Cerpen

Kisah Telinga dan Orang Tua Yang Sepi

Orang tua itu terpaksa menenggak kopinya yang dingin. Perutnya mendadak menjadi kembung dan tak nyaman. Udara dingin dan sepi. Sesepi dirinya.

Hanya dililit sarung dia berkelana. Mencari kehidupan, katanya. Kaki berhenti di pinggir sawah yang sebentar lagi panen. Kerumunan jangkrik sedang menari. Lincah gerak mereka. Tapi ada satu yang diam, tersudut, menyendiri. Orang tua itu menyapanya. Dia merasa seperti pernah bertemu sebelumnya, akrab sekali.

“Diam saja ?” Tanya orang tua itu.

“Iya,” Jangkrik itu menjawab singkat.

“Sepi yah?”

“Begitulah.”

Orang tua itu melempari pertanyaan basa basi, seputar nama; tempat tinggal; musik favorit; pasangan hidup; arti hidup. Khusus pertanyaan terakhir, Jangkrik itu menjawabnya dengan lugas. Bibirnya tak henti bicara. Suaranya nyaring sekali. Orang tua itu tak mendapat kesempatan bicara, sampai akhirnya jenuh. Dan, pergi.

Pandangannya menengadah ke antara dedaunan. Disapanya. Ssttt…sstt..daun..daun… Tapi tak menemukan jawaban. Dedaunan itu larut dalam kebersamaan kaumnya. Orang tua itu kembali berjalan dengan perasaan terasingkan.

Melewati perkebunan jagung, sinar rembulan membuat ladang menjadi keemasan. Tiba-tiba ada tangan yang menarik telingan orang tua itu. Tak sempat melihat tangan siapa. Tangan yang lain menyumpal telinganya dengan kata-kata. Bahkan dengan beringas. Telinganya merah lalu lecet. Orang tua itu menjerit tapi tangan itu tidam peduli. Kalimat-kalimat asing terus disumpal ke telinganya. Darah mengucur dari lubang. Dia ingin sekali melawan tapi tak bisa. Matanya tidak menangkap apa-apa kecuali gelap.

Tangan itu berhenti dan menghilang dalam hening. Meninggalkan orang tua yang kesakitan, bersimbah air mata. Namun dirinya tetap tegar berjalan.

Langkahnya masih kuat. Darah di kedua lubang telinganya sudah tidak keluar dan mulai mengering, meninggalkan kerak.

Tepat di persimpangan jalan. Dia melihat seonggok knalpot tua tergeletak. Haru tiba-tiba bersemai di hatinya.

“Astaga. Aku seperti melihat diriku sendiri. Aku tau apa yang kamu rasakan. Tenang aku akan menyapamu,” ujarnya dalam hati.

Direngkuhnya knalpot itu. Diciumi. Dipeluk. Bahkan debu jalanan yang menempel dibasuh dengan sarungnya.

“Aku tau bagaimana rasanya disingkirkan karena dianggap tak berguna lagi.”

Tak jauh dari tempatnya berpijak. Sebuah motor Honda 70 terparkir tanpa knalpot. Orang tua itu mendekatinya sambil menggendong knalpot itu.

“Mungkin kalian berjodoh. Tuhan memang adil.”

Knalpot itu berterima kasih sekali. Dirinya larut dalam haru, atas pertolongan orang tua itu. Sampai-sampai tak henti mengucapkan kalimat yang sama. Suaranya nyaring, terlebih lagi mendominasi. Orang tua itu kehilangan hak bicaranya lagi. Sekalipun dia memaksa, suaranya tenggelam dalam bising knalpot. Hingga kesal jadinya. Dan, pergi.

Langkahnya berat. Dia tetap harus berjalan mencari arti hidup. Dalam setiap langkah ada umpatan yang lahir dari kerongkongannya. Umpatan untuk dirinya sendiri, apalagi kalau bukan mengutuk hal yang telah dilakukannya.

“Sial. Jangkrik dan knalpot sama saja. Tae! Salah aku iba pada mereka. Tau gitu, biar saja mereka mati ditikam sunyi. Najis. Ditolong malah tidak tau terima kasih!”

Melewati pos ronda yang sepi, tiba-tiba tangan itu kembali menjewer telinganya. Menyumpal paksa kalimat tanya yang orang tua itu tak pahami. Menghajar terus. Membabi buta. Dia meringkih karena luka telinganya kembali basah. Peduli setan, tangan itu tetap memasukan kalimat-kalimat. Ada tangan lain yang datang. Jumlahnya semakin banyak. Mulanya bisa dihitung satu, dua, tiga, dan empat tapi lama kelamaan tak terhingga. Orang tua itu roboh seketika. Kepalanya berat oleh kalimat. Telinganya menjadi koreng yang mengeluarkan darah segar, daun telinganya hilang, bau nanah menyerbak tak karuan.

“Tolong… Tolong…,” Orang tua itu menjerit sekuat tenaga. Ada warga yang melihatnya lalu cuek. “Aku diperkosa. Tolong!”

Orang-orang berkumpul, melihat sebentar, mengambil fotonya, lalu pergi dengan cuek. Orang tua itu merintih sampai suaranya tidak bisa lagi dia dengar.

Tangan-tangan itu pergi seperti angin. Lebih sakti dari tangan Tim Mawar. Meninggalkan orang tua yang terkulai dengan darah membasahi tanah dan nanah yang wanginya dahsyat.

Untung kedua kakinya masih kuat menopang tubuh. Orang tua itu bersender tembok, sambil memegangi telinganya yang rusak. Tidak ada air mata kali itu. Hanya ada senyum yang berpendar. Kebenciannya lebur menjadi ujaran terima kasih untuk tangan asing yang menyumpal kalimat di telinganya.

Sebab kini telinganya rusak. Dia tuli. Dia bahagia menjadi sunyi yang tak dibuat-buat. Sumringah pada sunyi yang dihadiahi oleh takdir.

“Ini jauh lebih baik, ketimbang aku harus mendengarkan sesuatu yang tidak mau mendengar.”

Langkahnya menjadi ringan. Dirinya diliputi kebahagiaan dan berubah menjadi tangan-tangan yang menyumpal kalimat pada setiap telinga kesepian. Lebih menyebalkan dari pada Jangkrik dan Knalpot. []

Garut, 03 September 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s