Intisari

Hidup Tak Perlu Lagi Mencari Eksistensi

trotoar-jalan-700x400

Di atas trotoar Jakarta, es jeruk kemasan sungguh menjadi barang cukup mewah untuk dikonsumsi siang hari. Yang paling mewah adalah orang-orang di sekelilingnya.

Dua pemuda berbaju hitam di samping saya, sedang mempersilakan seorang yang lebih tua dari mereka untuk mendengarkan musik yang baru direkamnya beberapa hari lalu. Entah musik apa, saya tidak tau. Jika melihat respon pendengar itu, nampaknya cukup bagus.

“Bikin album dong lu,” celetuk pendengar itu, “siapa tau bisa dapet panggung.”

Dua pemilik musik itu tersenyum, lalu salah satu dari mereka angkat bicara. “Ini cuma untuk iseng doang, bang.”

“Kita kagak mau cari eksistensi,” timpal yang satunya lagi.

Pendengar itu memajukan mukanya sedikit ke arah mereka. Mengkerutkan dahi, lalu bertanya, “Maksudnye ?”

“Buat having fun aja bang. Buat apaan hidup cuma untuk eksistensi doang. Kagak perlu kita mah. Yang penting passion tersalurkan.”

Orang yang mendengar itu menjadi semakin bingung. “Lah jadi selama ini kalian cuma gagasan doang ?”

Sekarang gantian, dua anak baju hitam itu yang memasang wajah bingung.

Melihat lawan bicaranya diam, orang itu menghisap kopi hitamnya sedikit, kemudian kembali bicara. “Hidup mah emang bukan untuk mencari eksistensi, boy. Sejak nyokap-bokap lo malem pertama dan lo lahir. Eksistensi lo sudah berlaku, bahkan ketika lo masih di dalam rahim nyokap sekalipun.”

Dua pemuda baju hitam itu menyimak, kepulan asap vape nya mengisi langit-langit Jakarta. Orang itu tidak mau kalah, asap kreteknya membelah kepulan asap vape.

“Sejak itu juga, nggak bisa lo tampik eksistensi pada dirilo. Cuma manusia yang belum lahir, yang bebas dari eksistensi. Itu ketiadaan namanya. Beda kasus sama orang yang sudah meninggal. Dia telah habis masa eksistensinya di dunia.”

“Jadi bang,” salah satu pemuda itu coba menanggapi, “kita nggak perlu lagi mencari eksistensi ?”

That’s right! Ketika lo lahir, tanpa lo cari eksistensi itu sudah ada, tidak bisa lagi ditampik. Sekalipun lo cuma diam doang. Yang perlu dicari justru esensinya.”

“Maksudnya bang ? Gue ora paham.”

“Lo cuma perlu melakukan apa yang kudu dilakukan. Kalau lu anak band, ya ngband. Kalau lu pekerja, ya kerja. Apapun itu-lah, yang membuat diri lo bergerak. Jadi ngband bagus atau buruk. Terkenal atau nggak. Bisa bikin kaya atau miskin. Nggak ada hubungannya dengan eksistensi. Semua proses pencarian esensi, makna. Dari situ lo sendiri yang bisa menentukan nilai benar-salahnya.”

“Berarti gue kagak salah dong, bang. Kalau bermusik cuma untuk didengar sendiri ?”

“Entahlah. Lo yang bisa menilai. Tapi semua itu nggak ada hubungannya sama pencarian eksistensi. Lain hal kalau yang lo maksud itu pencarian popularitas.”

Kopinya sudah tanggal. Kreteknya hampir menyentuh batas maksimum konsumsi. Gerak-geriknya mengisyaratkan dia akan segera beranjak. Sejujurnya saya masih ingin menyimak, tak peduli seberapa pengap Jakarta siang ini. Toh ini barang mewah yang tak boleh dilewatkan.

“Jadi sekarang, lo berdua eksis atau jangan-jangan cuma baru gagasan Tuhan doang nih ?” tanyanya, sambil lalu pergi meninggalkan saya dan dua pemuda tersebut. []

Depok, 10 November 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s