Cerpen

Meledaknya Kepala di Persimpangan Palmerah

bikesAtCrossing

Bajingan sekali gedung di depan Maybank ini, jika sore tiba selalu mengeluarkan aroma makanan. Kadang aroma soto, kadang masakan padang serupa rendang. Bikin aku lapar saja. Bikin aku kesal saja, melihat dompet hanya berisi 10ribu untuk beli bensin.

Lalu lintas Palmerah Utara mungkin menjadi arus yang paling aku benci sekarang. Para pengendara mobil dan motornya habis dilumat ego mereka masing-masing. Seperti mereka saja yang mempunyai kepentingan dan layak didahulukan. Mereka nyaris sebelas-dua belas seperti iring-iringan pejabat, minus kawalan motor patroli kepolisian.

Aku menepi sejenak di salah satu warung, membeli kretek. Penjualnya ibu tua yang ramah, kasihan dirinya diserang pengapuran. Semoga kau sehat selalu bu. Sebatang kretek yang aku bakar sebagai terapi menenangkan gejolak di kepala. Sayangnya, kepala ini terlalu rusuh hingga kretek tak sanggup lagi menanganinya. Terpaksa aku harus kembali memacu motor bebek yang mulai ringkih ini.

Palmerah-Slipi adalah isi kepalaku sekarang. Bentuknya tak lagi indah, carutmarut tak terkendali, ego ada di mana-mana dan saling bertubrukan, panas, lengket oleh debu, bising dan nyaris sunyi. Kau taukan bagaimana jadinya jika suara terlalu keras ? Ya, jadinya seperti tidak ada suara. Sampai-sampai kamu akan heran dan bertanya dalam hati: apa jangan-jangan aku sudah tuli ? Tentu pendengaranmu masih baik.

Motorku terhenti di persimpangan yang masing-masing memiliki lampu merah. Aku benci, sebab berarti akan memakan waktu banyak untuk menunggu giliran berjalan. Tapi kalau dipikir-pikir, ada gunanya juga lampu merah ini: untuk meredam ego. Lihat saja, para pengendara yang tadinya beringas itu, kini berhenti tepat di garis yang entah oleh siapa dibuat. Walau dengan muka yang masam sekali. Mampuslah kalian ditahan benda elektronik.

Disampingku ada seorang pengendara motor yang sedari tadi tersenyum padaku. Aku tidak peduli dengannya. Sungguh lama betul lampumerah ini, egoku sudah nyaris melumat ketenangan diriku sendiri. Aku ingin melesat cepat, secepat Seringai memainkan lagunya itu.

“Kemarin saya dikubur di sini!” kata pengendara motor di samping saya itu. Perkataanya membuat saya memalingkan muka ke arahnya. “Iya. kemarin saya di kubur di sini.”

Dia membakar rokok, dihisap sekali lalu dimatikan. Aneh. “Tidak jadi. Merokok di atas motor itu tidak enak. Rasanya seperti menghisap air sabun.”

“Kemarin saya di kubur di sini. Tepatnya di atas aspal yang kamu pijak. Tubuh saya di timbun gelisah, tanpa dililit kafan apalagi perca. Melainkan dibungkus hina. Mereka melaju seperti tidak melihat ada saya sedang terkubur. Bahkan ada yang melindas kaki saya, lengan, dan ada juga yang berdiri tepat di penis saya. Rasanya sakit. Itu ban truk logistik soalnya,” bapak tua itu terus menyerang saya dengan kalimat yang dikhendakinya.

“Jangan pikir aku diam dan menerima begitu saja, anak muda!” Dia berbicara seperti aku sedang menyangkalnya. “Aku sudah berteriak bahkan dengan sangat lantang. Namun suaraku lenyap di persimpangan ini. Tenggelam di dalam samudra suara lainnya. Tak menepi telinga siapa juga. Aku marah pada kata, karena tidak lagi mempan. Tapi hanya sebentar, marah akan menguras banyak tenaga. Aku juga menangis, juga sebentar. Menangis membuat tubuhku lepek dan bisa mengundang jamur kulit nantinya. Aku tidak punya uang untuk membeli herocyn.”

Aku tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan orang ini.

“Jangan terheran, kenapa sekarang aku bisa hidup kembali,” Dia berbicara seakan aku tanya. “Setelah marah dan air mata yang keluar, walau hanya sebentar. Aku kelelahan. Mataku terasa berat sekali. Hingga mendadak aku tertidur. Ketika aku terbangun. Aku mendapati diriku di atas motor menatap ke pengendara di sampingku sedang membicarakan Persija yang baru saja imbang melawan Persib.”

Beruntung lampu merah telah hijau. Aku melanjutkan perjalanan. Sesekali melihat ke spion, memeriksa bagian kanan-kiriku. Entah kemana perginya pengendara motor itu.[]

Depok, 25 Juli 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s