Intisari

Sarjana Tanpa Kampus (Bag. II)

art-pettigo-railway-station-jr0101
Ilustrasi oleh Joe Ryder

“Duduk di atas aje,” perintahnya pada saya yang jongkok di depannya. “Enjoy aje.”

Alasan saya tidak mau mengisi bangku panjang yang kosong di sampingnya. Lebih dikarenakan sungkan. Sebab sedari berseragam putih-biru, namanya selalu santer saya dengar sebagai sosok preman yang disegani. Saya pun sering mendengar kisah tentangnya dan gerombolannya yang tak jarang membuat bergidik. Namun karena dia yang menyuruh saya untuk pindah tempat, saya pun lekas berubah posisi.

Setelah bertahun-tahun hanya mendengar namanya, nyaris seperti legenda Stasiun Depok Baru (Stadebar). Kini saya bisa melihatnya dari dekat, sekaligus bercengkerama santai. Kulit kecokelatan membungkus tubuh yang kekar. Tato dilengan kirinya yang berotot tersingkap di balik lengan kemeja kotak-kotak. Dia tampil begitu necis sore itu.

Mulutnya sibuk menutur cerita seputar aktivitasnya di Stadebar. Entah sudah berapa banyak anak buahnya hingga sekarang. Entah berapa pula, masalah yang dia hadapi hingga hari itu. Yang pasti, dirinya bisa terganggu pada hal-hal yang tak melalui/sesuai prosedural.

Beberapa waktu lalu, dia bercerita, sempat dipanggil menghadap oleh salah satu orang. Kemudian belum apa-apa, orang tersebut sudah berbicara dengan nada tinggi, membentak dan memukul meja.

“Entah kenapa gue selalu semangat kalau digituin. Tapi gue diemin dulu, mau tau apa yang dia mau. Weissttt…. Semakin jadi nih. ‘Oh lu mau duit’ dalem hati gue. Bilang kek baik-baik. Pake marah segala. Gue suruh anak-anak tutup pintu dan gerbang dari dalam….”

Saya tidak tau apalagi yang selanjutnya terjadi pada mereka. Dia memang sangat prosedural, setidaknya itu yang saya tangkap dari setiap pembahasan yang dimulainya.

“Kalau orang kagak bisa diajak sosialisasi, yaudah parangisasi,” katanya sambil ketawa. “Kagak diajarin di sekolah tuh.”

Yah, semua hal memang harus sesuai prosedur yang berlaku. Entah itu ditatanan atas, tengah, bahkan jalanan sekalipun. Tak bisa ditampik kalau kita hidup berdampingan satu sama lain, dengan tata cara dan aturan yang tersedia. Ketiadaan aturan pun adalah aturan juga. Saya cukup memaklumi kalau dia tak menyukai orang-orang yang tak sesuai prosedur.

Sebatang rokok di bakarnya untuk memberi sedikit kabut kecil di pojokan Stadebar yang ramai. Cuaca mendukung sekali untuk menyimak ceritanya, sebab hujan turun pelan-pelan mengantar rezeki pada bocah ojek payung yang bersiaga menanti calon pengguna jasa. Para pedagang sibuk menjaga dagangannya dari air hujan dan angin. Hanya penjaga parkiran yang tenang tanpa payung apalagi jas hujan, tenang menjaga motor-motor yang parkir.

“Pake payung!” teriaknya. “Awas mati lu!”

Baca juga: Sarjana Tanpa Kampus (Bag. I)

Stadebar telah banyak perubahan dari pertama kali saya ke sana. Berbagai pembangungan Kota Depok pun kian gencar, membuat wajah Stadebar dan terminal pun berubah. Hal yang tak terlalu menyoalkan baginya, asalkan perkembangan kota yang pesat ini mampu memberi penghidupan untuk warga di sekitarnya.

“Setidaknya untuk empat kampung yang dekat dari sini deh,” ujarnya. “Beberapa bocah kampung sini, ada yang gue pekerjakan di parkiran, ITC, D’mall, Apartemen Margonda, toko-toko. Rata-rata gue yang maju ke atas. Buat apaan sekolah tinggi kalau bikin pengangguran.”

Namun biarpun sudah begitu, stigma masih saja dilekatkan pada dirinya. Kadang ada saja yang bilang dirinya begini dan begitu namun dia tak mau ambil pusing.

“Makanya pada belajar lihat orang dari hati baru ke mata. Jangan dari mata baru ke hati.”

Dia pun termasuk yang percaya bahwa semua orang sudah memiliki perannya masing-masing di dunia. Biarlah berjalan berdampingan, meski harus menuai dinamika yang tak mengenakan.

Belum lama ini, ada seorang pemuka agama yang mendapatkan teror dari orang tak dikenal. Membuat pemuka agama tersebut was-was untuk menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Dia dan kawan-kawannya yang pada akhirnya turun tangan.

“Gue bilang ke dia, ‘Bib ente lanjutin aje ngaji. Kan yang tukang ngaji ente. Biarin ini kita yang ngurus. Kan yang tukang pukul kita’ Semua orang sudah ada bidang dan porsinya masing-masing. Gapapa.”

Saya tertawa. Baru kali ini saya mendengar hal yang seperti ini.

Matanya menyorot perlahan Stadebar. Senyumnya tak pernah lepas dari wajahnya yang terkesan garang. Dia sedang menunggu orang yang akan memalaknya. Saya pun terheran-heran, masa orang sekaliber dia masih dipalak juga. Pun menjadi penasaran dengan wujud orang yang bisa memalak dirinya.

“Gua panggil mereka panglima,” sambil menunjuk ke arah anak-anak kecil yang asyik main bola di tengah gerimis. “Biasanya nanti dia dateng ke gue, minta duit buat jajan. Nah tukang palak gue dia-dia pada tuh.”

Perjumpaan yang bernas, karena tidak mengurangi rasa sungkan, segan dan justru malah menambah rasa hormat pada sosoknya. Apa yang semua diceritakannya benar-benar membuat saya kembali bergidik kali itu, namun dengan kesan yang berbeda dari sebelumnya.

Warung kelontong yang kami jadikan tempat nongkrong, seakan menyamar bagaikan ruang kuliah. Saya mahasiwa dan dia adalah dosennya -sekaligus merangkap Sarjana Humanis.  Oh, apa jangan-jangan saya memang sedang berada di Universitas Stadebar ?

Depok, 20 Maret 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s