Intisari

Belajar Menjadi Dukun

Abstract-Fantasy-skulls-vampires-nails-candles-font-b-witches-b-font-canvas-font-b-painting-b

SELEPAS menjadi sarjana pada pertengahan tahun lalu, saya gamang karena belum juga mendapatkan pekerjaan. Berkali-kali melempar CV, mulai dari media massa idola saya, sampai perusahaan farmasi yang butuh jasa Content Writer. Tapi namanya belum rezeki, urung dapat.

Melihat keponakannya sedang kelimpungan mencari kerja, salah satu Mamang saya menyarankan untuk membuka praktik dukun. Sebuah solusi yang saya kira terlalu mengada-ada. Menurutnya daripada tidak ada pemasukan sama sekali. Tapi, nggak harus jadi dukun juga sih. Mamang saya kadang suka ada-ada saja memang. Suka ekstrim memberikan jalan keluar. Padahalkan bisa saja dia menyarankan saya membuka kedai es goyobot atau kupat tahu, misalnya.

Karena anjuran menjadi dukun tidak solutif, maka saya urung terima masukan Mamang. Lagi pula, jika diterimapun, bingung harus mulainya dari mana. Apakah saya harus kuliah lagi mengambil jurusan Ilmu Perdukunan ? Atau tirakat yang macam-macam ? Pokoknya nggak deh.

Mendapati saya menolak idenya, Mamang malah senyum. Dengan tetap berusaha meyakinkan saya pelan-pelan bahwasanya menjadi dukun versi dia itu mudah. Mamang bisa bilang begitu karena ternyata dulu waktu masih melajang pernah menjadi dukun. Hal yang baru saya ketahui sekarang.

Ketika itu Mamang baru saja resign dari pabrik di daerah Tanggerang karena konflik dengan teman kerjanya. Karena bingung harus bagaimana lagi mencari uang di Ibu Kota, dia pulang ke Garut. Entah dari mana muasalnya, tiba-tiba dia memberanikan diri mengklaim sebagai dukun.

Baru saja membuka praktik perdukunannya. Mamang kedapatan satu pasien yakni seorang petani dari Cianjur. Pada Mamang petani itu berkeluh kesah soal lahan garapannya yang selalu gagal panen, sementara sudah banyak dana yang keluar tanpa balik. Petani itu meminta pada Mamang untuk membuatkan satu ajian sakti mandraguna, supaya bisa melancar jayakan usahanya. Tanpa pikir panjang, pun bukan hal sukar, Mamang langsung mantab mengiyakannya.

“Mamang bilang ‘Tunggu dulu sebentar yah’, terus Mamang tinggal masuk ke kamar,” ujar Mamang memperagakan ulang dialog ketika itu.

Di dalam kamar pribadinya, Mamang menuliskan sesuatu dalam sehelai kain putih yang kemudian dibuntal sedemikian adanya. Dalam hitungan menit, Mamang sudah menyerahkan kain tersebut kepada petani yang telah menunggu dengan harap.

“Kain ini kamu masukan di dalam bambu yang di potong menjadi dua bagian pada bagian tengahnya. Lalu bambu tersebut kamu pasangkan di salah satu sudut sawah. Dijamin panen,” ujar Mamang meyakinkan petani itu yang ingin langsung bergegas melaksanakan perintahnya. Tentu dengan meninggalkan sejumlah uang sebagai gantinya.

Setelah berbulan-bulan, petani itu datang lagi. Tangannya tidak kosong melompong, dibawanya buah-buahan dan sembako sebagai hadiah atas keberhasilan Mamang saya. Tidak hanya itu, petani tersebut juga membawa adiknya yang hendak membuka lahan garapan di Tasikmalaya.

Seperti biasa, Mamang saya selalu menyuruh mereka menunggu dan dia masuk ke dalam kamar untuk menuliskan sesuatu di atas kain. Setelah diberikan kain tersebut, adik petani itu malah mentertawai Mamang saya.

“Yang benar saja, Kang. Masa begini sih,” kata adik petani itu seraya tak percaya dengan apa yang Mamang berikan.

“Memang seperti itu.”

“Saya mau yang sama seperti Aa.”

“Kalau tidak percaya coba ambil punya si Aa. Lalu kita samakan di sini.”

Singkat cerita adik-kakak petani itu pergi ke Cianjur dan kembali lagi ke Garut dengan membawa kain pertama. Setelah dibuka isinya dan dijejerkan dengan kain kedua, isinya memang sama. Mamang saya tidak menuliskan sesuatu yang beda diantara dua kain tersebut.

“Tuh, kan sama ?” ujar Mamang.

Adik petani itu ketawa. “Kalau cuma begini saja mah saya bisa. Yang beda gitu, Kang.”

“Saya cuma bisanya itu. Tapi yang saya tulis benar tidak ?”

“Ya, benar kang. Hanya kalau seperti ini saya juga bisa,” tegas adik petani itu lagi. Kakaknya hanya bingung melihat apa yang dua orang itu bicarakan.

Hal yang membuat adik petani itu tertawa ialah karena Mamang saya menuliskan tips bercocok tanam alakadarnya bahkan sangat mendasar, dengan menggunakan aksara Arab gundul. Yang mana adik petani itu mampu pahami, sementara tidak pada kakaknya.

Kurang lebih Mamang saya menuliskannya seperti ini.

Cara bercocok tanam yang baik dan benar:

  1. Pilih bibit yang tepat
  2. Pupuk yang benar
  3. Sistem perairan yang cukup
  4. Terus berusaha dan yakin
  5. Berdoa pada yang maha-esa agar beri kelancaran

Setelah kejadian itu berlalu berbulan-bulan, adik petani itu menuai gagal panen, hal yang berbeda dengan kakaknya. Hal tersebut terjadi lantaran, menurut Mamang, tidak adanya keyakinan pada diri adik petani untuk bisa menggarap sawah dengan benar. Berbeda dengan kakak petani, yang kadung yakin dengan kain putih pemberian Mamang.

Kakak petani itu, menurut Mamang, meyakini bahwa tulisan Arab gundul panjang lebar itu sebagai sebuah doa yang suci. Padahal jika saja dia bisa sepintar adiknya, maka ia pun pasti akan tertawa. Mendapati susunan kalimat yang dikiranya doa, ternyata hanyalah sebuah panduan tata cara pertanian yang tak ubahnya bisa ditemui di majalah agrobisnis.

Kembali ke saya dan Mamang. Dia menanyakan ulang, kali ini dengan nada yang bercanda, soal tawarannya membuka praktik dukun. “Bagaimana, gampangkan jadi dukun ? “

Saya hanya meresponnya dengan ketawa saja.

Mamang menyudahi berpura-pura sebagai orang “pintar” setelah bosan menipu orang yang enggan belajar terus menerus. Pun di lain sisi, dia mau mencari peruntungan yang berkah dari Sang Raja Manusia, setelah memutuskan mempersunting gadis cantik dari daerahnya.

“Belajar bahasa Arab. Supaya tidak mudah dibohongi orang,” pungkas Mamang, menasehati saya.[]

 

Depok, 03 Juni 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s