Intisari

Catatan Tidak Penting Untuk Orang Yang Tak Dikenal

66b5350f-b7a4-3c80-943e-20b464c13c4f

Seorang teman yang baru saya kenal kurang dari 12 menit di Jalan Kebayoran Baru, tiba saja sesumbar soal agama yang dipolitisasi. Katanya zaman sekarang agama sudah kehilangan kemurniannya sejak dijadikan alat politik oleh segelintir orang. Saya menyangkal ucapannya, sebab agama kehilangan kesuciannya sudah sejak ribuan tahun lalu. Ketika para umat beragama itu malah sibuk mengalungi diri dengan hasrat menguasai dan sejumput kebencian yang tertanggal di leher.

Bagi mereka yang “berkalung” tentu memiliki hasrat menguasai bukan perkara yang salah, sebab mereka beranggapan dalam posisi paling benar, sementara yang lain salah dan layak dibenarkan.  Dari umat beragama yang “berkalung” itu juga, kita bisa menelusuri sejarah kelam bagaimana agama itu tersebar dari satu titik ke titik lainnya. Sebuah sejarah yang tak bisa dilepaskan dari saling menyerang, penuh intrik, doktrin kebencian, dan (bahkan pada akhirnya) hal-hal yang tak ada urusannya sama sekali dengan teologis. Pada akhirnya, semuanya hanyalah soal dominasi, hasrat menguasai, dan kepemilikan kelompok atas kebenaran.

Hal yang terus terjadi sampai hari ini dan begitu relevan dengan Indonesia.

Masalah umat beragama memang terletak pada hasrat paling benar, adapun begitu karena telah dilegitimasi oleh kitab kudus yang mereka percayai. Sehingga para umat agama “berkalung” ini tidak sungkan untuk membawanya kemanapun, meski harus bergesekan dengan umat yang lain, sebab bergesekan berarti perjuangan di dalam kebenaran.

Hal ini yang kadang saya tidak sukai dari umat beragama. Kenapa setiap upaya untuk membawa kebenaran harus berujung dominasi, saling menguasai terlebih dahulu dan parahnya dianggap sebagai sebuah perjuangan di jalan yang benar ? Padahal dibalik itu semua, ada darah dan air mata yang tercecer dan nyawa yang berpulang. Apakah ini konsekuensi dari kebenaran itu sendiri ?

Saya terlahir sebagai orang Islam dari rahim Ibu yang juga memeluk Islam, kalau dalam bahasanya Dek Afi, agama saya ini warisan. Tapi saya juga setuju dengan pendapat Gilang Kazuya Shimura yang mengatakan Islam sebagai agama yang benar dan tercatat di Al-Baqarah ayat 2 yang mana ia kutip bersamaan dengan beberapa ayat lainnya dalam tulisan di Facebooknya.

Namun, tidak lantas bagi saya untuk menerima begitu saja. Saya perlu paham dulu kenapa Islam adalah agama yang benar. Bukan maksud untuk meragukan Al-Quran beserta isinya. Hanya saja, saya diajarkan untuk tidak melakukan apa yang tidak dipahami. Apalagi soal kitab suci, tidak cukup dibaca saja melainkan perlu pemahaman. Sementara untuk memahami butuh banyak mengetahui: melihat, merasa, dan mendengar. Disamping memang perlu mursyid yang mumpuni juga.

Sampai dititik ini, saya setuju jika Islam adalah agama yang benar. Namun tanpa perlu meng-underestimate agama yang lain. Saya lebih bisa menerima, Islam sebagai agama yang benar karena Muhammad dan Al-Quran adalah penyempurnaan para nabi dan kitab terdahulu yang pernah ada di muka bumi Allah ini. Kendati begitu dan yang perlu dipertegas lagi, bukan berarti agama diluar Islam salah.

Islam hanyalah anak kemarin sore, dalam struktur agama Abraham. Beberapa poin ajarannya pun terdapat juga dalam agama sebelumnya yang sudah lebih eksis, namun Islam dalam hal ini memang revivalis. Tentu namanya revivalis, ada sesuatu yang baru dan ada juga yang dikurangi berdasarkan berbagai persoalan yang meliputinya.

Mengamini Islam sebagai agama yang benar secara serampangan, justru membuat kita pada jurang jebakan sebagai makhluk yang arogan nan ambisius, juga penuh nafsu berkuasa. Sedikit-sedikit akan marah ketika Islam disinggung, bahkan walaupun hanya sekedar dipertanyakan sekalipun. Padahal seberapapun dahsyatnya tempaan yang datang menimpa, kebenaran tetaplah kebenaran, tidak akan berubah sama sekali. Namun karena kadung merasa paling memiliki kebenaran-lah yang membuat umat beragama bisa saling gontok-gontokan.

Saya sampai dititik ini juga, meyakini bahwa agama adalah hadiah terindah bagi semesta yang membawakan kebenaran. Pun tidak pernah ada kebenaran lain, kebenaran ialah kebenaran, hanya saja cara membawakannya yang berbeda sesuai zaman yang dilaluinya. Seperti penumpang yang dibawa oleh bis dan supir yang berbeda, penumpang tetaplah penumpang.

Beruntung saya dipertemukan dengan umat beragama yang justru sibuk dengan dirinya sendiri dan tanpa kalung kekuasaan apalagi kebencian. Alih-alih memperebutkan dan menyebut kelompoknya pemilik tunggal atas kebenaran, mereka justru asyik merindu pada sang raja manusia. Satu pola beragama yang elegan nan sejuk, bagi saya. Hal yang membuat saya merasakan cinta dalam beragama.

Beruntung pula, seorang bijak bestari mengingatkan saya untuk tidak merasa benar, karena itu berarti awal dari kebodohan.

Bagi kalian yang masih mau terlibat kompetisi untuk memperebutkan siapa pemegang hak atas kebenaran itu. Silahkan saja diteruskan, selagi masih senang beragama sambil repot begitu. Saya mau ngopi dulu, untuk menjemput kerinduan ditegukan terakhir.

Depok, 21 Mei 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s