Cerpen

Semua Pejuang, Berjuang Semua

soviet_girl_war_weapons_flag_art_art_fantasy_dark-1478550629
Ilustrasi oleh NN

Di dalam rangkaian gerbong kereta yang melaju cukup kencang, mustahil untuk bisa menahan diri tidak ikut berguncang. Mau ditahan seperti apapun, tubuh akan bergerak ke kiri-kanan-depan-belakang, menyenggol siapa saja yang berada di sekitar. Kecuali bagi mereka yang mendapatkan tempat duduk. Sungguh beruntung.

Namun tubuh yang berguncang sudah menjadi hal yang biasa, jika menaiki kereta api. Tidak ada satupun yang mengeluhkan hal tersebut. Nilai masalahnya tak seberapa dibanding hal lain yang berguncang. Saptono mungkin bisa rileks menikmati dirinya terombang ambing dalam perjalanannya dengan kereta api. Pun memang sudah ia maklumi sejak pertama kali mengikrarkan diri sebagai pekerja sekaligus pengguna jasa transportasi umum. Tapi tidak dengan hatinya yang sedang dirundung gelisah.

Kemarin malam stasiun radio siaran kesayangannya memberitahu bahwa akan ada aksi demonstrasi di Balai Kota. Diperkirakan jumlah aksi massa bisa mencapai ribuan orang. Berita itu pertanda bahwa besok akan terjadi kemacetan arus lalu lintas. Tempat kerja Saptono yang kebetulan satu arah dengan titik aksi, membuatnya harus menyiapkan strategi.

Pagi ini, Saptono berangkat dua jam lebih awal dari biasanya. Tidak sempat mandi, apalagi sarapan. Lebih baik begitu dari pada harus telat sampai tempat kerja, pikirnya. Khusus hari ini juga, Saptono tidak mengendarai sepeda motor bebeknya. Dia sudah tau “penyakit” sehingga memilih naik kereta ekonomi.

Langkahnya tenang menuju loket karcis hingga menjejaki peron tujuan. Wajahnya sumringah ketika gerimis tiba saja datang. Dalam hati ia berharap aksi demo akan batal terlaksana karena hujan. Sambil menunggu kereta nya tiba, Saptono melahap lemper isi ayam yang dibelinya dari penjual di depan stasiun. Lumayan untuk mengganjal perut yang keroncongan.

Di dalam gerbong yang cukup padat, Saptono celingak-celinguk, mencoba menyamankan posisi. Diambilnya sebuah earphone dan dipasangkan ke smartphonenya. Tembang reggae “Redemption Song” milik Bob Marley dimainkan. Menemani perjalanan Saptono. Sesekali melihat jam tangan, waktu masih berjalan dengan aman. Hati kecilnya tersenyum. Tentram.

Di sepanjang perjalanan, kereta yang dinaiki Saptono berhenti untuk mengangkut penumpang lainnya di beberapa stasiun. Sepanjang itu pula, Saptono mulai kembali resah. Bagaimana tidak, Saptono akhirnya satu gerbong dengan massa aksi. Jumlahnya yang tak kira-kira, membuat kondisi gerbong kian padat. Bahkan deru nafas satu sama lainpun bisa terdengar.

“Duh gusti, begini amat pagi-pagi,” Saptono mengeluh dalam diam. Posisinya tergencet depan-belakang, kanan-kiri. Sempat terlintas untuk turun di stasiun terdekat, lalu naik kereta selanjutnya. Namun urung dilakukan karena Saptono takut hasilnya sama saja. Lagi pula akan memakan waktu juga. Mau tidak mau, suka tidak suka, kondisi yang tak nyaman itu harus dinikmatinya. Yang penting sampai tempat kerja tepat waktu.

Untuk menghibur diri, Saptono mencari bacaan. Portal berita online menjadi pilihannya. Berita perselingkuhan selebritis yang penuh drama, berhasil menghibur dirinya. Sungguh terpuji selebritis itu, bisa membuat Saptono melupakan kesengsaraannya sejenak. Tiba-tiba dahinya mengernyit membaca satu headline berita: RIBUAN PENDUKUNG PAK SOHIB MEMADATI STASIUN PEKANSINGIT. Saptono menengok jam tangannya kembali, beruntung waktu masih juga aman. Namun, pikirannya membayangkan kondisi Stasiun Pekansingit -tempatnya nanti akan turun lalu melanjutkan diri dengan kopaja untuk sampai tempat kerja.

Matanya terpejam, dalam diam Saptono berdoa pada semesta untuk diizinkan sampai tempat kerja tepat waktu. Telat absen akan berdampak pada pemotongan gaji. Tandanya penghasilan bulanan Saptono akan berkurang, sementara tanggungan pengeluaran hidup sudah mengancam dan tak kenal kompromi. Saptono tidak boleh telat.

Dalam waktu beberapa menit lagi, kereta akan tiba di Stasiun Pekansingit. Perhatikan barang bawaan anda, ujar petugas kereta api melalui speaker. Tanda sudah hampir sampai. Stasiun Pekansingit. Pekan Singit Station, suara mesin informasi. Pintu gerbongpun terbuka, berbondong-bondong manusia berebut untuk masuk dan keluar, hal yang membuat manusia kalah mulia dengan kerumunan semut.

Benar saja apa yang disiarkan portal berita yang Saptono baca tadi. Peron stasiun banjir bandang oleh massa aksi. Sampai jalanpun harus mengantri dan menguji kesabaran. Saptono was-was, berkali-kali memeriksa jam di tangannya.

Saptono berusaha untuk tidak kalut, dinyalakannya radio siaran favoritnya sebagai penetralisir. Kawula muda yang beraktivitas di sekitaran Jalan Ki Gendeng Merdeka sepertinya harus bersabar nih, ujar penyiar radio. Semoga kalian diberi kesabaran untuk melewati kemacetan yah, lanjut sang penyiar.

Saptono semakin kelabakan mendengar informasi yang baru saja dibacakan oleh penyiar tersebut. Wajahnya tak tenang. Kembali dirinya mencari informasi seputar lalu lintas. Tertulis dalam sebuah portal berita: KEMACETAN TERJADI DI RUAS JALAN KI GENDENG. RIBUAN MASSA AKSI LONG MARCH DARI STASIUN PEKANSINGIT MENUJU BALAI KOTA.

Dengan langkah yang terburu-buru, Saptono segera menaiki kopaja. Sesekali memperhatikan jam tangannya kembali. Masih tersisa waktu 30 menit untuk bisa sampai tempat kerja. Itupun jika kopajanya bisa leluasa bergerak dan tidak seperti sekarang, tersendat dihamparan kendaraan lainnya dan kerumunan aksi massa.

“Mampus ini,” Saptono mengutuk diri sendiri. “Tau gitu bawa motor aja. Mungkin tidak akan seperti ini jadinya.”

Sayup-sayup terdengar teriakan HIDUP PAK SOHIB! HIDUP! dari luar kopaja yang datang dari kerumunan massa aksi.

“Hidup apanya. Aku mau mati begini,” dumel Saptono pelan, sambil memandang kesal kerumunan massa itu.

***

“Ayo cepat!” teriak Acan kepada seluruh anak buahnya. “Lelet banget sih lu pada!”

“Siap, bang Acan,” sahut seseorang anak buahnya yang sibuk merapihkan atribut untuk aksi nanti.

“Kita berangkat naik apa jadinya, bang ?”

“Naik kereta. Kagak usah bawa kendaraan pribadi. Nggak ada parkiran di sana.”

Berbondong-bondong Bang Acan dan rombongannya menuju Stasiun kereta terdekat. Hari itu menjadi hari yang paling penting bagi mereka. Pasalnya, langkah kaki mereka sudah diniatkan untuk sesuatu yang mereka anggap sebagai sebuah kebaikan dan penuh perjuangan.

Sudah menjadi kewajiban bagi mereka untuk mendukung Pak Sohib, sosok yang berjasa dalam hidup dan dikenal baik oleh kalangan mereka. Berbagai atribut dukungan sudah lengkap. Mereka semuapun melangkah mantap menuju stasiun.

“Stasiun Pekansingit, mbak,” ujar salah satu kordinator regu kepada penjaga loket  karcis.

Satu persatu dari rombongan Bang Acan memadati peron tujuan. Wajah mereka berseri nan berlumur semangat. Pantang pasang wajah muram apalagi loyo untuk hal yang penuh kebaikan seperti ini. Sungguh dalam hati, ingin sekali mereka segera sampai tujuan. Aspirasi harus segera disampaikan.

Kondisi gerbong yang padat kian bertambah padat. Bukan keadaan yang nyaman, memang. Tapi hal tersebut tidak menjadi masalah untuk seluruh rombongan Bang Acan. Mereka menganggapnya sebagai sebuah ujian di jalan yang benar.

“Kasian Pak Sohib,” ujar salah seorang dalam rombongan tersebut. “Masyarakat benar-benar sudah gila yah, bang ?”

“Begitulah,” jawab Bang Acan singkat. “Emang deh, kalau mau jadi orang baik. Jalannya harus yang penuh bara api dan pecahan kaca. Kagak bisa mulus gitu aja.”

“Bener tuh, bang!” sahut seseorang lainnya.

“Nah, kita yang masih waras ini. Yang melihat ini sebagai sebuah kejanggalan, masa orang baik malah diperlakukan seperti ini sih. Ini tugas kita untuk membela orang baik,” wejang Bang Acan.

“Berjuang demi kebaikan yah, bang ?”

“Yaiyalah!” jawab Bang Acan. “Memperjuangkan kebaikan.”

Sesampainya di Stasiun Pekansingit, Bang Acan beserta rombongannya bertemu dengan rombongan lainnya. Beberapa atribut seperti poster dan bendera dikibarkan, untuk menunjukan bahwa Pak Sohib tidak sendirian.

Setelah semua atribut dirasa telah siap. Rombongan Bang Acan dan juga rombongan lainnya memutuskan untuk melakukan aksi jalan kaki menuju Balai Kota. Sepanjang Jalan Ki Gendeng Merdeka dipadati rombongan pendukung Pak Sohib. Teriakan HIDUP PAK SOHIB! HIDUP! menggema sepanjang perjalanan.

Tinnn…Tinnn…Tinnn… Suara klakson kendaraanpun ikut ambil bagian dalam perjalanan tersebut. Tak tinggal suara mesin kendaraan yang dipaksa menderu oleh pemiliknya. Mengiringi langkah kecil rombongan Bang Acan dan lainnya.

“Kita benar-benar sedang di uji,” ujar salah seorang rombongan Bang Acan.

“Semoga perjuangan ini diberkati tuhan,” timpal kawannya yang lain sembari mengibarkan bendera berwajah Pak Sohib.

***

Dengan penuh semangat, Kacung mendorong gerobak gorengannya. Lajunya cukup cepat, namun Kacung masih berhati-hati setiap melewati jalan berlubang dan bergelombang. Tak mau dirinya tergesah begitu saja, apalagi kalau sampai membuat dagangannya tumpah dan tidak jadi uang. Bisa puasa setiap hari nantinya.

Hari ini Kacung menggoreng dengan porsi dua kali lipat dari biasanya. Sebab dia tau bahwa hari ini pintu rezeki akan terbuka lebar untuk dirinya. Sayang sekali jika tidak dimanfaatkan. Lumayan untuk modal nikah dengan kekasihnya tahun ini.

Benaknya terbayang wajah sang kekasih, membuat semangat berdagangnya kian bergelora.

“Tenang sayang. Bulan depan kita akan menikah,” ujar Kacung dalam batin, merangkap doa.

Sesampainya di Balai Kota, Kacung segera mendaratkan gerobaknya di tempat yang telah dipersiapkan. Satu hari sebelumnya, Kacung sudah memesan lapak kepada preman setempat untuk berjualan. Meski harga sewanya tiga kali lebih mahal dari biasanya, Kacung tak mempermsalahkan hal itu. Sebab dia tau, ini momen yang akan membuatnya untung.

Sambil menunggu calon pembeli, Kacung sibuk berbalas pesan dengan sang kekasih. “Abang yang semangat yah cari uangnya,” seru sang kekasih nun jauh di sana, tak lupa dengan tambahan emoticon cium dan peluk yang membuat senyum simpul keluar dari Kacung.

“Pasti dong. Kan demi kamu,” jawab Kacung mesra, lengkap dengan emoticon hati.

“Ih kok demi aku sih. Demi kita dong, bang.”

“Ah kamu mah. Jadi kangen deh,” timpal mesra Kacung. “Sayang. Aku layani pembeli dulu yah.”

Sang kekasih membalasnya dengan emoticon cium dan peluk. Tanda restunya.

Satu persatu rombongan pendukung Pak Sohib yang kelaparan, dilayani oleh Kacung. “Beli berapa bang ?”

“Lima ribu aja.”

“Lima belas ribu. Pisang goreng, tempe, sama tahu. Cabe yang banyak.”

“Dua puluh ribu bang. Campur yee. Rada cepetan bang. Mau jalan lagi nih.”

“Bang goceng aje. Cireng semua. Cepet bang.”

Tangan Kacung begitu cepat dan lihai mengurusi pesanan yang bertubi. Satu persatu ia layani dengan penuh hati.

Kacung benar-benar bahagia hari itu. Sambil menunggu pembeli lain, Kacung memeriksa buku tabungan pribadinya. Dasar Kacung, era modern begini masih nabung di bank keliling. Jumlahnya semakin mendekati kata cukup untuk segera mempersunting sang kekasih. Kacung benar-benar tak sabar, sebab sudah letih berpacaran tiga tahun. Pun orang tua sang kekasih, sudah memberikan kode terus.

Debu jalanan dan terik matahari yang menyengat, bukanlah soal untuk Kacung. Meski dua hal itu bisa membuatnya bertambah lusuh dan keling. Kacung duduk di samping gerobaknya, sesekali memainkan game yang ada di handphonenya.

Saking asyiknya menunggu pembeli dan bermain game, Kacung sampai tak menyadari kalau Balai Kota berangsur-angsur sepi. Satu persatu rombongan pendukung Pak Sohib meninggalkan tempat.

“Bang, mau pada kemana ?” tanya Kacung yang heran, kepada salah seorang massa aksi.

“Mau pulanglah, bang.”

“Pulang ?!” Kacung terkaget mendengarnya. “Biasanya sampai malam.”

“Wah, nggak bang. Kita semua sudah sepakat untuk nggak berlama-lama. Takut terlalu mengganggu lalu lintas. Soalnya yang datang banyak banget.”

Kacung menoleh ke arah gerobaknya. Berjejer gorengannya yang masih banyak. Satu persatu massa aksi membubarkan diri. Kacung menelan ludah sambil menggaruk-garuk kepalanya. Kacung merasa telah salah strategi.

Aksi demonstrasi yang biasanya berjalan seharian, bahkan bisa sampai berhari-hari. Kini hanya berlangsung dalam hitungan jam saja bahkan lebih cepat dari dugaan Kacung. Dalam batin kecilnya, Kacung berharap aksi kembali dilanjutkan agar dagangannya bisa habis. Satu hal yang pada akhirnya tidak benar terjadi.

Kacung berkemas, dengan langkah lemas mendorong gerobaknya pulang. Sesekali menatap gorengannya yang masih banyak dan bingung mau diapakan.

“Sayang, gimana dagangannya ?” SMS sang Kekasih.

“Masih banyak, beib,” balasnya.

“Sabar yah. Semoga gorengan kamu diborong habis yah di sana.”

“Yang demo pada pulang.”

“Tumben cepat banget demonya.”

“Nggak tau, beib.”

Karena nasi sudah menjadi bubur, pantang pulang sebelum gorengan habis. Kacung berdiam diri di depan kantor. Di Kota seperti itu untuk bisa mangkal lagi harus membutuhkan biaya. Kacung kembali mengeluarkan sejumlah uang untuk menyewa tempat non-permanen kepada preman setempat. Tak apalah, untuk membuka pintu rezeki kembali, pikirnya.

“Bang, gorengan sepuluh ribu,” pesan salah seorang pegawai kantor.

Kacung memberikan sejumlah gorengan dengan bonusnya yang banyak.

“Lah kebanyakan, bang. Gak salah nih ?”

“Gapapa bang, penglaris. Daripada kebawa pulang lagi,” Kacung pasrah.

 

Depok, 12 Maret 2017

(Ditulis dalam kondisi penuh perjuangan menikmati tembang The Velvet Underground album Loaded. Dan terngiang bahwa ‘semua insan yang bernafas, sejatinya sedang berjuang!!!’)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s