Esai

Munir Tidak Selalu Benar

munir2-720x320
Foto: Google

Semasa hidupnya Munir Said Thalib berdiri tegak di atas garis keadilan dan kebenaran demi hak-hak kemanusiaan. Para petani Nipah di Madura pernah merasakan deras keringat Munir mengalir ketika membantu menagih tanggung jawab militer atas terbunuhnya tiga kawan mereka di tahun 1993, Komando Daerah Militer V Brawijaya pernah dibuat kalang kabut ketika Munir gigih mengawal kematian Marsinah pada tahun 1994, DR. George Junus Aditjondro yang ketika itu menjabat Dosen Universitas Kristen Satyawacana memiliki kenangan bersama Munir ketika dirinya dibela setelah terlibat kasus penghinaan terhadap pemerintah di tahun 1994, dan setumpuk kasus lainnya.

Bisa dikatakan Cak Munir adalah orang yang tidak tinggal diam ketika melihat penindasan terjadi di depan mata. Saking gigihnya, pada 16 April 1996 Munir turut serta mendirikan gugus tugas bernama KIP-HAM yang mana dua tahun berikutnya berubah menjadi Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (KontraS).

Bersama kendaraan barunya, KontraS, Munir mengadvokasi aktivis dan mahasiswa yang menjadi korban Tim Mawar yang mana representasi dari rezim kuku besi Orde Baru. Salah dua kasusnya ialah hilangnya 24 aktivis dan mahasiswa di Jakarta pada masa reformasi 1997-1998 dan penembakan Semanggi. Perjuangan Munir bermuara pada pengakhiran masa dinas TNI terhadap Komandan Jenderal  Kopassus Letjen TNI Prabowo Subianto dan sejumlah anggota Tim Mawar yang kemudian diadili melalui persidangan Mahkamah Militer Tinggi II Jakarta pada tahun 1999.

Berkat laku kerja kerasnya menegakan Hak Asasi Manusia di Indonesia, Munir mendapatkan sejumlah penghargaan dibidangnya. Salah satunya, The Right Livelihood Award di Swedia pada tahun 2000.

Sulit dikemudian hari menyebut Munir tanpa embel-embel kemanusiaan. Idealis Munir begitu lekat dalam menentang kesewenang-wenangan. Namun bagi keluarga dan orang terdekatnya, idealis Munir lebih dari itu, terpancar juga dalam kesehariannya. Bahkan untuk menentukan maskapai penerbangan apa yang hendak ditumpanginya saja, Munir mengandalkan sikap idealismenya.

Pada 7 September 2004, sebelum Munir berangkat ke Belanda untuk melanjutkan studi. Dirinya berhadapan pada persoalan maskapai apa yang akan ditumpanginya, hingga akhirnya Garuda yang dipilih. Alasan Munir selain memang karena kenyamanan juga dikarenakan, “(Garuda) akan memberikan devisa bagi negara,” imbuhnya dalam film dokumenter Kiri Hijau Kanan Merah (2009) yang diproduksi WatchDoc.

Meski kakinya tegak memperjuangkan kebenaran dalam setiap kasus yang dihadapinya. Ternyata sosok Munir tidak selalu benar. Ada cerita lucu yang terselip dalam langkah kakinya yang penuh bara.

Bermula dari ditemukannya tiga tubuh manusia di Pulau Seribu pada tahun 1998, yang disinyalir berkaitan dengan kasus hilangannya sejumlah aktivis. Membuat kamar jenazah RSCM dan Bagian Ilmu Kedokteran Forensik (IKF) ramai oleh aktivis KontraS, wartawan, masyarakat yang kehilangan keluarganya, dan beberapa orang yang cuma mau menonton saja. Mereka semua harap-harap cemas menanti hasil akhir dari tim forensik soal kejelasan tiga mayat tersebut.

Dari semua orang yang menanti, Munir menjadi yang aktif menanggih hasil kepada ahli forensik yang pada saat itu dilakukan oleh dr. Abdul Mun’im Idries, Sp.F. Dengan bermodalkan kertas berisi daftar orang hilang lengkap dengan ciri-cirinya, Munir mencoba memastikan apakah tiga mayat itu termasuk orang yang ada dalam daftar miliknya.

Menurut Munir kepada Mun’im, salah satu korban yang ada dalam daftarnya punya ciri tangan yang patah. Mendengar tersebut Mun’im terdiam.

“Dia keliru. Dia menyebut tangan patah sambil menunjukan lengan atas,” ujar dokter yang juga pernah menangani mayat Marsinah tersebut. Menurut Mun’im, tangan itu adalah telapak tangan, bukan seperti yang Munir sebutkan. Anggota gerak terdiri dari lengan atas dan bawah, dan telapak tangan atau tangan. “Biar tidak terjadi kekacauan, saya tegaskan pada dia, agar menyerahkan saja soal indentifikasi itu pada saya. Itu bidang saya,” lanjutnya.

Dalam buku Dunia Forensik Itu Lucu (2013), Mun’im mengenang sosok Munir sebagai pribadi yang tidak mudah menyerah. Penjelasan Mun’im soal tangan tersebut tidak membuat Munir santai terdiam menunggu.

“Enggak gampang nyerah orang itu. Setelah gagal dengan upaya pertamanya, dia ajukan data lagi,” kenang Mun’im. Kali itu Munir menyebutkan ciri salah satu korbannya mengalami patah kaki, namun yang ditunjuk malah bagian paha. Hal yang kemudian kembali dikoreksi Mun’im.

“Pak,” Mun’im coba menjelaskan kembali. “Itu namanya tungkai atas alias paha. Kalau kaki itu yang pakai sepatu.”

Sudah dua kali salah, Munir juga belum menyerah. Upaya terakhir coba dikerahkan Munir, sekaligus membuat Mun’im mengelus dadanya karena harus bersabar.

“Bagaimana saya enggak harus berusaha sabar ? Orang dia minta ketiga kerangka, yang dia yakini korban penculikan tersebut, dijejer, kemudian dia minta bagi yang kehilangan anggota keluarganya memeriksan dan mengenali sendiri. Capek deh,” kenang Mun’im seraya tersenyum mengingat kegigihan Munir.

Begitulah sosok Munir, penuh semangat dan menggebu-gebu dalam mencari kebenaran. Walau dalam kasusnya bersama dr. Mun’im bisa keliru juga. Ini maklum, toh Munir juga hanya manusia biasa yang tak bebas salah.

Sekarang sudah 13 tahun berlalu sejak pesawat Garuda yang dipilihnya itu mengantarnya pada keabadian. Mungkin saja Cak Munir sudah merasa nyaman di sana. Tapi  tidak untuk kita semua yang ditinggalkan olehnya. Aksi Kamisan di depan Istana menjejaki episode ke 505 sejak dilangsungkan pertama kali 18 Januari 2007 dan masih terus berlanjut. Pun memang seperti sudah seharusnya terus begitu, bahwa memperjuangkan Munir sama halnya merawat kebenaran. Meminjam kutipan seorang teman, karena kalau Munir masih hidup, Munir memperjuangkan kita.[]

Depok, 10 September 2017

**Ditulis oleh seseorang yang hanya mengenal Munir secara tekstual, yang sedang mengenang perkenalannya pertama kali dengan Munir melalui foto threshold yang tercetak di atas kaos delapan tahun lalu.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s