Esai

Generasi Millennial, Siapakah Kita Sebenarnya ? (Bag. II)

generasi-millenial-indonesia
Ilustrasi oleh NN

BERJALAN DI ZAMAN MILLENNIAL

Barang tentu sulit apabila melihat karakteristik Gen Y di Indonesia secara general, mengingat bumi nusantara ini dihuni oleh beragam manusia yang berbeda. Beberapa hal seperti di mana ia tumbuh, berasal dari strata ekonomi dan sosial yang seperti apa, menjadi poin yang tak boleh dilewatkan untuk dipertimbangkan. Namun Gen Y secara umum memilki kecendrungan yang kurang lebih sama, sangat terbuka dengan pola komunikasi dibanding generasi sebelumnya. Sebab didukung pula oleh perkembangan teknologi yang membawa serta internet ke dalamnya.

Sebuah generasi yang oleh Pev Research Center -badan riset Amerika Serikat- katakan memiliki ciri tak bisa lepas dari penggunaan teknologi terutama internet. Hal yang lebih kasar diungkapkan Time yang menyatakan bahwa generasi millennial adalah penggila gadget.

Lembaga riset lokal, Alvara Research Center pada 2014 lalu juga mengatakan hal senada, bahwa generasi millennial dengan usia 15-24 tahun (mereka yang lahir pada 1990-1999) menyukai topik pembicaraan soal musik/film, olahraga, dan teknologi. Sementara bagi generasi millennial dengan kisaran usia 25-34 tahun (mereka yang lahir pada 1980-1989) lebih variatif dalam menyukai topik pembicaraan, termasuk didalamnya sosial, politik, ekonomi, dan keagamaan. Konsumsi internet pun cenderung lebih tinggi dikisaran usia 15-34 tahun.

Kementrian Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia pada tahun 2014 mencatat mayoritas pengguna internet di Indonesia paling banyak berusia 18 – 25 tahun. Hampir setengah dari total jumlah pengguna internet di Indonesia (49%) dan hanya 0,2% pengguna yang berusia 56-65 tahun.

Terhitung 2014 hingga 2016, seiring penggunaan internet yang semakin masif fenomena dunia saiber pun terus bermunculan. Kemunculan individu yang menuai pamor melalui dunia maya salah satunya. Dari sana kemudian melahirkan banyak istilah ‘orang popular baru’ adalah mereka yang terkenal melalui aktivitas di media sosial seperti twitter dengan istilah selebtwit, instagram dengan istilah selebgram, youtubers bagi yang tersohor di youtube, blogger, dsb. Bahkan dari medium maya itu pula nama-nama seperti Norman Kamaru, Sinta dan Jojo, dsb bisa dikenal luas oleh publik tanpa melalui saluran tv nasional. Namun yang konsisten memanfaatkan media sosial ialah Bena Kribo, Raditya Dika, Younglex, Awkarin, Ria Ricis, Rich Chigga, Bayu Skak, Edho Zell, Skinnyindonesia24, Arief Muhammad, Reza Arab Oktovian, dsb. Nama-nama tersebut bisa diakses melalui berbagai jejaring sosial saat ini, jika boleh dikatakan sebagai sosok paling banyak dibicarakan sekaligus menjadi idola baru khalayak, khususnya generasi millennial.

William Strauss dan Neil Howe dalam bukunya Millennials Rising: The Next Great Generation berpendapat bahwa generasi millenial sebagai generasi yang peduli akan masalah-masalah kemasyarakatan. Generasi ini juga memiliki pandangan politik dan ekonomi yang terbuka sehingga tak jarang menjadi reaktif. Contoh kasus seperti Nyala Untuk Yuyun, Donasi Warteg Bu Eni, hingga #aksidamai411, dan Aksi Bela Islam 212 adalah sedikit bukti teknologi internet mampu mendorong kesadaran kolektif.

(Tulisan ini pernah dimuat dalam Majalah Arka #3. Download di sini)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s