Intisari

Otokritik Pengemis

India Daily Life
Ilustrasi oleh blogs.ft.com

Perpaduan debu jalanan dan terik matahari menjadi aroma tubuh yang khas dari Pak Tua itu. Wanginya samar oleh hujan yang mengguyur Cinere sore itu. Sembari duduk bersandar tembok A&W dia asyik mengulur cerita masa lalunya. Saya duduk sejajar menikmati satu persatu kisahnya.

Sebelum terdampar disudut pertokoan seperti saat ini, Pak Tua itu dulunya nelayan yang menetap di Cirebon. Ayahnya yang memperkenalkan pada aktivitas laut sejak usianya menginjak belasan. Hujan diselingi petir yang mewarnai langit sore itu, jelas sudah biasa baginya. Sebab dirinya pernah merasakan hal yang sama, namun di tengah laut lepas. Di mana jarak pandang tak sampai setengah meter. Gelombang bisa setinggi tembok orang kaya, ditaksir dua meter lebih. Angin yang dahsyat dan rasa mual yang tak tertahankan.

Ditambah lagi cerita soal perjalanannya dari Indramayu menuju Kalimantan melalui jalur laut. Kurang lebih selama tujuh hari, dia dan dua orang kawannya berada di kapal yang cukup besar. Hal yang tak biasa, karena mereka selalu menggunakan kapal kecil sebelumnya. Tanpa mesin, mereka harus saling bergantian mendayung.

Kini usianya mungkin lebih dari setengah abad. Sudah tak mungkin lagi kembali menjadi nelayan. Bukan soal usia. Melainkan kaki kirinya yang buntung. Entah apa penyebabnya, saya tak ingin menanyakan dan dia sepertinya tak tertarik akan hal itu.

Pak Tua buntung itu menetap di Gandul. Jaraknya lumayan dari tempat kami berbincang. Lumayan untuk dilalui dengan kaki satu dan tongkat penopang badan. Dirinya harus melewati turunan dan tanjakan. Dia mengakui lebih mudah menanjak, ketimbang turun. Apalagi kalau sedang hujan, jalanan licin. Saya tak sanggup membayangkan bagaimana tangguhnya Pak Tua ini.

Gandul-Cinere sudah menjadi bagian dari hidupnya beberapa tahun belakangan ini. Namun tak sekalipun merasa letih. Sehari-hari ia habiskan bermain di sekitar Cinere, bukan untuk mengemis atau mengharap iba.

“Saya tidak mau keliling. Malas. Capek,” ujarnya. “Lebih baik di sini. Mau dikasih syukur, gak dikasih yah tidak apa-apa.”

Sebab memang tujuannya mendamparkan diri di sana bukan untuk mengemis dan mengharap iba. Lebih kepada jenuh diam di rumah, lagi pula tak enak dengan warga rumah yang lainnya juga.

“Apalagi kalau sampai harus meminta dan sampai mengikuti orang lain untuk diberi uang,” tegasnya lagi. “Saya yakin kalau orang itu dari hatinya ingin memberi, pasti langsung menuju ke saya. Tanpa harus saya berbuat apa-apa.”

Sekilas saya teringat sabda Nabi Muhammad, “Orang miskin paling tercela yang berdiri di depan pintu penguasa.” yang saya kutip dari buku Fihi Ma Fihi karya Jalaluddin Rumi. Dalam kasus Pak Tua, penguasa saya artikan sebagai orang yang mempunyai uang lebih darinya. Dan Pak Tua bukan bagian yang tercela, menurut saya.

Pak Tua kembali menutur kisahnya menjadi nelayan dulu. Pernah satu waktu, Ayahandanya berpulang kepangkuan semesta. Sehingga dirinya harus berjuang sendirian, mengarungi laut. Sejak itu pula kehidupannya mulai surut. Bahkan ada satu fase yang sampai sekarang terkenang, fase di mana keluarga menjadi teman dan teman menjadi keluarga.

“Bahkan teman itu yang lebih-lebih dari keluarga.”

Entah bagaimana kemudian dirinya menanggalkan status nelayan dan menetap di Gandul. Saya tak tau dan tidak ingin menanyakan hal itu, sebab Pak Tua pun seperti tak mau menceritakannya. Pengalamannya bergaul dengan lautan mendominasi perbincangan sore itu. Tanda bahwa memang hal itu yang menurutnya layak untuk dibagikan pada saya. Ketimbang kisah kakinya dan kepindahannya ke Gandul.

Pertemuan yang tak terduga dan bernas. Membuat hujan dan petir serasa bertambah nikmat. Saya selalu senang jika dihadapi dengan pertemuan semacam ini. Entah saya merasa lebih bernutrisi saja.

Depok, 02 Maret 2017

(Ditulis disela-sela rehat membaca Totto-chan yang aduhai lucu nan menggemaskannya.)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s