Intisari

Jangan Heboh Karena Video Mesum

video mesum

SEBAGAI warga Depok yang kadang suka lari sore di Universitas Indonesia, perhatian saya mudah saja teralihkan begitu netizen membicarakan Hanna Anisa. Pasalnya mereka rata-rata membuat postingan seperti ini, ‘Tadi gue ke UI kok gak ketemu Hanna Anisa yaa ?’ atau ‘Ke Depok ah. Kali aja ketemu Hanna Anisa.’ Yang mengantarkan saya pada mesin pencarian google.

Awalnya saya kira Hanna Anisa itu semacam Casey Neistat atau content creator lainnya yang keberadaannya underrated. Ternyata dia hanya orang biasa yang sedang ditimpa sial. Lantaran video privasinya mendadak viral.

Ditambah lagi media massa juga berperan besar dalam penyebaran dan tanpa memalsukan identitas, alih-alih malah membeberkan informasinya secara gamblang dengan menyebut asal-usul kuliahnya.

Saya suka bingung, kenapa hal semacam ini selalu bisa membuat kita heboh ? Terlebih lagi sampai ada yang serius menanggapinya, seakan Hanna juga merakit nuklir serupa Korea Utara. Belum lagi oknum yang merasa berhak memberi penghakiman moral serta stigma.

Padahal jika ditarik ke dasar, awalnya semua itu hanya menjadi urusan Anisa dan pasangannya. Toh dia melakukannya di wilayah pribadi, yang sialnya ada pihak tak bertanggung jawab menjadikannya sebagai produk umum. Lantas kenapa harus menjadi urusan kita semua ?

Kehebohan netizen semacam ini, yang mudahnya menjadikan urusan orang lain sebagai urusannya juga. Mengantar saya pada memori tiga tahun silam.

Pada sebuah malam yang teduh di bilangan Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Saya duduk di sebuah surau sederhana untuk menyimak Haji Taki meladeni berbagai pertanyaan dari para santrinya.

Satu persatu pertanyaan dilontarkan dan Haji Taki selalu bisa menjawabnya. Mulai dari urusan rumah tangga, pekerjaan, politik, hingga perzinaan. Yang terakhir itu yang membekas pada saya hingga saat ini.

“Pak Haji,” sahut salah seorang santri, “kalau ada warga kampung kita yang berbuat zina. Apa yang harus kita lakukan ?”

Haji Taki perokok berat. Sambil mengepul bala asap ke langit-langit surau, dia santai menjawab. “Yah, doakan saja.”

“Tapi Pak Haji, kita semuakan sudah tau. Orang yang melakukan zina, dosanya bisa sampai mengenai 40 rumah di sekitarnya,” timpal santri tersebut.

Lagi-lagi Haji Taki menjawab sama. “Yah, doakan saja.”

Dari geliat wajah sang penanya, serasa ada ketidak puasaan dengan jawaban yang diperolehnya.

Haji Taki membiarkan perzinaan menjadi urusan yang bersangkutan dan orang-orang terdekatnya. Misalkan dilakukan di rumah, yah biar itu menjadi persoalan dia, keluarganya, dan Tuhannya.

“Kenapa nggak diarak atau minimal di bawa ke RT ? Supaya memberikan efek jera pada pelakunya,” tukas santri itu kemudian.

Haji Taki menanggapinya dengan pertanyaan balik, sekaligus menjadi pamungkas. “Kamu meragukan khasiat doa ?”

Tiba-tiba keheningan muncul di tengah kita semua.

Jika perzinaan yang dilakukan orang secara tersembunyi, kemudian diketahui publik, hal tersebut akan menjadi aib baginya. Menimbulkan rasa malu dan memberikan efek psikologi negatif bagi pelakunya.

Sampai di situ, Haji Taki mengajarkan pada saya khususnya tentang bagaimana menjaga aib seseorang. Lebih jauh lagi, Haji Taki mengarahkan saya pada Surat Al-Hujarat ayat 12:

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

Hal ini selaras dengan apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW:

“Wahai orang yang beriman dengan lisannya, tetapi tidak beriman dengan hatinya. Janganlah kamu mengumpat kaum muslimin dan janganlah mengintip aib mereka, maka barang siapa yang mengintip aib saudaranya, niscaya Allah akan mengintip aibnya dan siapa yang diintip Allah akan aibnya, maka Allah akan membuka aibnya meskipun dirahasiakan di lubang kendaraannya.” (HR. at-Tirmidzi)

Kembali pada Hanna Anisa, ketimbang berusaha mencari dan menyebar videonya atau bahkan  menghakiminya. Apa tidak lebih baik kita kirimkan saja doa untuknya ? Sebab saya meyakini doa mampu menjamah kedalaman diri seseorang ketimbang apapun. Kecuali kita juga meragukan khasiat doa ? []

Depok, 26 Oktober 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s