Cerpen

Doa Kretek dan Kopi

cangkir-kopi-dan-rokok-yang-sudah-dilelet
Foto: Komunitas Kretek

Senyum itu terus merekah dari wajah Kacung yang bulat, yang dipajang sepanjang kakinya melangkah menuju rumah. Mulutnya pun sesekali  bersenandung samar, entah lagu apa yang dilantunkan. Kedua tangannya bergerak seperti mengikuti irama, sehingga plastik hitam di tangan kanan yang berisi shampoo titipan Emak dan sebungkus kretek pun ikut bergoyang. Si Kacung nampak asik dengan dirinya sendiri.

Si Kacung persis pemuda yang cintanya diterima oleh puan tercantik sekampung. Tapi ini bukan perkara cinta, Si Kacung hanya tak sabar ingin segera keramas. Sebab rambutnya yang gondrong sudah mulai berminyak, bau tengik, dan gatalgatal. Langkahnya kian pasti menuju rumah, sembari membayangkan sejuknya air kolam yang membilas busa shampoo di kepalanya.

“Makkkkkkkkkkkkk,” panggil Si Kacung dari depan pintu rumahnya. “Shampoonya, sudah Kacung beli nih.”

“Kebiasaan lu anak sundel, bukannye salam dulu. Main teriak aje!” timpal Emak. “Mana sini pesenan Emak.”

Si Kacung memberikan kantong plastik hitam itu dengan sumringah. “Ngapah, muke lu seneng begitu ?” tanya Emak, sembari menerima kantong plastik hitam tersebut.

“Tadi Kacung abis dapet kretek gratis, Mak, dari Mpok Seli.”

Si Kacung mulai menuturkan cerita. Sewaktu ia sedang menunaikan tugas dari Emaknya untuk ke warung Mpok Seli, Kacung mendapati wajah Mpok Seli sedang bermuram durja di hadapan layar smartphone miliknya. Si Kacung tanya mengapa, ternyata Mpok Seli sedang sedih sebab upayanya membuat akun Facebook gagal terus. Padahal Mpok Seli ingin menjumpai kawankawan lamanya melalui jejaring sosial tersebut.

“Kata Ipar gua, dia bisa reunian SMP, gegara Facebook. Gua juga mau kan, Cung. Kangen gua sama tementemen SMU dulu,” ujar Mpok Seli dengan wajahnya yang sedikit memelas.

Mungkin dalam pandangan Mpok Seli, Facebook adalah aplikasi jalinan kasih yang secara otomatis mempertemukan kita pada orang-orang yang pernah hadir dalam hidup kita dulu. Kenyataannya, kita bisa menjumpai orangorang tersebut apabila mereka memiliki akun Facebook juga. Tapi Si Kacung tak mau menyoalkan hal itu, dengan segera ia membuatkan akun untuk Mpok Seli.

“Terimakasih yah, Cung. Akhirnya gua bisa reunian nih,” Mpok Seli menjadi senang, bibirnya memancarkan senyum. “Lu mau beli apaan, Cung ?”

“Shampoo buat Emak tiga biji sama shampoo buat saya satu biji aja, Mpok.”

Hanya hitungan sepersekian detik pesanan Si Kacung disiapkan Mpok Seli berikut bonus sebungkus kretek Nojorono sebagai imbalan telah membuatkannya akun Facebook. Berhubung kemarin absen menghisap kretek dikarenakan tak punya uang untuk membelinya, tentu Si Kacung menerimanya dengan senang hati.

Kembali ke Si Kacung dan Emaknya di rumah. Emak menyimak dengan seksama, sambil sedikit-sedikit mengingat sesuatu. Perasaannya ada yang mengganjal, fokus perhatiannya berpindah tanpa Si Kacung ketahui. Pikiran Emak mengawang mencari-cari apa yang mengganjal.

“Pisang goreng sama Kopi nya mana?” potong Emak dengan sigap. “Cuma ada shampoo sama kretek doang nih. Jangan-jangan…..” Emak melempar pandangan tajam untuk Si Kacung.

Si Kacung pasang senyum kuda dan wajah polos. “Kacung lupa ke warung Mak Ijah, Mak.”

Emak menjawab dengan menggelengkan kepala. Tanda bahwa Si Kacung harus segera menuntaskan tugasnya yang belum selesai.

***

Si Kacung duduk membelakangi Mak Ijah yang sedang asyik menggoreng singkong dan bakwan. Segelas kopi  yang masih hangat dan sebungkus kretek menemani Si Kacung yang menunggu giliran Mak Ijah menggoreng pisang pesanannya. Warung Mak Ijah tampak sepi, tak ada suara siaran radio seperti biasanya, hanya ada suara minyak yang gemericik, dan penggorengan yang beradu dengan spatula.

Asap putih keluar dari mulut Si Kacung menghiasi langit-langit. Ia tersenyum menatap kretek yang terhimpit disela jemarinya. Setelah sekian lama tak bisa membeli kretek, akhirnya ia bisa menikmatinya lagi. Tangan kirinya sesekali menggaruk rambutnya yang gondrong, gatal sekali rupanya, setelah itu diantarnya tangan kiri itu menuju ujung hidung. Hhmmmm…. aromanya persis jelantah.

Secara misterius  Sukribo muncul entah dari mana dan langsung mendaratkan pantatnya tepat di samping Si Kacung yang hanya terdiam memperhatikan Sukribo. Ia mendadak muncul tanpa pertanda apa pun.

“Ampun… ampunnnnn,” seru Sukribo.

Si Kacung makin terheran melihat kawannya yang satu ini. “Lu kenapa, Kribo ? Dateng-dateng minta ampun sama gua.”

“Bukan kamu Cung. Tapi Dewi.”

“Ohhh….” Si Kacung berusaha tak acuh sebab tak punya kompetensi mengurusi privasi orang lain.

Tanpa diminta Si Kacung, Mat Kribo lantas saja bercerita. “Daku lapar, Cung. Abis pulang narik becak. Eh, di rumah tak ada makanan. Daku kesal!”

Si Kacung merasa tak enak hati sebab Sukribo secara kalap terus menceritakan kehidupannya bersama istrinya. Beberapa kali Si Kacung mencoba mengalihkan pembicaraan, tetap saja Sukribo balik lagi ke topik awal. Sepertinya Sukribo benarbenar dalam tensi yang panas. Sukribo benarbenar memaksakan telinga Si Kacung sebagai muara pengaduan batinnya.

“Booo.” Si Kacung kembali memotong obrolan. “Lu tenang dulu deh, Bo. Tarik nafas panjang. Buang.”

Sukribo mengikuti anjuran Si Kacung, ia mencoba menstabilkan emosinya. “Cung, bagi kreteknya yah?”

Si Kacung mengangguk. Itu lebih baik dari pada ia harus mendengarkan urusan pribadi orang lain. Dalam diam Si Kacung menghela nafas panjang juga.

Sukribo membakar kretek, asap putih berhembus dari bibirnya yang tebal, saling menyusul dengan asap kretek milik Si Kacung. Sukribo berganti topik, kali ini menceritakan pengalamannya seharian mengikuti demonstrasi bersama teman seprofesinya, untuk menuntut dicabutnya kebijakan baru yang ditetapkan oleh pihak manajemen.

Tempat Sukribo bekerja menetapkan kebijakan Prima bagi para penarik becaknya. Prima sendiri adalah alat ukur kinerja dengan skala 0% sampai 100%, di mana ketika penarik becak mencapai Prima 50% maka mereka akan mendulang bonus. Hal tersebut dirasa membebani para pembecak. Sebab mereka harus ekstra keras meraih atau pun mempertahankan Prima 50%. Sedangkan beberapa hal seperti menolak dan mengabaikan orderan bisa menurunkan Prima. Hal tersebut yang dirasa memberatkan sehingga mendorong ribuan pembecak melakukan aksi demonstrasi menuntut ditiadakannya Prima tersebut, sebab dinilai merugikan mereka.

“Tuntutan daku sebenarnya bukan dihapuskannya Prima. Daku tak masalah dengan itu, toh itu hanya bonus yang diberikan kantor. Namun bukan berarti daku tidak menginginkan bonus juga. Kami hanya menuntut kejelasan aturan main Prima itu. Misalnya, apa yang menentukan Prima itu naik? Apakah jarak daku mengantar penumpang? Berapa persen kenaikannya? Lalu jika menolak atau mengabaikan orderan berapa persen juga Prima daku akan turun? Sayangnya kami semua tak ada yang mempersoalkan itu. Mau langsung dicabut saja, seperti perusahaan punya nenek moyang kita.”

“Seharian ini lu gak dapet orderan dong?”

“Yah nggak lah, Cung. Kami sepakat tidak narik hari ini. Ada pun yang narik, mereka pasti jadi olokolokan yang lain. Kasihan sebenarnya.” Sukribo seketika termenung.

Si Kacung hanya menganggukkan kepala sambil menatap ramah kawannya.

“Astaga, daku lupa!” teriak Sukribo yang sontak mengagetkan Si Kacung. “Uang belanja Dewi masih ada atau tidak yah? Daku izin pulang dulu. Terima kasih Cung untuk kreteknya.”

Datang secara tiba-tiba, pergi secara mendadak. Si Kacung menggelengkan kepala sembari mengeluarkan senyum kecil. Ia tidak kesal, hanya merasa lucu saja dengan Sukribo.

Sementara menunggu Mak Ijah yang belum selesai menggoreng, Si Kacung kembali menghisap kretek. Betapa kagetnya ketika tahu bahwa sisanya hanya tinggal lima batang.

“Isinya 10 batang. Gua baru bakar dua batang. Dasar Sukribooooooooo…” Si Kacung melempar pandangan ke arah jalan yang ditempuh Sukribo pulang. Senyum kecilnya keluar lagi. “Gapapa, masih ada lima batang.”

Ia hisap kretek sebatang lagi, sehingga menyisakan empat batang dalam bungkusan. Sekepul asap untuk sehirup kopi hitam manis. Sore itu berasa tenteram sekali bagi Si Kacung. Angin semilir menyapa dirinya, seperti memberi tanda bahwa hujan akan segera tiba.

“Weh ada Si Kacung,” tegur Abdi yang entah datang dari mana.

“Dari mana mau kemana lu, Di ?”

“Lagi cari inspirasi, Cung.” Jawab Abdi sembari mendaratkan pantatnya yang tepos di samping Si Kacung.

“Ditanya dari mana mau kemana, jawaban lu kemanamana.”

“Hahaha. Bagi kreteknya yah. Sebatang aja,” kemudian dibakarnya kretek Si Kacung sehingga tersisa tiga batang. Asap putih dari mulut Abdi kini yang menghiasi warung Mak Ijah. “Gua lagi dapet tugas dari Pak Lurah, Cung. Disuruh nulis artikel inspiratif untuk mading kampung kita. Gua bingung, pengalaman hidup gua begini-begini aja, kagak ada yang menarik apalagi inspiratif.”

“Yah kalau begitu buat aja kisah inspiratif dari orang lain,” usul Si Kacung sembari melepaskan asapnya. Buzzzzzzzz…

Abdi berdiri lalu maju selangkah di hadapan Si Kacung. Jari jempol dan telunjuknya, mengelus dagunya yang tirus, berkalikali. “Boleh juga. Baiklah. Saya ke rumah Pak Lurah dulu untuk membicarakan hal ini. Terimakasih untuk kreteknya, Cung.”

Si Kacung hanya mengangguk, perlahan demi perlahan Abdi luput dari pandangannya. Meninggalkan Si Kacung dan Mak Ijah yang masih sibuk menggoreng. Lirikan matanya menuju bungkusan kretek yang menyisakan tiga batang. Lumayan, dalam hatinya ia berkata.

Dari kejauhan Si Kacung melihat Ngkong Buyut yang baru pulang dari rumah istri keduanya. Langkah Ngkong Buyut masih gagah meski usianya sudah tujuh puluh sembilan tahun lebih duabelas bulan. Tanganya kekar menenteng pancingan.

“Belum pulang lu, Cung ?” tanya Ngkong yang melangkah mendekati Si Kacung.

“Sudah, Ngkong. Ini lagi disuruh Emak ngambil pisang goreng sama kopi.”

“Gua numpang rebah dulu deh di sini,” Ngkong Buyut mendaratkan pantatnya. “Warga kampung sebelah lagi kisruh soal pemilihan lurah baru tuh, Cung.”

Si Kacung hanya terdiam, menanti kelanjutan cerita dari Ngkong Buyut. “Eh ada kretek nih.”

“Bakar, Ngkong,” Si Kacung mempersilakan, Ngkong Buyut membalasnya cengar-cengir. Kode itu diterima dengan baik. Si Kacung ikut membakar kretek yang baru sebagai temannya menyelami berbincang dengan Ngkong Buyut. Alhasil kreteknya sisa satu batang.

“Gua heran banget sama orangorang,” Ngkong mulai bercerita. Asap putih mulai mencuri celah, keluar dari bibirnya yang keriput. “Kelompok pendukungnya Sukam sama kelompok pendukungnya Jali saling main ejek.  Saling pamer visi-misi calonnya masingmasing. Alah, ribet. Padahal visi-misinya sama, untuk memajukan kampungnye. Tapi dibikin seolah-olah ada bedanya dan dibandingbandingkan. Kalau gua warga kampung situ, gua kumpulin tuh Sukam sama Jali. Gua bakalan bilang, ‘Lu berdua mending jadi pemimpin aja sekalian, gantigantian. Sebulan sekali kek, atau setahun sekali kek. Bikin runyam warga kampung sendiri aja lu pada. Jadi lurah juga belum!’ Nah kelarkan tuh jadinya.”

Si Kacung hanya tertawa mendengar Ngkong bercerita. Ngkong Buyut selalu menjadi panutan Si Kacung secara diamdiam.

“Cung,” Mak Ijah menyelak obrolan. “Emak beli gas dulu yah. Lu tolong tunggu di sini. Sebentar.”

“Kalau gitu gua juga lanjut jalan lagi dah, Cung,” ujar Ngkong.

“Mau kemana, Ngkong ?” tanya Si Kacung.

“Biasa. Lu kayak kagak tau gua aja.”

“Paling nyari pelet buat besok mancing lagi,” tebak Si Kacung sambil mengedipkan mata kanannya.

“Nah, itu lu udah mulai pinter.”

Secara berbarengan Mak Ijah dan Ngkong Buyut berjalan ke dua arah berbeda, meninggalkan Si Kacung sendirian di warung. Si Kacung melirik bungkusan kreteknya yang tersisa sebatang dan kopi yang mulai habis. Tangan kanannya merogoh kocek celana, nihil ia dapati. Helaan nafas panjang keluar dari mulutnya. Sementara menunggu Mak Ijah balik dari membeli gas, Si Kacung hanya termenung sendirian. Mau dibakar lagi kreteknya, tapi ia sayang.

Dari dalam bungkusan kretek milik Si Kacung, mulai timbul suara.

“Sssssstttt…. ssssssttttt,” kretek sisa sebatang mencoba memanggil kopi. “Pi… Kopi…”

“Kenapa, Tek ?” sahut kopi.

“Lu punya uang kagak?” tanya kretek. Belum selesai dijawab oleh kopi, kretek melanjutkan, “Buat manggil tementemen gua yang lain untuk menemani Si Kacung.”

“Aduh, Tek. Saya sedang tak punya uang.”

“Yah, kasihan Si Kacung. Baru saja kami bertemu, sudah harus berpisah lagi. Gua masih rindu sama Si Kacung.”

Kopi hanya diam, sambil memikirkan bagaimana caranya.

“Ada ide kagak?” tanya kretek.

“Laporan saja sama Big Boss, pasti Dia bantu.”

“Benar juga lu,” Kretek mengiyakan saran kopi. “Tapi lu bantu juga. Ya, anggaplah sebagai saksi dari laporan saya.”

Kretek dan kopi pada akhirnya laporan pada Big Boss. Tak lama kemudian Mak Ijah balik dengan menenteng gas 3kg berwarna jingga.

“Ayo, kita goreng pisang, Cung,” seru Mak Ijah.

***

Tangan kiri Si Kacung tak henti menggaruk kepala yang saking gatalnya. Ketombenya berjatuhan, untung sekali ia mengenakan kaos oblong putih, sehingga samar. Ia ingin segera menuju rumah guna menyetorkan pisang goreng dan kopi kepada Emak. Lalu lanjut mandi.

Langkah kakinya bergerak cepat, nyaris seperti berlari. Si Kacung sunggu benar tak sabar ingin segera keramas rupanya.

“Cung!” teriak seseorang perempuan paruh baya. Suaranya seperti tak asing bagi Si Kacung.

Si Kacung menolehkan kepalanya ke belakang. Ternyata itu suara Mpok Seli. Langkah kaki Si Kacung berhenti menunggu Mpok Seli yang melaju mendekatinya.

“Cung, akun Facebook gua lenyap.” Lapor Mpok Seli. “Bikinin lagi dong.” []

**Cerpen pertamakali dipublikasikan di inspirasi.co pada 20 Oktober 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s