Intisari

Majelis Sosial Media

kota-kinabalu-city-mosque-corporate-art-task-force
ilustrasi dari google

Satu waktu, selepas bangun tidur panjang yang melelahkan. Saya terbangun dalam kondisi terserang kebosanan. Terbesit untuk segera melakukan perjalanan, guna menghibur diri juga melepas penat. Saya mulai bergegas. Hingga sampailah saya pada satu gapura selamat datang. Langkah semakin optimis. Perlahan saya melewati gapura dengan perasaan berbunga-bunga, sebab mau liburan.

Tiba-tiba kerumunan orang yang entah dari mana datang menyambangi. Mereka menanyakan tujuan, kemudian saya jawab mau liburan. Dilanjut lagi bertanya mau liburan kemana, saya jawab kemana saja yang penting liburan. Setelah dua pertanyaan serupa mereka keluarkan, saya dirundung pernyataan  beragam. Mereka mencoba merekomendasikan tempat tujuan liburan yang terbaik versi masing-masing.

Mereka sangat riuh sekali, tak ada satupun yang mau mengalah, semua merasa punya tempat liburan yang asyik. Saya punya masalah baru, yaitu kebingungan. Beruntung sekali saya, di tengah banjir liur mereka yang bau tengik. Mata saya masih menangkap papan bertuliskan ‘Pusat Informasi Turis’, tempat yang seharusnya saya tuju untuk mengakhiri kebingungan ini.

Berbagai cara saya kerahkan untuk keluar dari kerumunan orang yang tak mau berhenti menawarkan ini dan lekas menuju tempat informasi. Tak semudah yang saya kira ternyata, mereka seakan menghalangi langkah dan membiarkan saya menjadi orang yang bingung. Padahal saya ini mau liburan, bukan mau kebingungan.

Empat paragraf di atas adalah analogi untuk kondisi saat ini.

Di mana tak sedikit orang saat ini yang seakan membuka majelis sendiri-sendiri di timeline Facebook, Twitter, Instagram, Path, Youtube, dll. Memberikan sesuatu yang menurut mereka baik untuk di sebarkan kepada khalayak sosial media. Sehingga mereka luput memperhatikan efek dari apa yang mereka sebarkan. Bahkan celakanya, mereka tak sadar konteks ruang. Mereka mabuk kebaikan. Padahal mereka tau, mabuk adalah hal yang paling dilarang dalam agama.

Mereka seperti gerombolan orang yang ada dalam cerita saya di atas. Niat awalnya memang baik, ingin menawarkan tempat berlibur kepada seorang turis. Sayangnya mereka lupa, dari sebegitu banyak tempat yang mereka rekomendasikan, ada satu tempat yang seharusnya mereka sarankan kepada turis, tempat yang kompeten sebagai rujukan berlibur. Tempat itu ialah Pusat Informasi Turis.

Sosial media bukan tempat yang tepat untuk membahas ketuhanan dan syariat agama. Kecuali untuk membahas akhlak dan budi pekerti. Karena ada majelis ta’lim, pesantren, atau tempat lain yang didampingi oleh mursyid, tempat yang seharusnya menjadi muara belajar itu semua. Ketimbang majelis sosial media, yang memiliki ruang sempit dan pemahaman terbatas.

Majelis sosial media, walau terkesan baik. Alih-alih menimbulkan pelajaran yang berfaedah, majelis sosial media justru membuat ketegangan, sekaligus paradoks bagi para penjelajah baru.

Biarkanlah para penjelajah baru atau turis itu melangkah menemukan Pusat Informasinya sendiri. Sesuai dengan tuntunan khendak pribadinya.

Sejauh ini saya masih meyakini bahwa sesuatu yang berharga bagi kita, tidak pernah diletakan di tempat terbuka dan mudah dijangkau orang lain. Melainkan tersimpan di tempat yang layak, rahasia, dan hanya ada beberapa orang yang kita khendaki untuk mengetahuinya.

Begitupun dengan agama.

Depok, 26 Februari 2017

(Ditulis sembari ditemani Maudy Ayunda yang lagi keasyikan melantunkan “Jakarta Ramai”. Indah sekali!)

p.s. maaf! kalau seorang kafir seperti saya tidak layak menulis tentang ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s