Resensi

Marlina Lebih Dari Sekedar Pembunuhan

Marlina-9-660x330
ki-ka: Novi (Dea Panendra) dan Marlina (Marsha Timothy). Sumber: google.

Sebelum saya menyimak Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak secara keseluruhan di bioskop. Perkiraan awal saya, film ini menyajikan rangkaian aksi menegangkan, penuh darah, perkelahian bertubi, selayaknya film bergenre action-slasher. Pemicunya apalagi kalau bukan karena trailer Marlina menentang potongan kepala.

Nyatanya, begitu saya menghabiskan waktu satu jam lebih duduk di bioskop. Sudut pandang saya bergeser. Film tersebut bukan tentang pembunuhan semata. Melainkan upaya menyelamatkan martabat sebagai seorang perempuan.

Marlina (Marsha Timothy) menjadi karakter yang erat dengan nilai feminisme. Tentu dalam kemasan yang sederhana dan juga natural. Tanpa latar belakang akademik mumpuni. Ia hanya seorang janda yang hidup bersama mayat suami yang telah menjadi mumi di tengah perbukitan Sumba.

Yang harus meladeni sikap Markus (Egi Fedly) yang misoginis, penuh dengan ucapan stereotipe tentang wanita khususnya janda; seolah wanita tak punya banyak pilihan dalam hidupnya, lemah, dan haus aktivitas ranjang. Marlina tumbuh menjadi sosok yang menepis itu semua.

Dorongan prilakunya bukan muncul dari buku apa yang dia baca, melainkan situasinya yang membuat Marlina tidak mengenal kata pasrah sebagai jawaban atas pertanyaan mengenai nasib yang mendera. Hingga akhirnya Marlina mampu setenang mungkin merancang strategi melibas kawanan pria yang telah mengganggu stabilitas hidupnya: meracuni dan memenggal kepala Markus.

Marlina tak perlu sesumbar soal keberanian atau mencari teman untuk mendukung aksinya, cukup tenang dan yang lebih penting tak mengemis kasihan pada lawan-lawannya. Pada dititik itu, sungguh Marlina benar-benar menunjukan ketangguhan yang hakiki dari seorang perempuan yang sedang melindungi harga dirinya. Termasuk ketika pihak kepolisian tidak banyak bisa diharapkan. Marlina tetap berusaha semandiri mungkin.

Namun sayangnya apa yang terjadi pada Marlina terlalu mengada, apabila mau dicari korelasinya dengan kehidupan nyata.

Kondisi yang lebih relatable dengan keseharian, justru tampil dari sosok Novi (Dea Panendra) yang sedang hamil sepuluh bulan dan berada di tengah keraguan sang suami terhadap janin yang sedang dikandungnya.

Sang suami mewakili kelompok pria pencemburu karena dugaan hubungan seksual yang dilakukan pasangannya. Seperti yang dilansir dari tirto.id mengenai laporan penelitian profesor psikologi University of Texas, David M. Buss yang menilai bahwa pria cenderung lebih cemburu bila pasangannya selingkuh secara seksual. Karena pria tidak mau membesarkan anak yang bukan berasal dari “kerja keras” nya.

Hal yang kemudian bisa melatar belakangi tindak Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Dan tindakan semacam ini terlalu sering kita temukan dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga apa yang dialami Novi terasa begitu dekat dengan kehidupan di belakang layar.

Namun rupanya karakter Novi terlalu kuat untuk merengek, berharap sang suami mempercayainya. Dia terlampau tegar, meski kecewa, dan membiarkan suaminya pergi saja bersama api cemburu yang disulut sendiri olehnya.

Baik Marlina ataupun Novi, bukan hanya perlu disimak kaum perempuan saja. Tetapi pria juga, termasuk saya yang merasa tercubit oleh tingkah laku dua karakter wanita tersebut, yang mencoba mencongkel dinding patriarki dengan kesederhanaannya.

Apalagi dengan sikap Markus yang mampu menjadi cibiran bagi kaum pria. Terlebih lagi saya yang hidup di tengah pria yang selalu melabeli perempuan, khususnya janda sebagai sosok wanita yang punya nafsu birahi tinggi dan sekali goda bisa langsung naik ranjang bersama, gratis pula.

marsha-timothy_20171015_140816
Marlina menenteng kepala Markus dalam perjalanan ke kantor polisi. Sumber: google.

Selain isu gender yang ternyata menempati porsi utama dalam film ini. Sutradara Mouly Surya rupanya menyelipkan sedikit permasalahan lokal, dari segi kemiskinan, yang digambarkan melalui beberapa adegan.

Salah satunya dengan menempatkan Tumpal Tampubolon sebagai suami Marlina yang sudah menjadi mumi. Di mana hal tersebut menunjukan ketidak mampuan Marlina dari segi finansial untuk mengikuti tata cara pemakaman sesuai budaya setempat.

Sebab ada sebuah ritual khusus bagi masyarakat Sumba yang mayoritas menganut Marapu. Meyakini bahwa setiap anggota keluarga yang meninggal harus dikebumikan dengan melalui ritual penyembelihan hewan seperti kuda atau kerbau misalnya, serta dibungkus menggunakan kain kualitas bagus. Yang mana semua itu membutuhkan biaya tak sedikit. Barang siapa yang belum mempunyai kecukupan dana, maka mayatnya tidak boleh dikubur terlebih dahulu dan menjadikannya mumi sebagai alternatif lain.

Marlina dan suami menjadi simbol dari sederet presentase mengenai angka kemiskinan yang terjadi di Nusa Tenggara Timur, khususnya Sumba.

Menurut data Badan Pusat Statistik, Sumba secara administratif berada dalam wilayah provinsi Nusa Tenggara Timur termasuk wilayah dengan angka kemiskinan tinggi. Pertahun 2016 presentase penduduk miskin di Sumba Barat mencapai 29.34%, Sumba Timur 31.43%, Sumba Tengah 36.55%, dan Sumba Barat Daya 30.63%. Dengan total keseluruhan penduduk miskin di NTT mencapai 1 149.92 jiwa di tahun 2016.

Jelas menjadi dilematisasi tersendiri, dengan melihat statistik yang dikeluarkan BPS dan keharusan mengikuti budaya turun temurun yang telah berlangsung lama.

Poin terakhir yang saya dapatkan dari film Marlina ini, sekaligus menepis keraguan lain di awal sebelum menontonnya. Sempat terpikir, dengan latar belakang Sumba, apakah Mouly hanya akan mengeksploitasi unsur keindahan setempat dan menjadikan film ini serupa video promosi Kementerian Pariwisata. Nyatanya tidak. Kadar ekspos panorama alamnya tidak berlebihan, porsinya cukup.

Karena memang sepertinya hanya dijadikan penguat unsur dramatikal film saja, agar mendekati tipikal film bergenre spaghetti western ala Sergio Leone. Tentu dengan versi lokal yang mumpuni. Maka wajar apabila situs variety.com menjulukinya sebagai satay western.

Dua hal terakhir yang mengesankan bagi saya di film ini: adegan pipis jongkok Marlina dan Novi di alam terbuka, saya yakin baru Mouly yang se”gila” ini melakukannya; scoring dan sounds effect nya yang entah kenapa membuat semuanya seakan hidup.[]

Garut, 02 Desember 2017

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s