Intisari

Pemuda Gang Tanpa Parang

godfather-gangster
Ilustrasi oleh NN.

Depok dan sekitarnya dalam beberapa waktu belakangan sedang tidak aman, apalagi kalau malam hari. Hal tersebut dikarenakan ulah para kelompok remaja yang mengklaim diri sebagai gangster. Muda/i yang rata-rata masih duduk dibangku SMP hingga SMA tersebut selalu membuat teror bagi masyarakat. Mereka berkeliling dengan menggunakan sepeda motor sambil membawa senjata tajam: parang, pedang, dll. Tidak tanggung-tanggung untuk melukai siapa saja yang mereka khendaki secara acak. Masih belum jelas apa motif dari perbuatan tidak manusiawi tersebut. Ada kabar yang beredar, mereka melakukannya semata-mata untuk eksistensi terhadap kelompok sejenis. Ada pula yang mengatakan, sebagai syarat untuk menjadi anggota gang. Dan, yang lebih menjengkelkan, mereka melakukan kekejian itu semata untuk meningkatkan ilmu kebal.

Perbuatan mereka sudah termasuk dalam kenakalan dengan kategori tinggi karena levelnya sudah sampai pada tindak penganiayaan dan meresahkan masyarakat. Lalu bagaimana hal sebrutal itu bisa dilakukan para remaja, tak bisa lepas dari faktor internal yang mempengaruhi mereka. Meminjam istilah Yulianto dalam jurnal Hubungan antara Konsep Diri dan Kecerdasan Emosi dengan Kenakalan Remaja yang dipublikasikan oleh Nusantara of Research, remaja yang melakukan kenakalan adalah mereka yang rendah dalam konsep diri. Tentang bagaimana individu memandang kondisi tubuh dan penampilannya (aspek fisik) dan bagaimana individu memandang kemampuan dirinya, harga diri serta rasa percaya diri (aspek psikologis).

Dalam kasus gangster di Depok, aspek fisik dan psikologis mereka terlihat dari bagaimana mereka secara sadar menggunakan sosial media untuk memperlihatkan kebrutalan yang mereka lakukan kepada khalayak. Entahlah, apakah ini trend baru dikalangan remaja ? Pamer sadisme di mana-mana. Ataukah ini justru bentuk frustasi sebagian remaja seperti mereka, yang kehabisan akal untuk menuai popularitas di jagat maya ?

Jika memang popularitas di balik semua ini, saran saya, adik-adik gangster itu lebih baik mendaftarkan diri ke dalam Takis Entertainment supaya mendapat didikan dari junjungan millenial Young Lex dan Awkarin. Barangkali bisa menjadi rapper atau vlogger dengan kualitas lebih baik ketimbang dua nama yang saya sebutkan itu.

Tidak ada yang tidak mungkin sih…

Menjadi remaja adalah perkara transisi, dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Proses perkembangan tersebut, yang membuat karakteristik remaja begitu dinamis dengan rasa ingin tau tinggi, loyalitas pada kelompok, serta pencarian jati diri untuk menemukan kelak menjadi apa. Bisa dikatakan pula remaja adalah individu yang belum jejak dalam melangkah, arahnya masing angin-anginan. Sesuatu yang sebetulnya masih bisa dimaklumi, namun tidak pada kasus remaja gangster ini. Mengingat tindak-tanduk mereka yang jauh dari kata biasa saja.

Walaupun remaja dikatakan memiliki loyalitas pada kelompoknya, namun saya urung terlalu jauh mengkomentari faktor eksternal mereka. Saya juga tidak tau sama sekali bagaimana lingkungan para remaja gangster itu.

Namun bagi saya, penting untuk siapapun khususnya remaja untuk berkesenian dalam lingkup lokal. Seperti membuat band setingkat Rukun Tetangga, kelompok teater tingkat Rukun Warga, dan festival setingkat Kelurahan misalnya. Atau dengan bentuk-bentuk lain, yang mana ditujukan untuk semua lapisan masyarakat dalam lingkup tersebut, setidaknya dapat saling menikmati. Dengan begitu warga satu dan lainnya saling mengenal bahkan membaur. Tidak merasa jauh, walau rumah nyatanya berdekatan. Pun hal-hal tersebut untuk menanggulangi kemungkinan sekat sosial berdiri di antara masyarakat.

Kebencian bisa disebabkan dari hal paling sepele, karena tidak saling mengenal, yang munculnya perlahan dari bentuk prasangka. Saya sepakat pada pepatah ‘Tak kenal maka tak sayang’. Jika benci saja sudah tumbuh, maka tindak kejahatan yang lebih lanjut, begitu potensial terjadi.

Seperti kemarin malam, menjelang sahur….

Saya mampir ke rumah salah satu kawan dibilangan kampung Cagar Alam, Depok. Posisi rumah yang harus masuk ke dalam gang kecil dengan jalan penuh belokan. Kehadiran saya malam itu memang diniatkan untuk nongkrong sekaligus menyimak proyek orkes yang sedang digarapnya.

Sesampai di rumahnya, beberapa orang sudah dengan alat musiknya masing-masing, termasuk kawan saya itu. Lalu beberapa orang lainnya mengelilinginya untuk tak sabar menantikan pertunjukan alakadarnya itu, yang sebenarnya hanya proses latihan. Tak berapa lama, mereka pun mendendangkan beberapa lagu. Mulai dari karya sendiri dan beberapa cover dari sejumlah musisi seperti Hamdan Att, Exist, hingga Cock Sparrer dan The Cure. Dentuman gendang khas orkes yang sedikit bernuansa koplo, tentu tidak bisa dipungkiri mampu mengundang perhatian telinga untuk kemudian memberi perintah pada anggota tubuh berjoget.

Posisinya ketika itu sudah tengah malam, namun tidak satu pun warga yang datang untuk memberhentikan geliat kami. Beberapa bapak-bapak yang sedang ronda bahkan sempat mampir, melempar dagelan, lalu pergi membiarkan. Kami semakin masyuk berdendang, sebagian menyimak, sisanya ada yang sembari menyicipi Intisari.

Kami yang hadir malam itu berasal dari usia belasan hingga puluhan, dan latar belakang sosial berbeda, dengan total kurang lebih sepuluh orang. Kami berkumpul hanya untuk satu tujuan berkumpul. Musik hanya penarik dan perekatnya saja.

PEDAGANG pemuda dalam gang , #orkeslaughscooterandmanymore #orkeslangsungasalcagaralam #kuatlakonigakuattinggalngopi #orkeslah

Sebuah kiriman dibagikan oleh Oli Samping (@olsam__) pada Mei 21, 2017 pada 10:50 PDT

Hingga akhirnya aktivitas bermusik lebih dari sekedar ajang mengekspresikan diri si pemainnya, pun untuk mencegah munculnya prasangka dan lahirnya kebencian di tengah kehidupan warga.

Malam itu bisa berlangsung khidmat, bukan karena kawan saya dan tim orkesnya adalah ‘Bang Jago’ kampungnya. Yang orang lain, tidak berani menegurnya lantaran takut. Ataupun salah satu dari mereka anak pejabat kampung setempat, apalagi anak kolong. Tidak.

Semua itu bisa terjadi karena proses komunikasi mereka dengan warga lainnya yang terbangun dan berjalan baik. Mereka tau keriuhan seperti apa yang bisa dibawa kepada khalayak, kendati sudah tengah malam juga. Sebab itu pemilihan lagu disesuaikan, selain memang mereka adalah anak-anak yang menyukai karya lawas.

Pada akhirnya, semua ini hanyalah soal metode. Rumusnya saling berkenalan dan membuka jaringan.

Jika semua wilayah mempunyai grup musiknya sendiri (atau kesenian lainnya). Mungkin saja urusan gangster ataupun segala macam pertikaian hari ini, sedikit kemungkinan untuk terjadi.

Saya menyempatkan untuk merekam dua lagu milik Orkes Oli Samping dengan handphone seadanya. Satu karya sendiri dan milik The Cure. Untuk versi lebih lengkap dan profesionalnya, dalam waktu dekat mereka akan segera masuk rekaman.[]

Depok, 04 Juni 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s