Intisari

Punk Secuil Perangkat Kehidupan

punk-sebuah-way-of-life-joe-strummer
Sebuah mural Joe Strummer vokalis The Clash. (art: NN)

Ketika itu punk menjumpai satu persatu teman saya di era berseragam putih-biru. Membuat mayoritas lingkaran pertemanan kala itu bersahabat dengan punk. Hingga satu saat punk menjumpai saya dengan wajah musiknya. Saya menyelami beberapa band mulai dari Marjinal hingga Greenday, Domestik doktrin hingga Suicidal Tendencies, Thinking Straight hingga Minor Threat. Tenggelam dalam musik meski peduli setan apa yang mereka suarakan.

Punk yang mengantarkan saya pada sebuah pertunjukan di Balai Rakyat Depok 2, yang kala itu didominasi kawula muda serba hitam, monkey boots, mohawk dimana-mana, alkohol bertebaran, bau keringat, dan dansa keras/moshing. Sebuah awal di mana saya mulai berani menjumpai beberapa pertunjukan di luar Depok, untuk sekedar melihat hal serupa di tempat berbeda.

Kemudian punk menampilkan wajah lainnya pada saya, masih dalam paras musiknya yang kasar, kuat dan tanpa tedeng aling-aling. Saya tidak lagi menjadi penonton, melainkan pemusik. Melakoni sebagai anak band yang kami sepakati bernama CBA (Sebelumnya Comeback Attack). Punk mengajari saya berjejaring hingga akhirnya bisa melangsungkan tur ke beberapa kota di Pulau Jawa. Mendapatkan teman lintas kota hingga negara. Perkenalan dengan metode merekam musik di sebuah studio, menduplikasinya dalam bentuk cakram padat dan kaset pita, kemudian mempromosikannya pun diajarkan oleh punk.

Dalam waktu yang bersamaan dengan itu semua, punk menampilkan wajah lainnya. Kali ini berbeda dari sebelumnya, diluar musik. Punk memperkenalkan saya pada literasi alternatif, yang mereka sebuat zine. Pasca lulus seragam putih abu-abu saya menerbitkan beberapa zine cetak: Bungkam Suara yang mencapai edisi keempat dan Another Space yang mencapai dua edisi. Sebelum pada akhirnya pindah haluan bermain media daring dengan nama Lemarikota Webzine.

Punk mengajarkan saya sebagai pelakon media. Meski dalam taraf komunitas, saya sudah pernah mengemban jabatan sebagai editor in chief, reporter, sekaligus marcomm. Mewawancarai beberapa pegiat musik yang sekarang namanya melambung, datang ke sebuah konser skala menengah, saya lakoni seadannya. Hingga ketika itu saya berani mengklaim diri sebagai Premature Journalist, karena memang belum mendapat pendidikan formal dibidang pewartaan.

Tidak sampai situ, punk mengajak saya lebih dalam lagi berkenalan dengannya. Punk memperkenalkan saya pada anarkisme. Sebuah perjumpaan yang membelalakan mata saya yang terkepung debu ilusi dunia. Saya diajak berkenalan dengan Alexander Berkman hingga Errico Malatesta dan berbagai ide-ide yang liar namun seksi.

Saya merasa jatuh cinta pada punk, namun enggan disambutnya. Punk berkata pada saya, “Kamu boleh bersahabat denganKu. Bahkan dengan begitu intimnya. Namun bukan untuk menjadi aku. Kamu harus tetap menjadi kamu.”

Lagi, punk mengajarkan saya untuk tidak melabeli diri sendiri, sekalipun dengan punk itu sendiri. Sebab saya harus menjadi siapa saya.

Punk pula yang mengajarkan pada saya bahwa hidup adalah tentang pilihan. Hingga pada satu hari punk datang pada saya, untuk membicarakan berbagai hal terkait diri saya sendiri. Dia berkata, “Aku ini ibarat sebuah kendaraan yang mengantarmu berkelana, baik di rute lurus, berkelok maupun pada sebuah persimpangan. Wajah-wajah yang aku tampilkan pada mu, itulah persimpangannya. Sekarang kamu pilih hendak kemana. Pilih yang paling kau sukai sepenuh hati.”

Punk mengantarkan saya menjadi pemusik dan punk juga yang melihat saya mengundurkan diri dari band yang sudah sembilan tahun berjalan. Bukan karena sudah tidak kerasan bermusik, namun lebih kepada kehabisan energi pun ternyata memang tidak ada potensi di sana. Saya urungkan lanjut berjalan, karena kendaraan yang saya miliki usang. Sementara teman-teman yang lain kadung mengupgrade kendaraan bermusiknya, pun memang mereka berpotensi di sana. Saya memutuskan untuk memilih satu persimpangan lainnya untuk dijejaki, sementara teman-teman yang lain segera bergegas dalam rute persimpangan musiknya.

Hingga kemudian saya bergegas menapaki persimpangan jalan yang saya pilih. Dalam perjalanan tersebut saya bisa tiba-tiba menghabiskan satu malam bersama seorang aktivis kemanusiaan dan berbagi secawan kopi dengannya, di malam lain saya bisa menyimak deretan ide gila dari seniman “sinting” ibu kota, bahkan pada malam-malam lainnya saya bisa duduk santai menyimak petuah bestari seorang sufi muda, hingga gemetar mendengar kisah kehidupan seorang preman.

Bahkan, mungkin ini yang akan sedikit membuat aneh, punk  memperkenalkan saya pada agama yang telah lama terpinggirkan dalam hidup ini (Dalam lain kesempatan, mungkin saya akan cerita banyak soal ini). Saya hanya bisa geleng-geleng kepala, betapa buah perjumpaan dengan punk bisa berdampak seluas ini, menerabas sekat-sekat yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.

Mungkin dengan tulisan yang sedikit ini, bisa menjadi tafsir dari saya tentang bagaimana punk lebih dari musik melainkan way of life. Punk yang membuka mata saya untuk melihat dunia secara telanjang, menyulut diri saya menemukan potensi dalam diri, mengantarkan pada agama yang telah lama dikesampingkan, dan oleh karena itu punk seperti sebuah perangkat kehidupan saya, dengan fungsinya sebagai pengantar.

Setidaknya punk menjadi salah satu perangkat untuk mengantarkan saya menelusuri berbagai dimensi kehidupan ini. Pun yang tak kalah penting dari itu, punk mengantarkan saya mencari kesejatian diri sendiri. Seperti yang punk sering teriakan ke telinga saya, “Kenalilah dan jadilah dirimu sendiri.”

Jika memang ada sebagian di luar sana yang kemudian hijrah dan mengutuk diri sebab pernah berkenalan dengan punk. Saya justru merasa perlu sebaliknya.

Thank you, punk!

Depok, 29 Maret 2017

Advertisements

3 thoughts on “Punk Secuil Perangkat Kehidupan

  1. Mengingatkanku dengan levinas, perjumpaan dengan wajah yang lain dari punk itu sendiri. Aku pikir, wajah yang lain dari punk juga menawarkan cara memandang dan berinteraksi dengan manusia lain yang berbeda dengan kebiasaan sehari-hari. Punk juga bukan gagasan atau pikiran kita mengenai punk itu yang menentukan, tetapi pertemuan sejati dengan punklah yang patut kita alami, layaknya kamu yang sudah menentukan pilihanmu setelah berjumpa dengan segala wajah-wajah yang lain yang hadir, yang menuntut bertanggung jawab atas pilihan untuk diri sendiri.

    Tulisan keren alfian 🙂🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s