar senyum, menyambut bulir gerimis yang pelan-pelan berganti menjadi hujan lebat. Langkahnya menjadi liar. Lari kesana dan kesini. Bermandikan pancuran rumahan. Merosot di atas lantai, layaknya pencetak gol sepakbola. Curik bertelanjang dada.

Melihat Curik bermandi air hujan. Pak Tua langsung mendekati Curik. Dia takut Curik sakit. Tanpa permisi, Pak Tua menyuruh Curik menghentikan aksinya.

“Hujannya bertenaga. Mereka bersemangat sekali,” jawab Curik dengan penuh kepolosan. “Aku mau berada dalam kebahagian ini. Sudah lama mereka bersedih.”

Seperti sebelumnya. Kalian tau apa yang dilakukan Pak Tua bukan ? []

Depok, 15 Februari 2017

(Ditulis dalam kondisi selesai mandi dan mendapati hujan turun dengan lebat. Sambil mendengarkan Ebiet G. Ade, Warpaint yang besok mau tur ke Indonesia (ah mereka centil sekali. Gemas!), dan Of Monsters and Men yang hhmmm.. Saya kira vokalis mereka Bjork)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s