Intisari

Rindu Yang Tak Kunjung Jumpa

200_03

Seorang kawan pernah menanyakan pada saya, hal apa yang paling keji dalam hidup. Saya menjawab, kerinduan yang tidak pernah terbalas pertemuan. Jika pernah mengalami tersendak duri ikan di kerongkongan. Kiranya seperti itulah bentuk kerinduan yang tak kunjung jumpa itu.

Dan sekarang saya sedang mengalami hal tersebut: merindu pada sholat lima waktu. Betapa saya benar-benar mendambakan pertemuan dengannya.

Sudah cukup lama saya tidak sholat lima waktu. Bukan karena terlilit malas. Sholat itu pekerjaan mudah yang dilakukan dalam beberapa menit saja. Tentu tidak sebanding dengan waktu yang biasa saya alokasikan di depan laptop dan nongkrong. Yang sanggup saya lakoni berjam-jam.

Namun karena sholat adalah aktivitas mudah yang akhirnya membuat saya justru kehilangan pertemuan dengannya. Setiap gerak-gerik saya dalam sholat, hanya sebatas gerakan semata. Padahal sholat adalah tiang dalam agama; penangkal segala tindak-tanduk keburukan dalam diri yang harus ditegakan.

Nyatanya seiring saya giat melaksanakan sholat, saya tetap saja melakukan kesalahan-kesalahan dalam hidup. Perangai saya masih buruk; masih suka berhasrat merubah orang lain agar sepemahaman dengan saya; tidak adil; mengutamakan nafsu; kurang ajar pada sesama makhluk tuhan; dsb.

Tentu bukan karena sholatnya yang salah. Sholat tidak pernah salah, sebab itulah ibadah yang agung. Melainkan diri saya yang keliru telah menyepelekan sholat. Asal melakukannya tanpa memaknainya, sehingga sholat tak lebih dari gerakan dan rapalan ayat semata.

Padahal sudah berkalikali, seseorang yang dekat namun seringkali saya abaikan berkata, “Ketika sholat jangan hanya sujud ragamu saja. Sujudkan juga hatimu!”. Namun berkalikali juga sholat hanya menjadi gerak-gerik jasad saja, tanpa kehadiran ruhani yang menyertainya. Saya menjadi merasa kurang ajar pada Tuhan.

Sebab bukankah sholat semestinya dilakukan dengan kehadiran seutuh-utuhnya dirimu, bukan hanya jasad semata, apalagi ruhani saja. Jasad saya berlenggak-lenggok seolah tunduk padaNya, sementara ruhani entah di mana keberadaannya. Apa namanya kalau bukan kurang ajar jika begitu ?

Kehilangan sholat tentu membuat kedua orang tua saya cukup khawatir perihal keimanan anaknya. Takut anaknya terjerembab pada ajaran yang sesat, masuk neraka, dll. Tidak mungkin saya menjelaskan kerinduan ini pada mereka. Bakal terdengar mengada-ada.

Walaupun ketika adzan berkumandang dan mereka mengingatkan saya untuk sholat, tanpa mereka sadari hati saya bergemuruh, sakit. Betapa gema adzan membuat kerinduan yang tak kunjung jumpa ini kian menjadi. Andai mereka paham, anaknya ini sedang dilanda kerinduan menegakan sholat.

Tapi tetap tidak bisa saya salahkan mereka. Meskipun, tanpa mengurangi rasa hormat saya pada mereka yang berjasa menjadi kurir tuhan, saya tetap belum bisa mengiyakan perintah mereka. Selain terus bermunajat, agar diizinkan menegakan sholat beserta jasad dan ruhani yang menyertainya.

Menyoal kapan itu akan terwujud. Tentu menjadi khendak Tuhan untuk menjawabnya. Saya hanya meyakini bahwa suatu saat kerinduan ini akan terbalas dengan perjumpaan.[]

Depok, 09 Agustus 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s