Intisari

Keanehan Idul Fitri

Sejarah-Makna-dan-Filosofi-Ketupat-dalam-Tradisi-Lebaran

Kalaupun ada satu hari paling teraneh dalam hidup, maka hari itu adalah hari Raya Idul Fitri. Selain pada hari itu, meja makan kami berjubel berbagai makanan dan kue yang pada hari biasanya tak tampak.  Pada hari itu juga, setiap ruang kehidupan banjir dengan kata ‘maaf’ yang muncul lebih sering dari pada biasanya.

Selepas Ied, saya mengikuti tradisi keluarga untuk berkeliling. Mula-mula dari rumah tetangga terdekat hingga yang jaraknya terlampau beberapa RT. Hingga lalu, menuju sanak keluarga yang terjauh sekalipun. Tak lain dan tidak bukan, kami semua ingin mengucap ‘maaf’ yang nanti disambut ‘maaf’ dari orang yang kami datangi. Tidak ada kata paling populer di hari besar umat Islam se-dunia, selain ‘maaf’.

Hal yang membuat saya merasakan satu hari paling aneh dalam hidup. Betapa tidak, mudah sekali kita semua mengumbar kata ‘maaf’ lalu saling berpelukan. Dalam sekejap, siapa yang sedang bertikai, kemudian meluntur bencinya. Siapa yang sedang terlibat sayang, semakin erat dalam kasihnya. Namun, selang beberapa saat kemudian, semua kembali dalam lingkar permusuhan. Apa artinya ‘maaf’ kita kalau begitu, pikir saya. Idul Fitri tak ubahnya upacara tahunan yang terus menerus dirayakan tanpa hakikatnya sama sekali.

Katanya Idul Fitri berarti kembali ke fitrah. Di mana manusia seperti terlahir kembali, layaknya bayi yang pertama menghirup udara bumi. Namun segampang itu kita mengotori diri sendiri lagi setelah semuanya selesai.

Dalam beberapa tahun kemudian, saya merasa malas dan tak bergairah merayakan hajat tahunan ini. Sebab tak tahan melihat tradisi yang nampak formalitas itu. Saya merasa pengap di tengah harum opor ayam dan uang baru. Saya merasa sepi di tengah gegap gempita mereka yang merayakan. Pun, saya merasa palsu di tengah rapalan ‘maaf’ orang kebanyakan.

Sebelum saya sampai pada titik menolak Idul Fitri yang penuh kepalsuan dan banjir ‘maaf’ itu. Seseorang yang dekat dengan saya namun seringkali terabaikan, tiba-tiba datang berkunjung di sela dinginnya pagi.

Beliau duduk dan berkata, “Memang Idul Fitri seperti itu. Momentum untuk kita saling maaf-memaafkan.”

“Halah! Buat apa kalau baru memaafkan lalu saling bermusuhan lagi, menebar benci lagi. Terus tahun berikutnya memaafkan lagi. Terus berulang seperti itu. Buat apa ? Palsu! Apa faedahnya. Minim esensi.” Sanggah saya, membabi buta.

“Sebab itu, Idul Fitri selalu dirayakan setiap tahunnya,” timpalnya.

“Lantas buat apa kita rayakan Idul Fitri setiap tahun ? Kalau memaafkan bisa kapan saja.”

“Untuk mengajarkan pada kita semua, manusia yang lemah ini, untuk tidak terlalu serius dalam bermusuhan dan janganlah masyuk memupuk benci. Serta, mengajarkan kita juga tentang pentingnya memberi celah pada ‘maaf’ dalam hati yang mudah mengeras. Sebab itu Idul Fitri selalu datang setiap tahun dan membawa segudang pelajaran ini pada kita semua.”

“Tapi..tapi…” saya coba menanggapinya lagi. “Kenapa Idul Fitri tidak membuat kita untuk terus hidup dalam keharmonisan setelahnya ?”

“Kenapa Ibumu tidak cukup sekali memberimu makan ?” Seseorang yang dekat dengan saya namun seringkali terabaikan itu malah balik bertanya.

“Karena saya punya rasa lapar. Mana mungkin hanya makan dan minum satu kali untuk seumur hidup. Ngaco!”

Beliau hanya tertawa dan menempeleng kepala saya. “Manusia itu makhluk lemah yang bisanya merasa-rasa kuat. Makhluk bodoh yang bisanya merasa-rasa pintar. Sebab itu Idul Fitri tidak bosan datang setiap tahunnya, untuk mengingatkan kita pada hakikat siapa kita sebenarnya.”

“Berarti saya tidak bisa kembali ke fitrah dan terlahir seperti bayi, hanya dengan mengikuti satu kali Idul Fitri dong ?”

Beliau hanya mengangkat bahunya dengan malah berkata lain, “Jangan lupa makan, supaya badanmu tumbuh.” Lalu beliau pamit, pergi begitu saja di tengah pagi yang mulai menjelma siang.[]

Depok, 23 Juni 2017

p.s. Selamat Idul Fitri bagi kita semua. Maafkanlah saya barang semenit untuk semua tindak-tanduk selama ini. Barangkali semenit maaf tersebut, mampu memperbaiki setahun kesalahan saya pada kalian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s