Intisari

Tukang Tambal Kebaikan

Jpeg
Ilustrasi oleh Google yang baik

Ada-ada saja kalau semua hal memang dilakukan secara terburu-buru. Kemarin sore ketika sedang asyiknya berbalas pesan dengan seorang teman, saya memutuskan untuk segera menemuinya.

Diperjalanan dengan motor bebek pembelian orang tua yang nilai perjuangannya tak terhingga itu, saya melaju dengan penuh perasaan ingin berjumpa. Tekstur jalanan yang berlubang dan tak rata, saya libas begitu saja. Seperti orang yang mau mengambil gaji, kalau kata pepatah klasik.

Efeknya ban motor pun bocor. Beruntung tukang tambal ban lumayan dekat. Dijaga oleh seorang Pak Tua. Dengan ramah dia menyapa lalu melayani sampai selesai. Ketika hendak membayar, masalah sesungguhnya dimulai. Uang di saku celana hilang entah kemana.

Saya memilih diam sejenak, menenangkan diri sambil mencari cara untuk berkata jujur kepada Pak Tua. Melihat ototnya yang kekar, sedikit perasaan takut muncul. Takut kalau Pak Tua tak terima lalu saya ditimpuk ban bekas. Tapi ini tak bisa dibiarkan begitu saja, tak ada cara lain selain berkata jujur padanya.

Saya menghela nafas panjang, sambil mengingat-ingat trik muaythai yang pernah seorang teman ajarkan. Jaga-jaga untuk kemungkinan terjelek yang nanti akan dihadapi. Dengan sedikit berbisik, saya bilang pada Pak Tua bahwa uang saya hilang. Tidak bisa membayar jasanya. Wajahnya yang tegas, tersenyum mendengarnya. Mungkin beliau masih belum percaya, kembali saya tekankan bahwa uang saya hilang. Barulah beliau bereaksi, wajahnya mendadak serius. Saya menantikan apa yang hendak ia katakan.

Cukup ada jeda kosong tanpa dialog antara saya, sebelum akhirnya Pak Tua berkata, “Oh yaudah, kalau begitu. Gapapa Mas.”

Saya yang gemetar seketika lemas. Tanpa banyak menunggu lagi, saya ambil tangannya untuk disalami sambil mengucap terima kasih.

“Terimakasih pak. Bapak sudah mau menolong saya,” ujar saya, seraya hendak pergi.

Pak Tua menjawab, “Saya yang harusnya terimakasih. Mas yang justru menolong saya.”

“Tolong apanya. Saya bikin rugi gini.”

“Mas sudah menolong saya untuk menjadi manusia.”

Di tengah tak sedikit orang yang sudah merasa menolong orang lain, Pak Tua yang sudah membebaskan saya dari biaya tambal ban justru merasa bahwa sedang ditolong. Saya pergi meninggalkan bengkel tambal bannya dengan sebuah pembelajaran yang dahsyat.

Jangan-jangan selama ini, saya yang mengira telah banyak menolong orang, padahal tidak sama sekali. Justru malah sebaliknya, saya lah yang di tolong mereka semua.

Pak Tua hebat! Semoga dilancarkan nafasnya.

Depok, 01 Maret 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s