Intisari

Jodoh Sebuah Paradoks

jodoh-di-tangan-tuhan
Ilustrasi oleh Vayerartgallery

Malam itu saya pulang lebih telat dari biasanya dari tempat kerja. Sebab hujan yang asyik turun menyapa bumi. Sementara saya tak enak hati menegur hujan untuk berhenti, lagipula memang tak bisa.

Cukup intim hujan bercengkerama bersama bumi, hingga pada akhirnya lelah dan memutuskan berhenti. Saya melangkah ke Stasiun Pal Merah dengan tergesa-gesa, pertama karena ingin segera sampai rumah dan kedua karena takut hujan masih rindu bumi.

Karena langkah yang cepat itu, saya memutuskan untuk rehat sebentar di warkop dekat Pasar Pal Merah. Memesan kopi, menikmati kretek, sambil melihat music video Tegan and Sara di Youtube. Saya suka MV mereka untuk lagu “Stop Desire”, bermain semiotika yang mumpuni. Sehingga pesan yang vulgar menjadi elegan. Nicki Minaj harus belajar banyak pada duo indie pop itu, ketimbang repot-repot memperlihatkan payudara dan pantatnya yang besar.

Tiba-tiba saja, telinga saya tanpa sengaja menangkap obrolan seorang anak muda dengan Mbak penjaga warkop. Sepertinya anak muda itu adalah adik dari Mbak penjaga warkop. Mereka terlibat perbincangan seru dan dengan topik yang selalu relevan: percintaan.

Sang adik yang baru tiba di Jakarta beberapa waktu lalu, sedang “diintrogasi” perihal hubungan cintanya dengan beberapa perempuan. Sang kakak sibuk menanyakan kabar beberapa nama perempuan dan satu nama lelaki -mungkin sahabat kental adiknya.

“Terus mau nikah usia berapa ?” tanya sang kakak.

“Jodohnya belum ada.”

“Cari dong.”

Sang adik hanya mengangguk, entah sebagai isyarat apa.

Saya yang tak enak karena menguping pembicaraan mereka. Kembali menyibukan diri dengan Youtube. Ada berita tentang Dr. Zakir Naik yang mau ke Indonesia, saya baru tau ternyata beliau itu orang hebat dalam dunia Islam abad kini. Banyak yang mendukung kehadirannya ke Indonesia. Saya skip berita tersebut, karena tak terlalu menarik. Saya lebih memilih membuka beberapa video klip Dewa 19 era Once. Sebab rindu dengan Bunda Maia yang menjadi backing vocal pada beberapa lagu.

Sayup-sayup telinga saya kembali menguping obrolan kakak-adik itu lagi. Aduh! Kini sang adik lagi mendapat siraman rohani. Saya tak enak hati mendengarnya, namun kadung terdengar.

“Makanya kamu yah berubah. Mau sampai kapan begini terus ? Mana ada yang mau nanti,” Sang kakak menasehati.

Pelan-pelan saya mengambil gelas kopi sebagai akal-akalan untuk melihat wajah sang adik. Wajahnya datar, sepertinya sedang larut dalam nasehat.

“Pasangan kita adalah cerminan kita loh,” Sang kakak kembali menasehati. “Kalau kita baik, pasangan kita pun baik. Begitu sebaliknya.”

Arah pembicaraan yang semakin mendalam, membuat saya tidak enak hati berada di sana. Mau bayar dan langsung pergi, tapi mereka sedang serius sekali. Saya terjebak dalam situasi yang tidak saya khendaki. Yasudah dari pada dilawan, saya lemasin saja. Maksudnya, saya terima saja bagaimanapun keadaannya.

“Tapi,” Seorang pria tiba-tiba ikut nimbrung obrolan mereka, datangnya dari ruang belakang yang tertutupi tirai berbahan spanduk partai. Saya duga, pria itu suami kakaknya. “Bagaimana caranya untuk tau kita ini baik atau tidak ?”

“Yah lakukan saja yang baik-baik, supaya kita jadi orang baik juga,” jawab Sang Kakak, yang juga istrinya.

Lho, yang baik menurut kita kan belum tentu baik menurut-Nya. Begitu juga sebaliknya,” timpal Sang Suami. “Bagaimana kalau ternyata kita hanya merasa baik dan justru malah sebaliknya menurut-Nya ?”

“Menurutnya siapa, Mas ?”

“Yah, dia yang menurunkan hujan supaya bisa bertemu bumi.”

“Oalah Mas, ora mudeng aku.”

Karena menurut saya, suasannya bertambah tegang walaupun dikemas santai. Saya beranikan untuk lanjut ke Stasiun. Lagi pula kopi dan kretek pun sudah habis. Sambil membayar beberapa rupiah, saya tengok wajah anak muda itu. Senyum kecilnya muncul malu-malu, rupanya dia merasa ada yang bela. Eh, entahlah. Mungkin senyum itu, isyarat yang lain.

Baca juga: Lapar

Oh yha, sebelum berangkat tadi saya menyimak Honne yang akhir pekan ini akan ke Jakarta. Kok, saya merasa biasa saja. Saya lebih tertarik melihat trailer Bid’ah Cinta. Film itu potret kisah asmara saat ini.

Depok, 09 Februari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s