Intisari

Menyikapi Kaum Pelangi

rainbow_activities1

Ketika itu akhir 2014, saat saya menjuarai lomba poster yang diselenggarakan oleh Yayasan Yap Thiam Hien, untuk sebuah poster yang mengangkat isu LGBT. Dalam poster itu saya menampilkan dua sosok pria dan wanita yang dimodifikasi, pada tubuh pria saya ubah terdapat ornamen khas kewanitaan, begitu juga sebaliknya. Tidak lupa juga sebuah tagline “Tampil Beda. Tanpa Beda. Masih Manusia” sebagai ketegasan pesan yang ingin saya sampaikan.

Jika tidak salah pada tahun yang sama isu LGBT memang marak kembali, menjadi headline nasional di beberapa media massa. Meski baru pada setahun kemudian, tepatnya 2015, situasinya kian menjadi bertambah runyam. Status Indonesia Darurat LGBT meruak, bagaikan sebuah tanda apokalips dunia yang siap menerjang. Lantas seperti biasanya, polemik ini menjadikan dua kubu, kaum yang pro-LGBT dan kaum puritan. Isu tersebut melalui drama panjang yang melelahkan dan cenderung membosankan.

Membosankan karena beberapa pihak tidak menyikapinya dengan jernih. Mereka gagap dan serampangan menyikapi LGBT, tergoreng wajan panas pemberitaan dan akhirnya blingsatan. Hingga berbagai cara, kalau perlu sampai membunuh sekalipun dilakukan, untuk memukul mundur LGBT yang dinilai meresahkan. Bahkan tak jarang penggerebekan dilakukan terhadap target yang diduga LGBT.

Lalu hal yang sama terjadi lagi tahun ini. Setelah serangkaian drama yang menjenuhkan mengenai politik, agama, komunis, kini isu gender atau LGBT kembali mencuat kepermukaan nasional. Ihwal penggerebekan yang dilakukan pihak aparat terhadap 141 pria di dalam pusat kebugaran yang terletak di Kelapa Gading Utara. Ratusan pria tersebut digerebek dan ditangkap lantaran mengadakan pesta sesama jenis. Lagi dan lagi ranah paling pribadi pun tak memiliki daya, penangkapan tetaplah penangkapan, meskipun ratusan pria tersebut melakukannya dalam ruang tertutup dan tak semua orang dapat akses masuk.

Saya tidak membenarkan dan tidak juga mau mempersalahkan “Kaum Pelangi” ini. Hanya saja, saya mencoba menyikapinya dengan keluar dari pattern hitam-putih norma yang berlaku dan melihat sebagaimana layaknya manusia dengan manusia. Jika berbuat merugikan, katakanlah salah. Jika benar, maka akui.

Dalam kasus Kelapa Gading, saya menilai ratusan pria itu dalam posisi yang tepat dan benar. Mereka tidak sedang di wilayah publik. Malah bisa dikatakan pula, apa yang mereka lakukan adalah refleksi dari upaya menghormati keberadaan kaum heteroseksual. Sebuah langkah jitu berbagi lahan ‘bermain’, yang sayangnya tidak disepakati bersama oleh sebagian dari para heteroseksual yang ternyata tidak menginginkan berbagi lahan. Selain memang, kasus Kelapa Gading tersebut tersebut sebagai bentuk realitas sempitnya area ‘bermain’ bagi minoritas seperti mereka.

Hal seperti ini yang saya maksud bahwa sebagian dari kita tidak berusaha menyikapi LGBT dengan pikiran jernih dan malah terkungkung dalam zona salah-benar. Sehingga tak jarang tindak-tanduknya justru mengancam kejiwaaan dan nyawa LGBT melalui berbagai hal seperti kekerasan verbal dan non-verbal. Apa-apa yang bersinggungan dengan LGBT, seperti layak ditumpas hingga ke akar layaknya jamur di badan. Seolah-olah dalam kesehariannya, kaum LGBT itu jauh dari urusan budi pekerti dan melulu berzina.

Poser HAM_TAMPIL BEDA TANPA BEDA_Alfian Putra Abdi

Mungkin saya terkesan berada dalam zona abu-abu dengan bersikap demikian. Namun pengalaman seumur hiduplah yang menuntun saya berlaku begini adanya. Saya dilahirkan dalam dogma agama keluarga, yang sudah tak perlu dijelaskan lagi bagaimana sikapnya perihal LGBT. Disisi lain, saya pun berada di lingkungan sosial yang mana terdapat LGBT di dalamnya. Namun karena frame agama yang saya punya, malah membuat saya bisa menebar kasih pada semua orang yang tak sama, sekalipun itu kepada LGBT.

Bukan maksud melemahkan peran agama, untuk kasus tertentu, misalnya seperti menyikapi kawan-kawan LGBT, menggunakan frame agama justru malah menghindari saya dari sikap fundamentalis dan merasa paling benar sendiri. Dengan demikian saya bisa bersikap objektif manakala kawan-kawan LGBT itu berbuat baik ataupun tidak pada saya tanpa perlu lagi melihat orientasi seksualnya seperti apa. Hal yang kemudian saya aplikasikan kedalam sebuah poster tiga tahun lalu. Betapapun tampak luar kita beda, sejatinya tetap sama sebagai manusia. Biarlah laku hidup pada sesama yang menentukan kualitas kemanusiaan kita.[]

Depok, 28 Mei 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s