Resensi

Anarchist from Colony: Tamatnya Cinta dan Padamnya Revolusi

i4v7V8fNWpJYqAM9wRyyn2HeSp9
Tokoh Fumiko Kaneko dan Park Yeol dalam Anarchist from Colony. (dok. google)

Hanya karena secarik puisi, Park Yeol bisa didatangi gadis-gadis yang kagum padanya. Atau lebih tepatnya, hanyut dalam arus kalimat yang Park torehkan. Tapi tidak ada yang segila Fumiko Kaneko -gadis berdarah Jepang yang bahkan kesulitan menyebut nama Park yang bercorak Korea.

Tanpa tedeng aling-aling, Fumiko melayangkan penawaran untuk menjadi pendamping hidup Park. Begitu juga sebaliknya, Park langsung mengiyakannya.

Apakah mereka berdua gila ? Tunggu sampai saya menyelesaikan kalimat terakhir tulisan ini.

Pada malam yang tenang di sebuah kedai, Park Yeol berkumpul bersama beberapa teman-teman Korea nya, yang tergabung dalam kolektif pembebasan Korea atas penjajahan Jepang. Mereka sengit membicarakan taktik untuk mengadakan aksi. Sampai dua orang samurai yang kemudian melintasi kedai, mengejek mereka. Park yang berkepala sekeras batu kali naik pitam. Langkahnya didahului Fumiko (yang menjadi pramuria kedai), dengan menyiram dua samurai tersebut dengan kuah sop. Tak mau ketinggalan momen, dengan sebilah pisau daging, Park membuat samurai itu lari tunggang langgang.

Malam itu juga, bukan saja mengukuhkan Fumiko menjadi bagian dari kolektif anarkis tersebut. Melainkan juga, mampu membuat Park terpesona sekaligus yakin bahwa wanita ini serius untuk mendampinginya menghadapi ketidak pastian nasib.

Hari-hari berikutnya Park dan Fumiko jalani berdua. Hubungan mereka dilandasi oleh sebuah kesepakatan tertulis yang digagas Fumiko, yang lalu disepakati secara bersama. Di atas selembar kertas bercap darah, mereka bersumpah untuk hidup bersama menegakan kebenaran dan tetap melawan pemerintah tirani. Yang lebih romantis, adalah poin di mana mereka sepakat untuk saling bersikap terbuka tanpa ada rahasia.

Berdua, mereka menggagas untuk menterjemahkan buku dari pemikir anarkis macam Peter Kropotkin. Lalu berwacana menulis bukunya sendiri. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, mereka berdagang. Kadang jualan gingseng. Kadang koran.

Di ruang dan waktu terpisah. Pemerintah Jepang justru sedang larut di makan provokasi salah satu menterinya. Yang menuding warga Korea sedang berkomplot untuk membinasakan kaum elit Jepang dengan cara menabur racun ke sumur. Stabilitas menjadi terganggu oleh isu buatan. Darurat militer-pun menjadi diterapkan.

Hasilnya ?

Warga Korea yang bermukim di Jepang mengalami pembantaian. Tidak pandang bulu. Tidak melalui proses pengadilan. Mulai pihak militer hingga organisasi massa Jepang, menyisir hingga ke pelosok demi membersihkan etnis Korea.

Kondisi semacam ini mengusik kolektif anarkis bentukan Park. Naasnya, mereka pun tidak luput dari upaya penangkapan. Dasar gila! Bukannya melarikan diri, Park justru mengikhlaskan dirinya di gelandang ke jeruji besi. Fumiko aman, karena dia berdarah Jepang.

Park di tahan satu sel bersama teman lainnya. Di sana dia melihat langsung bagaimana seorang Korea dihunus bambu runcing oleh ormas Jepang. Kemarahan merebak di hulu hatinya.

Secara mengejutkannya lagi, Fumiko tiba-tiba hadir sebagai tahanan, bersebelahan dengan sel Park. Dengan wajah sumringah, Fumiko menyapa Park. Mereka melewati masa-masa penjara bersama, bicara dengan berbatas tembok.

Proses introgasi dilakukan, Park banyak mengarang cerita soal ketidak terlibatan kawan-kawannya, terutama Fumiko. Dia bersumpah bahwa niat revolusi digagasnya seorang diri. Beberapa kawan Park akhirnya bebas. Tapi Fumiko, malah ikut mengarang cerita dengan mengatakan bahwa dirinya yang berhasil mempengaruhi Park untuk melakukan revolusi.

“Park itu murid. Saya adalah gurunya,” ujar Fumiko enteng, di hadapan introgator Jepang. Kembali mereka menjalani masa tahanan berdua.

Penahanan ialah siasat Park untuk menunjukan pada dunia kekejian Jepang. Dia berharap dihadiahi pasal pengkhianatan dengan ancaman hukuman mati. Entah saya harus bilang beruntung atau sebaliknya. Park dan Fumiko mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Menjelang persidangan, Park dan Fumiko berhak mengajukan permintaan. Park meminta untuk diizinkan menggunakan busana khas Korea dan duduk sama rata dengan petugas selama persidangan berlangsung. Berlaku juga pada Fumiko.

0 park and kaneko 2
Park Yeol dan Fumiko Kaneko berfoto sebelum persidangan. (dok. google)

Park juga meminta untuk pemerintah Jepang mengizinkannya berfoto berdua Fumiko. Alasannya, foto tersebut akan diberikan pada Ibunya di Korea sebagai kenangan terakhir dari sang anak.

Selayaknya pasangan yang hendak melakukan foto pra-nikah, Park dan Fumiko menanggalkan statusnya sebagai tahanan berat, untuk bergaya seleluasa mungkin di depan kamera. Bahkan mereka meminta para petugas yang bekerja mengawasi sesi pemotretan untuk meninggalkannya berdua.

Ruangan pemotretan itu cukup besar untuk dihuni dua orang. Dari luar para petugas memasang wajah masam, sambil sesekali mendengar suara erangan dan meja bergesek lantai dari dalam.

Tidak puas sampai di situ. Park membuat repot Jepang kembali. Kali ini dia meminta untuk disahkan sebagai suami istri dengan Fumiko. Karena kelak, jika hukuman mati itu tiba. Jenazah mereka tidak terpisah dan bisa dikuburkan di kampung halaman Park di Korea. Lagi-lagi mereka mendapatkannya.

Dengan dihukum matinya mereka berdua. Maka dunia akan terbuka atas kebiadaban Jepang. Terutama masyarakat Jepang itu sendiri, tercerahkan dari tirani kekaisaran. Betul saja, dunia menaruh perhatian pada kasus tersebut. Jepang diambang batas kekhawatiran. Sanksi internasional akan segera diturunkan pada negeri matahari terbit.

Namun…

Jepang tidak kehabisan akal. Sebelum prosesi hukuman mati berlangsung. Pihak kekaisaran mendadak lunak, memberikan keringanan hukuman menjadi seumur hidup. Dengan begitu Park dan Fumiko merasa gagal dan berbalik dipermainkan. Puncaknya, mereka terpisah penjara yang terpaut jauh.

Park menjadi gelisah dan jatuh dua kali: gagal membuka mata dunia dan jauh dari kekasih. Park si kepala batu melunak dalam kedepresian tingkat tinggi. Gairah hidupnya merosot drastis dan semakin menjadi, ketika mendengar kabar Fumiko telah tewas.

Pasangan anarkis itu akhirnya kalah oleh permainan politik negara. Cinta mereka kandas. Api revolusinya senyap.

Kisah romantis Park dan Fumiko diadaptasi secara baik ke dalam film berjudul Anarchist from Colony atau Park Yeol untuk judul di Korea, oleh sineas Lee Joon-ik. Saya katakan baik, karena framing ceritanya, meski bermuatan sejarah dan politik. Di ambil dari sudut yang sangat manusiawi, apalagi kalau bukan soal cinta.

Sekarang, apakah bisa kita katakan Park dan Fumiko pasangan yang gila ?[]

Depok, 10 Oktober 2017

Advertisements

3 thoughts on “Anarchist from Colony: Tamatnya Cinta dan Padamnya Revolusi

  1. Sempet ga percaya sama Fumiko bisa jatuh cinta gara2 puisi doang, kirain lebay ternyata pas baca memoar aslinya emang beneran. Film ini juga kayaknya bisa ditonton sebagai pembanding film g30s, bahwa propaganda anti-kiri selalu efektif, dan kejam.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s