Cerpen

Penempatan Teman

Early Morning on Playground
Ilustrasi oleh NoName

Remaja itu menangis sesegukan, seluruh benda di dalam kamarnya menjadi sasaran atas amarah yang membunca. Berantakan. Melebihi kapal pecah. Sesekali ia mengumpat dengan dibarengi suara-suara aneh tak karuan.

Seseorang yang dekat dengannya namun seringkali terabaikan, mendatanginya. Mendekat dan merengkuh remaja yang persis “kesetanan”, tapi ia malah memberontak. Remaja itu menjauh dan berdiam di pojok kamar. Isak tangisnya terus berlanjut.

“Ada apa ?” tanya seseorang itu.

Remaja tersebut urung menjawab, malah menangis lebih kencang.

“Cerita aja…”

“Teman-temanku jahat. Mereka tidak mau aku ajak main. Bahkan tidak mengajakku main. Aku membenci mereka.” Akhirnya remaja itu bersuara juga.

Semua berawal dari kejadian di sekolah tadi siang. Tepat di jam istirahat, remaja itu mengajak teman kelasnya untuk bermain lompat tali namun tidak ada yang merespon. Padahal remaja itu ingin sekali bermain. Alih-alih menerima ajakan lompat tali, teman kelas remaja itu justru malah bermain petak umpet. Remaja itu kecewa, bukan saja karena teman-temannya tidak mau menemaninya bermain lompat tali, namun juga karena ia tidak diajak bermain petak umpet.

Seseorang itu tertawa mendengar cerita yang keluar dari lubang mulut remaja. Yang malah membuat remaja itu terdiam dan menatap bingung.

“Mana ada teman yang jahat ?!” Sesungguhnya tidak ada,” ujar seseorang itu sembari menghabiskan sisa tawanya.

“Ada! Teman-temanku itu jahat!”

Seseorang itu mendekat dan merengkuh kepala remaja itu dengan lembut. “Mereka tidak jahat. Hanya saja bukan teman yang tepat untuk bermain lompat tali. Kamupun bukan teman yang tepat untuk diajak bermain petak umpet.”

Remaja itu mengernyitkan dahinya. Seraya memeram tanya.

“Tapi aku tetap kesal pada mereka!”

Seseorang itu hanya tersenyum sambil mengelus-elus kepala remaja, seraya berkata, “Kamu hanya belum memahami penempatan teman.” Kemudian pergi begitu saja.[]

Depok, 24 April 2017

(Adaptasi dari keributan bocah di depan rumah yang tak mau selesai. Menyimak jeritan mereka, sambil menikmati sayup-sayup Margaret Glaspy bernyanyi di playlist.)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s