Intisari

Menulis Untuk Peradaban

textOffThePage_2010

Pada satu malam minggu yang datar di tahun 2016 lalu, seorang teman mengajak saya nongkrong. Tanpa perlu ditimbang lagi, saya lekas menyambanginya. Setiba di tempatnya, tiga pemuda termasuk teman saya itu sedang asyik menuliskan sesuatu. Seorang yang lebih tua dari kami semua yang hadir malam itu, Ren Muhammad atau yang biasa di sapa Bang Ren, menawarkan saya untuk ikut asyik seperti yang lain: menulis. Menulis tentang diri sendiri, pintanya.

Tentu bukan perkara susah, sebab saya terbiasa ngblog dan isinya personal sekali. Di pinta menulis tiga paragraf, saya membandel melebihi jadi lima, sebab mudah. Setelah di baca, ternyata tulisan saya payah. Sebab tidak mudah dipahami dan berlogika cacat. Saya revisi, namun masih juga salah. Kali ini, terlalu mengandai katanya.

Saya dipinta bukan saja menulis soal diri sendiri, melainkan harus mengkuliti diri juga. Suatu perkara yang berganti susah, entah kenapa, memang susah sekali mengkuliti diri. Susah karena ternyata saya belum berani jujur dan siap melihat diri dalam kondisi telanjang, meski tulisan itu hanya akan di baca oleh saya dan Bang Ren saja. Setelah berusaha keras, saya bisa dengan hasil yang semakin berantakan. Logikanya entah kemana.

Sejak saat itu saya menuai pelajaran, meski susah, mengkuliti diri sendiri itu penting. Hubungannya dengan jujur pada diri kita. Jika pada diri sendiri saja masih suka berbohong, bagaimana dengan orang lain. Pun saya menilai, hal tersebut sebagai upaya untuk mengetahui kedirian kita. Hal yang sampai sekarang masih terus saya coba lakukan, menulis tentang diri sendiri. Semuanya, entah itu aktivitas keseharian, terutama perenungan-perenungan yang menghinggapi hari-hari saya.

Hal yang sama, yang saya bawa ketika dipilih untuk memandu Tim Mading salah satu SMP di Depok. Meski saya sedikitnya tau ilmu jurnalistik, teman-teman Mading tidak langsung saya ajarkan menulis untuk karya jurnalistik. Melainkan menulis tentang dirinya sendiri, termasuk kegelisahannya. Ada yang menulis tentang hubungan asmaranya yang bertepuk sebelah tangan, kesepian di rumah karena orang tua sibuk bekerja, takut tidak lulus UN, pertemanan, dsb. Hal ini penting, selain untuk belajar jujur pada diri sendiri, apasalahnya mengukirkan sejarah sendiri dengan tentunya, tangan sendiri.

Kita belajar mewartakan diri yang akan dikonsumsi diri juga.

Selain memang saya mempunyai misi khusus pada anak-anak itu, untuk merangsang minat menulis mereka. Pasalnya, saya mulai khawatir seiring minat membaca yang menurun di Indonesia, minat menulispun ikut menurun. Sebab itu saya mulai dengan hal yang mudah (walau ternyata tidak semudah kedengarannya), menulis tentang diri sendiri.

Bisa jadi sebab dari siklus kehidupan yang kapitalistik ini-lah yang mengikis minat orang untuk menulis. Mungkin karena terlalu asyik bermain dengan angka, sehingga kata tidak lagi penting.

Padahal menulis adalah pekerjaan mulia. Bisa dipastikan mustahil peradaban manusia bisa sedemikian berkembang pesatnya, jika para orang terdahulu malas menulis. Bagaimana jadinya jika Einstein tidak mendokumentasikan pikirannya dalam sebuah catatan ilmiah, Zaid bin Tsabit malas-malasan menuliskan wahyu yang diperoleh oleh Nabi Muhammad SAW. dari tuhan, Tan Malaka malah asyik berdebat dengan kepalanya dan tidak segera menorehkan tinta. Mungkin sampai sekarang kita masih gagap soal ilmu relativitas, Islam tidak punya kitab suci, dan Madilog tidak bisa dinikmati kawan mahasiswa.

Jika memang belum mampu menulis yang bersifat ilmiah, setidaknya mulailah dengan catatan harian, tentu itu tidak ada salahnya. Lihat saja bagaimana Soe Hok Gie dengan rutin menuliskan kesehariannya hingga menjadi Catatan Seorang Demonstran yang membius pembaca seakan merasakan atmosfer politik era Order Lama-Orde Baru. Atau, Raditya Dika yang muncul dengan cerita ringan khas mahasiswa tuna-asmara yang sedang berkuliah ke Australia, yang mana pada akhirnya malah mendobrak tren baru dalam dunia literasi di Indonesia.

Apabila para orang terdahulu berlomba-lomba menulis, selain memang akan mendapatkan emas setelah ditimbang beratnya oleh kerajaan. Nyatanya karena merekalah, perabadan ini bisa sampai saat ini. Sekarang jika semua orang malas menulis, bukan tidak mungkin, peradaban akan stagnan.

Jika kita tidak seilmiah Einstein, bukan berarti kita tak bisa meneliti diri sendiri. Jika tidak bisa menuliskan wahyu tuhan layaknya Zaid, bukan tidak untuk perenungan sendiri. Jika tidak bisa sekritis Tan, bukan berarti kita tidak mampu mengkritisi diri sendiri.

Maka, menulislah. Tidak perlu yang ngjelimet atau ditujukan untuk orang banyak. Menulis saja pelan-pelan, sedikit demi sedikit, tentang dan untuk diri sendiri.[]

Depok, 24 Mei 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s