Intisari

Nenek Mengajariku Tak Bergantung Pada Kapitalisme

nenek-iyum
Nenek Iyum Alm.

USIA saya baru menginjak delapan ketika kami sekeluarga menggelar acara makan bersama di sebuah restoran waralaba siap saji. Menikmati momen bareng keluarga di restoran tersebut, memang seperti trend baru ketika itu. Setidaknya bagi kami yang tergolong kelas menengah. Jadi kalau sedang ada perayaan apapun seperti ulang tahun atau hanya kumpul-kumpul, menghabiskan waktu di sana.

Seperti anggota keluarga lainnya, sayapun selalu memilih menu andalan restoran terserbut. Apalagi kalau bukan setumpuk nasi yang dibungkus kertas, ayam tepung yang garing, dan kola. Tentu setelah menu itu selesai disantap, saya pasti memesan es krim sebagai hidangan penutup.

Kami sekeluarga selalu menikmati menu yang ada, bersuka cita seperti sebelumnya tidak pernah menyantap nasi dan ayam secara bersamaan. Tapi tidak dengan Nenek Iyum yang ketika itu usianya menjejaki angka setengah abad. Nenek biasanya selalu menolak, jikapun kadangkala dia memakannya juga, namun setelah dibujuk oleh salah satu dari kami. Kadang Nenek justru menolaknya secara keras, pun jika sempat malah membawa bekal sendiri dari rumah.

“Kagak berasa makan. Makanan apaan ntu.” ujar Nenek dengan logat Betawi-nya, sedikit ketus dan penuh keraguan.

Mendengar reaksinya, kami sekeluarga selalu menertawainya dengan hati-hati, takut tersinggung. Pun memakluminya sebagai orang tua yang konservatif. Saya yang masih terlalu kecil ketika itupun, menaruh keheranan walaupun tidak terlalu peduli dengan ucapan Nenek.

Setelah bertahun-tahun berlalu dan saya memasuki bangku perkuliahan. Saya tinggal bersamanya, karena sebagian keluarga memutuskan pindah kota. Di bawah pengawasan orang tua yang longgar, otomatis membuat saya memiliki otoritas penuh terhadap diri sendiri, termasuk soal makanan. Karena ketika itu saya cukup sibuk berorganisasi di dalam dan luar kampus, membuat pola makan tidak teratur. Saya selalu absen makan di rumah Nenek, malah terkadang membeli makanan siap saji di luar lalu memakannya di rumah.

Satu waktu Nenek tiba-tiba berseloroh, “Ceking amat lu. Kayak orang “make”. Makan apa yang banyak.” Saya menjawabnya santai dan menjelaskan kalau badan kurus bukan dikarenakan substansi aneh-aneh yang saya konsumsi. Bukan juga karena tidak makan samasekali.

“Mana kagak pernah Nenek liat lu makan ?” timpalnya lagi. “Masakan gue masih utuh mulu tuh. Kagak doyan lu makan ama tempe ?!”

Tentu yang Nenek maksud adalah, dia jarang melihat saya makan masakannya yang tersaji di meja makan rumah. Serta dia cukup satir dengan menyebut saya tidak menyukai tempe, padahal di sendiri tau, saya penggemar berat jenis makanan berbahan biji kedelai itu. Nenek pun tidak sungguh-sungguh ingin berkata demikian. Hal tersebut sebenarnya adalah ekspresi kerinduannya melihat cucunya yang mendadak rantau ini, menikmati hidangan hasil olahannya sendiri.

Hingga saking tak tahan menahan kerinduannya, kadang Nenek mengekspresikannya dengan cukup ketus. “Makan di luar mulu, gimana mau gemuk ? Makan di rumah, pan udah dimasakin. Nanti kalau Emak lu liat kurus begini, disangka kagak dikasih makan di sini.” Pada akhirnya saya mengurangi kebiasaan membeli makanan di luar dan sebisa mungkin, sesibuk apapun makan masakan Nenek di rumah.

Dalam satu kesempatan saya sedang sarapan sebagai amunisi untuk berangkat kuliah. Nenek menemani saya makan. Sayur lodeh, tempe goreng, nasi putih, dan telur mata sapi menjadi menu hari itu, tentu hasil olahannya sendiri. Tidak sekedar menemani sarapan, Nenek juga memberi satu pelajaran, sekaligus penjelasan atas sikapnya meminta saya untuk sebisa mungkin makan di rumah.

“Orangkan bikin makanan untuk dagang, niatnya untuk nyari untung. Gimana lu mau gemuk ? Makan di rumah kan enak. Duit lu irit. Gue bikinnya juga pake niat biar lu kenyang,” ujarnya.

Ucapannya itu yang saya maksud sebagai sebuah pelajaran. Secara tidak langsung Nenek sedang mengkritik bisnis pangan kapitalisme, tentu tanpa pretensi ke arah sana. Murni penalarannya sendiri. Selain itu sikap Nenek adalah perwujudan paling natural dan ringan dari yang apa dikampanyekan kelompok Adbuster melalui Buy Nothing Day nya, sebagai kritik terhadap budaya konsumerisme.

Pikiran saya langsung memutar balik ke momentum makan bersama di restoran waralaba siap saji beberapa tahun silam itu. Jika ketika itu saya ikut mentertawainya dalam diam dan menganggapnya kuno karena tidak bisa menyantap ayam tepung. Sekarang saya paham, ternyata Nenek secara tidak langsung telah melakukan penolakan. Apa jangan-jangan secara sembunyi, Nenek mempelajari buah pikir Alexander Berkmen ? Apakah dia juga membaca jurnal Apokalips ? Tidak. Sikapnya murni lahir begitu saja.

Sekedar info, Nenek lahir beberapa tahun setelah Bung Karno mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia dan tumbuh dilingkungan Nahdliyin Jakarta. Dia hidup tanpa pendidikan mumpuni, hanya tamat sekolah rakyat, yang setara sekolah dasar sekarang. Tentu mustahil dia membaca Berkmen ataupun literatur lainnya. Sebab, setahu saya, membaca saja sulit dilakukannya.

Setelah menyelesaikan sarapan, saya pamit pergi ke kampus dengan menyisakan pertanyaan dalam benak: Apakah orang Indonesia memang memiliki kodrat sebagai anarkis ? []

Depok, 06 Juni 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s