Intisari

Berjarak Yang Menyakitkan

Earth-air-water-fire-the-four-elements-37158367-900-499
Ilustrasi oleh NN

Sejak berhari-hari kemarin, saya merasa berjarak begitu jauh denganNya. Ditandai dengan kegagalan saya mengurai logika menjadi helai-helai intisari pikiran. Dari kemarin ada banyak hal yang ingin saya tuliskan, namun tidak juga bisa. Setiap memulai satu kalimat, saya merasa asing sendiri dengan deretan kata itu. Setiap memulainya lagi, saya justru meragukannya. Lho, ini kenapa ? Sistem berpikir saya tidak berjalan sama sekali. Sedari itu, saya tau bahwa Dia jauh.

Mencoba untuk mencari duduk perkara, musabab dari kami yang berjarak, namun tidak juga ketemu. Hingga satu malam, seorang yang dekat dengan saya namun sering kali terabaikan, berkunjung, dan menjelaskan. Katanya, saya ini kurang tenang. Baiklah, kalau begitu saya santai sekarang. Duduk manis di kamar, sedia kopi hitam, kretek dan Gesang. Tapi tidak juga berhasil.

Lanjutnya lagi, saya tidak tenang dalam pikiran. Oh jadi ini bukan karena aktivitas fisik. Baiklah saya akan menjauhi semua sumber komunikasi dan tidak membaca apapun. Tapi tidak juga menuai hasil. Tetap saja sistem berpikir saya kacau balau. Parahnya lagi, saya tidak mengerti apa yang dipikirkan. Itu kiamat pribadi.

Nafsu saya bergelayutan pada batang pikiran, katanya. Nafsu untuk berpikir jernih dan nafsu untuk menulis. Yang lebih mengkhawatirkan dan mungkin, katanya, menjadi penyebab kesesatan logika karena pada batang pikiran saya bergelayutan dua monyet nafsu yang besar bernama lawwamah dan amarah.

Saya mengamini perkataannya. Lawwamah dan amarah dalam diri saya lebih dominan. Jelas saja saya kesulitan berpikir sebab tidak adanya Muthmainnah di diri ini. Telah tertutup debu.

Seorang bijak bestari pernah bilang pada saya, bahwa nafsu itu tidak bisa dihilangkan kecuali diendapkan. PR saya selanjutnya adalah mengendapkan dua monyet besar yang bergelayutan itu. Bukan hanya untuk meluruskan pikiran lagi, melainkan untuk membuat saya dekat denganNya kembali.

Baru berjarak saja, logika susah sesat. Bagaimana jika kehilanganNya.

Namun, dengan seperti ini saya menjadi tau, betapa nikmatnya kerinduan atas suatu perjumpaan.

Depok, 19 April 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s