Resensi

Ya Tuhan Lindungi Aku Dari Jason Ranti

jason-ranti
Gambar dari Google

Pemuda berambut gondrong itu berseloroh “Umatnya Habib Rizieq.” setelahnya baru memainkan gitar dengan dibarengi harmonika. Tak lama kemudian dia memplokamirkan diri, “Sebagai seseorang yang percaya manfaat mariyuana bagi kehidupan berbangsa dan bernegara….” Beberapa orang dihadapannya menyimak khusyuk. “Aku selaluuuuuuuuuuuuuu berdoaaaa. O, tuhan, lindungi aku selalu. O, tuhan jaga aku selalu. Dari tangan-tangan jahat. Dari mata-mata usil. Dan undang-undang keparat. Karena aku bukan kriminil,” lanjutnya lagi.

Adalah Jason Ranti, seorang pemuda yang masyuk merapal kalimat dalam lagu berjudul “Doa Sejuta Umat” di Lazy Hiking Club. Orang-orang yang berdiri menghadapnya menantikan kalimat apalagi yang keluar dari mulutnya yang liar.

Jason Ranti mengingatkan pada Iwan Fals ketika melantunkan “Frustasi” di awal 80an silam. Namun, yang membedakan keduanya, adalah batas. Jeje -nama akrabnya, bergerak lebih leluasa sukar ditebak, melenggang bebas nyaris tak kenal norma. Kalimatnya lebih nakal, seperti dalam tiga lagu pertama “Stephanie Anak Senie”, “Lagu Yang Problematik”, “Anggurman” yang hadir di Akibat Pergaulan Blues -debut albumnya.

Kadang tuturnya meracau bebas tak patuh nada layaknya Bob Dylan, namun bukan berarti dia tak mampu semanis John Denver, dua hal berbeda yang bisa kita jumpai dalam satu kepingan cakram padat. Yang pasti, saya menduga Jeje malah mewarisi absurditas a la Harry Roesli (khususnya pada album Ken Arok) dalam hal gagasan. Tengok saja bagaimana ia mencoba mengkonstruksi cerita dalam sebuah tema lagu. Menjahit kalimat demi kalimat dengan kata-kata ajaib. Namun Jeje lebih serampangan ketimbang mendiang Roesli.

Jeje-pun meramu tema berat dengan tendensi mampu mengundang gelak tawa pendengarnya. Jadi, tidak seserius menanggapi pesan yang ia maksudkan. Walaupun bisa juga ditanggapi dengan seksama atau mau dikaji secara ilmiah. Hal yang membuat saya menaruh curiga, bahwa ruh Pidi Baiq sempat bersemayam sebentar dalam lingkar akalnya.

Apabila anda pernah bergurau tentang bagaimana jadinya jika Iwan Fals dan Harry Roesli sama-sama menjadi santrinya Albert Camus, jawabannya adalah debut album Akibat Pergaulan Blues milik Jason Ranti ini. Bukan tanpa alasan, semua trek yang terkandung di dalamnya, adalah bukti absurditas bisa menjadi sebuah solusi dalam menyikapi kemelut hidup yang mulai nampak membosankan.

Sejujurnya sosok Jason Ranti menjadi alasan saya untuk kembali ke toko musik, setelah setahun kebelakang sempat malas. Pun saya anggap debut album solois Tanggerang ini penting disimak, mengingat kondisi Indonesia yang sedemikian runyamnya, tidak boleh disikapi dengan menerima begitu saja, apalagi ujug-ujug marah. Oleh karena itu, Jeje hadir seperti menawarkan pelajaran pada kita semua untuk menikmati kondisi Indonesia yang sedemikian adanya ini dengan penuh kelegaan diri serta ramuan gelak tawa namun tanpa menanggalkan sikap kritis. Ya, akhirnya pilihan jatuh pada meracau dengan gitar dan harmonika, yang mana membuat semuanya menjadi lebih baik memang.

Selain memang tutur katanya yang slengean dan tak tertebak itu, beruntungnya dipadukan cukup baik dengan permainan musiknya yang dramatik. Alunan gitarnya naik turun, menarik ulur pendengar. Mungkin itu satu-satunya keseriusan yang bisa dicerna darinya.

Album ini bisa saja berubah menjadi berbahaya jika dalam otak yang sempit terdapat prasangka yang menuduh Jeje adalah korban obat apotik yang baru saja menenggak dua ‘papan’ sekaligus lalu bingung berbuat apa, lantas meracau seenaknya. Dan melewatinya begitu saja. Saran saya sih, modal awal untuk menyimaknya ialah rasa keingintahuan yang dalam. Dengan modal itu, kita bisa pelan-pelan menelusuri makna dibalik semua kata-kata yang terkesan semrawut ini.

O ya, trek favorit saya, sudah tentu “Pulang Ke Rahim Ibunya” yang bernuansa nihilistik. Dengan kandungan kalimat paling seksi berikut ini, “Lisa buat rencana pulang ke rahim ibunya…” Saya tersenyum mendengarkan kejeniusannya meramu kalimat tersebut.

Ya, tuhan. Lingdungi dan jaga aku selalu dari Jason Ranti yang membius serupa mariyuana. Semoga tidak candu.

“Sebagai seseorang yang percaya akan Tuhan yang tidak kelihatan tapi terasa dimana-mana,” tutur Jeje, beradu dengan gemericik sungai di belakangnya yang aduhai merdunya. “Aku selaluuuuuuu berdoa. Ya, Tuhan lindungi aku selalu. Ya, Tuhan jagalah aku selalu. Dari nabi-nabi palsu. Jualan menipu.  Isi ceramah yang jauh. Karena gusti ada di hati. Ku rasa, gusti tinggal di hati.” []

Depok, 01 Juni 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s