Intisari

Berjanji di Taman Kanak Kanak

View More: http://suzylynnphotography.pass.us/bgcalower2
Ilustrasi

Taman Gurame Depok kalau Siang tidak terlalu ramai, sehingga saya bisa puas menjelajahi seluruh sudut dengan mata. Selain matahari yang malu-malu dan alat fitness yang diam menunggu, tidak ada lagi hal yang menarik. Kecuali jika saya menganggap bocah TK yang menangis sambil merongrong di hadapan Ibunya,  sebagai suatu hal yang menarik.

Lagipula, apa yang bisa dijadikan standarisasi dari ketertarikan hal tersebut ? Tidak ada. Selain memang mereka cukup mengundang perhatian saya, dalam situasi yang nyaris datar siang itu.

Posisi bocah dan Ibunya itu tidak terlalu jauh dari tempat saya duduk, sambil sesekali memerhatikan layar DSLR. Dari jarak yang sebegitu lumayan dekat, semua perkara yang mereka bahas tanpa permisi masuk ke telinga. Sebetulnya tidak mau didengar, tapi telinga saya terlanjur bolong dan tak punya tirai otomatis, ataupun filter yang mampu menyaring hal apa yang bisa didengar dan yang tidak.

Secara jelas akhirnya saya tau penyebab bocah gempal tersebut nangis. Dia hanya mau menikmati es kenong yang telah dijanjikan oleh sang Ibu. Namun entah kenapa sang Ibu tidak lantas membelikannya, padahal penjual esnya ada di depan gerbang masuk taman.

“Mama janji pas pulang sekolah, aku boleh beli es,” tekan bocah itu dengan wajah polos yang tertekuk.

“Iya, tapi jangan sekarang, Bang. Tunggu Papa jemput dulu.”

Kalimat yang tidak merubah bocah itu untuk tidak menyudahi menekuk wajah dan isak tangisnya pun masih berada dalam level yang sama. Entah tempo metronome berapa yang bocah itu pakai sehingga bisa konstan begitu.

“Ade dengerin Mama dulu dong,” tekan sang Ibu sambil mencengkeram lembut bahu bocah yang padat berisi itu, lengkap dengan tatapan yang meyakinkan. “Kalau beli sekarang nanti esnya langsung cair. Mending tunggu Papa dulu.”

Sebuah upaya meredam yang menurut saya tidak logis sama sekali, apa hubungannya antara es yang mudah mencair dengan kedatangan suaminya ? Apakah sang suaminya akan datang sambil membawa kulkas ?

Kalimat itu memang akal-akalan murahan sang Ibu, yang hanya beruntung dilontarkan untuk bocah usia kurang dari 6 tahun.

“Tapi-tapi. Mama udah janji,” ujar bocah itu dengan terbata karena sesegukan.

“Mama janji kali ini, tapi tunggu Papa jemput yaa, baru kita beli esnya,” ujar sang Ibu seraya menjulurkan kelingking kanannya yang disambut lamban oleh bocah itu.

Mereka menutup perdebatan sengit dengan hal yang membuat saya pada akhirnya menemukan ketertarikan pada mereka. Sekaligus membuat saya terkenang sewaktu kecil, selalu mengikat kesepakatan dengan jari kelingking.

***

Menyaksikan bagaimana bocah lelaki itu meronta dan sang Ibu yang berhasil meredam anaknya dengan sebuah jari kelingking. Membawa saya kepada masa TK, masa yang sama dengan bocah itu sekarang, untuk mengingat suatu ilmu dasar yang diajarkan oleh Bu Guru dulu. Ilmu yang sangat mendasar tentang cara bersikap kepada orang lain: menepati janji.

Bagaimana saya dulu, atau mungkin kita semua yang pernah merasakan fase menjadi anak kecil dan TK khususnya, diajarkan untuk selalu menepati jika berjanji, karena janji adalah hutang.

Ilmu paling mendasar, yang terkesan remeh temeh, namun sejujurnya gampang-susah untuk diemban. Sebab dari  itu tak sedikit dari kita yang orang dewasa (atau tua) begini, yang mungkin sudah banyak mengingkari janji dan jumlahnya jauh lebih banyak dari mantan pacar atau bahkan koleksian bulu mata palsu dalam rak kosmetik.

Tentu, jika janji adalah hutang. Entah berapa banyak harus menguras saldo rekening untuk menebus semuanya. Malah, bisa jadi tidak cukup dan harus dibayar dengan cara menghutang lagi ke bank. Lagi-lagi, kita menghutang. Dengan begitu maka seluruh hidup akan dijalani bersamaan dengan hutang.

Karena penerapannya yang tidak mudah dan tidak juga sulit itu, janji menjadi problematika (saya kira) hampir seusia peradaban manusia berjalan. Tak jarang, kesulitan mengaplikasikan tepati janji mampu memicu pertikaian. Lihat saja bagaimana sebagian demonstrasi yang berlangsung di negeri ini terjadi, semuanya karena apa, janji yang tercetus dan urung ditepati.

Sayangnya para pelaku pengobral janji tersebut, menyikapinya secara sembrono. Melebihi ketidaklogisan yang dilakukan Ibu sang Bocah gempal itu. Penguasa, dalam hal ini yang mengobral janji, hampir selalu meredam para penagih janji dengan intimidasi nan represif. Saya menjamin mereka ketika kecil dulu, lulus TK dengan terhormat, wong sekarang bisa gagah berdasi di parlemen. Bohong kalau punya riwayat pernah tidak tamat TK.

Padahal seharusnya para pengobral janji itu justru, menurut saya, harus berterimakasih pada yang menagih janji. Sebab telah diingatkan untuk terbebas dari hutang. Bukan malah bersikap sebaliknya.

Apalagi kalau melihat konsep janji dengan kacamata teologi, jika ingkar akan ditagih di alam lain selain dunia ini. Adapun begitu, menurut saya, perkara janji ini bisa terbilang menistakan agama juga jika mengingkarinya. Saya tidak akan mengkutip firman/sabda/wahyu dari kitab suci manapun, karena itu bukan bagian saya. Tapi saya kira semua teologi menyepakati menepati janji adalah kewajiban.

Jadi, ketimbang ujug-ujug kayak kemarin, berdebat perihal besar seperti kutipan ayat yang kepleset diucap oleh, hhhmmm….., Ahok. Yang mana, bisa jadi sebenarnya, kita baru tau ayat tersebut belum lama dan berbarengan dengan kasusnya merebak. Atau malah belum mafhum tentang ayat itu namun merasa kompeten membahasnya. Lebih baik belajar untuk tidak ingkar janji dulu.

Nah, coba yang sedari kemarin telah mengumbar janji, diajak berjabat kelingking. Sambil kemudian, diawasi dan dibantu ingatkan kalau gerak-geriknya bertendensi ingkar. Jangan sampai mereka terlibat hutang karena janjinya yang ingkar. Kasihan nanti mereka ditagih di alam lain selain dunia ini. Jika oleh kamu tidak bisa juga mereka untuk diingatkan, coba bawa ke Guru TK-nya, untuk melakukan pengulangan soal janji.

Hemat saya, berjanji itu seperti halnya menggenggam bara. Kalau tanganmu tak sekebal Tony Stark, yah jangan digenggam. Kecuali kalau kepalamu penuh akal-bulus, bara itu tidak kamu genggam tapi dijumput dengan penjepit gorengan kaki lima.

Astaga, saya baru ingat telah memiliki janji menulis untuk beberapa orang. Semoga saya tidak keburu disambangi Guru TK. []

Depok, 14 Mei 2017

(Ditulis dengan mendengarkan Mozart, sebagai efek yang ditimbulkan sehabis menyaksikan Jakarta City Philharmonic beberapa hari lalu. Kuping saya suka latahan, memang.)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s