Intisari

Chester Bennington Dalam Seragam Sekolah

2016_0902_10272_4546

Dalam perjalan menuju pusat perbelanjaan di bilang Depok, saya terperangkap di dalam mobil dengan musik yang keras, menghentak, suara gitar kasar, dan gaya bernyanyi marah-marah. Adiknya mama yang memutar itu dan menjejali kami semua yang hadir tanpa peduli suka atau tidak.

Sejujurnya tidak nyaman, namun saya tidak punya otoritas apapun untuk mengganti atau bahkan menghentikan musik itu. Terpaksa harus menyerah mendengar dalam ketidakberdayaan. Membiarkan Linkin Park berteriak di tapedeck; melihat paman saya headbangin’; beberapa anggota keluarga lainnya seakan senang dengan itu. Hingga tanpa disadar saya menjadi biasa dengan “Somewhere I Belong”, “Breaking the Habit” dan “Numb” -lagu yang kemudian menghantui setiap saya memainkan Winning Eleven.

Rutinnya bermain WE, membuat saya semakin akrab dengan Linkin Park. Saya juga menyadari telah melongkapi satu album yakni Hybrid Theory untuk disimak. WE juga yang berjasa mengingatkan melalui “In the End” yang menjadi musik latar dipermainan tersebut.

Dua album Linkin Park menjadi tonggak awal bagi saya dalam menyimak musik keras. Saya mulai menggandrungi mereka. Lebih memilih mengalokasikan uang lebaran untuk membawa pulang kaset Meteora ketimbang debut album Taman Langit-nya Peterpan.

Menyimak dua album awal Linkin Park memberikan pengalaman dengar yang baru. Musik mereka yang enerjik membuat saya berkeringat karena tak henti melempar diri ke atas kasur, bergerak lincah meniru Chester, dan teriak nggak jelas meski suara belum “pecah”.

Bukan hanya musik mereka, penampilan para personil khususnya Chester Bennington berhasil mencuri perhatian saya. Entah kenapa, saya merasa kata ‘Chester’ itu keren sekali. Ada kalanya saya sembrono, menduga Chester Bennington adalah representasi dari Chester Ceetah. Sebab keduanya sama lincah, gesit, kurus, dan gemar menggunakan kacamata.

Namun hubungan saya dengan Linkin Park ternyata hanya sanggup bertahan mentok di album Meteora. Sebelum akhirnya saya membiasakan diri dengan distorsi gitar a la Nofx, Greenday, Superman is Dead, dan Marjinal. Saya menampik Linkin Park dengan punk yang kala itu saya anggap sebagai sesuatu yang tidak kalah kerennya, terlebih lagi kaum cewek di sekolahan cendrung antusias dengan cowok yang mendengarkan Rocket Rockers, menggunakan kaos hitam, dan pergi ke Balai Rakyat Depok 1 di akhir pekan.

Bertahun-tahun kemudian nyaris saya tidak lagi menaruh perhatian pada Linkin Park. Teriakan Chester karam di samudra punk rock, rapping Mike Shinoda menyaru dengan cepatnya riff tiga kunci, dan berbagai fenomena lainnya yang turut ambil bagian melumpuhkan ingatan saya pada mereka.

Sesekali saya kembali menengok Linkin Park tak kala menjadi pengisi soundtrack Transformer, bahkan di tiga seri film sekaligus. Namun kesan yang saya dapat cenderung datar. Menyimak “What I’ve Done”, “New Divide”, atau “Iridescent” tidak seantusias menyimak “In the End” atau “Numb”.

Setelah itu nyaris saya lupa pernah membeli dan menyimpan dua album Linkin Park di rumah. Sampai mereka menelurkan One More Light pada 2017 ini. Saya tetap bersikap datar. Terlebih lagi album tersebut benar-benar membantu saya untuk semakin bersikap biasa saja.

Linkin Park tampil lembut, benar-benar lembut dari album yang pernah mereka buat. Beberapa netizen berkomentar, hal tersebut sebagai bentuk kompromi terhadap trend electronicpop yang marak belakangan ini. Namun Mike Shinoda menampiknya dengan beralasan, mereka telah menciptakan musik seperti itu sebelum trend ini hadir.

Bahkan media musik sekelas Allmusic dan NME memberikan tidak lebih dari tiga bintang dari lima bintang untuk menanggapi album tersebut.

Musik memang sudah seharusnya terus bergerak dinamis. Mungkin saja langkah Linkin Park di album ini belum tepat. Setidaknya mereka berhasil mencoba keluar dari zona nyaman yang telah membesarkan nama mereka semua. Walau hasilnya, mungkin saja tidak seperti ekspektasi.

Baru pada hari ini saya kembali memutar “Numb”, “Breaking the Habit”, “Somewhere I Belong”, dan “In the End”. Semua bukan karena kerinduan yang mendadak hadir. Melainkan kabar mendadak tentang kematian Chester Bennington.

Terlepas dari bagaimana Chester menjemput ajalnya. Saya cukup merasa kehilangan. Bukan karena sosoknya yang pernah menginspirasi saya untuk memplontoskan kepala (walaupun tidak pernah saya lakukan) dan menggunakan kacamata meski hidung saya pesek. Kematian Chester semakin menjauhkan harapan saya untuk melihat Linkin Park kembali mengulang kejayaan seperti di dua album awal sebelumnya.

Bagaimanapun juga kondisi Linkin Park hari ini. Saya perlu berterimakasih pada mereka. Karena telah mengenalkan telinga saya pada musik yang keras dan bagus. Hingga hari ini, saya menjadi terbiasa mendengarkan musik keras, bahkan yang butut sekalipun.

Chester Bennington memang baru meninggal sekarang. Namun kejadian ini, justru membuat Linkin Park seakan mati untuk kedua kalinya.

Terimakasih Chester dan Linkin Park.[]

Depok, 21 Juli 2017

Advertisements

One thought on “Chester Bennington Dalam Seragam Sekolah

  1. Cerita lu ttg Linkin Park hampir sama kaya gua. Hahaha.

    Berbagi pengalaman, entah dari mana gw lupa bisa akrab sama Linkin Park, tp LP dan Chazzy Chas sempet masuk ke hati gw dan mengidolakan sampe akhirnya kenal warna musik lainnya, Punk, Hardcore sama Metal.

    Gw ngikutin band itu sampe LP collabs sama Jay-Z, gw sempet punya album Hybrid Theory sampe terakhir Live in Texas, abis itu udah stop ngikutin dan ke lego waktu event #DemiMetallica hahaha.

    Dan akhirnya, sebagai remaja yg tumbuh kembang bersama LP, shock juga denger kalo Chester meninggal dengan cara kaya gitu. Sangat disayangkan.

    RIP Chazzy Chas, terimakasih sudah menemani masa remaja gw.

    “In the end, it doesn’t even matter…”

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s