Resensi

Pelecehan Seksual Adalah Horor Sesungguhnya

geralds-game-stephen-king

Hubungan pasang suami istri Gerald Burlingame (Bruce Greenwood) dan Jessie Burlingame (Carla Gugino) dalam kondisi yang tidak harmonis. Entah apa penyebabnya. Yang pasti mereka sedang dalam perjalanan akhir pekan ke sebuah rumah terpencil di pinggir danau, sebagai upaya memaniskan hubungan yang getir.

Tanpa sepengetahuan Jessie, Gerald menyiapkan sebuah permainan. Dengan berpakaian minim Jessie menuruti kemauan suaminya, termasuk ketika kedua tangannya diborgol pada sisi-sisi tempat tidur. Gerald mulai menggerayangi istrinya, menciumi tubuhnya dengan perlahan. Hal yang dianggapnya paling romantis telah terjadi pada istri tercinta.

Tapi tunggu dulu. Apa yang kalian harapkan selanjutnya ? Percintaan sengit antara pria-wanita di atas ranjang empuknya ? BDSM ?

Sayangnya tidak.

Jessie menghabiskan malam-malamnya dengan tangan terborgol dan situasi yang delusional. Sementara Gerald terkulai tanpa nyawa di bawah ranjang setelah serangan jantung mendadak.

Di adaptasi dari novel Stephen King berjudul sama, sang sutradara Mike Flanagan tau bagaimana harus mengubah teks menjadi sebuah konteks yang hidup, secara terangan benderang dalam layar sinema.

Berbeda dengan film adaptasi King yang lain yang juga rilis tahun ini seperti IT misalnya. Gerald’s Game minim jumpscare, alurnya berjalan santai namun pasti. Lagi pula ini film horror dewasa, siapa yang butuh jumpscare ?

Baca juga: Sekuel John Wick Yang Lupa Bahwa Itu Film Action

Flanagan mengumpulkan potongan-potongan adegan dan menyusunnya dalam takaran yang terus meningkat. Kalian ingat bagaimana film ini bermulai ? Tensinya akan terus naik dan pelan-pelan menurun.

Sementara Jessie piawai dalam mengeksekusi emosi dan berjasa atas kesuksesan segala sesuatu yang telah dirancang oleh Flanagan. Alter ego, delusional, wanita banyak pikiran, siapapun yang mengikuti Flanagan tidak akan asing dengan ini. Saya tidak akan bilang itu semua mengingatkan pada Hush -film yang Flanagan tulis bersama istrinya tahun 2016. Tapi Jessie memang tampil mengesankan, apalagi bagian degloving itu.

O yaa… Jangan lupakan Gerald yang perlu dipuji berkat senyumannya selama beberapa menit dalam adegan di film ini.

Baca juga: 14 Hari Menyenangkan Lyxzen

Gerald’s Game adalah jebakan bagi yang berharap akan mendapatkan adegan ranjang super panas selama 100 menit lebih atau bagi para penikmat Fifty Shades of Grey. Karena Stephen King justru memberikan pukulan keras untuk itu. Menampilkan sebuah rentetan peristiwa pelecehan seksual dan pedofilia yang traumatik antara seorang ayah dan putri kecilnya. Dan bagaimana semua itu mampu mempengaruhi kehidupan korban, bahkan hingga dititik urusan ranjang pasca menikah sekalipun.

King menampilkan anomali horor dalam alur cerita. Bahwa sesungguhnya, hantu atau berbagai hal mistis lainnya tidak lebih menyeramkan, ketimbang satu manusia yang melakukan pelecehan seksual pada buah hatinya sendiri. Praktis horor konvensional dalam film ini menjadi mentah.

Ada beberapa bagian dalam novel yang tidak masuk dalam frame. Tapi setidaknya Flanagan tidak keluar dari jalur yang telah digurat oleh King.

Berhubung Oktober adalah bulan Halloween. Film karya Flanagan satu ini bisa kalian masukan dalam movie list. Mampirlah ke Netflix dan temukan mereka. []

** Artikel pertama kali di muat untuk nylonindonesia.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s