Intisari

Alasan Tak Perlu Merayakan Tahun Baru

tahun-baru-2018
Foto oleh ABC News.

Menjelang pergantian tahun ada yang lebih riuh dari kerumunan pengendara motor yang berkeliling kota. Ada yang lebih pekak dari terompet. Adalah perdebatan tentang perlu atau tidaknya pergantian tahun dirayakan, telah menjadi semacam agenda tahunan kelompok muslim di Indonesia.

Seperti biasa hal tersebut menjalar di mana-mana: grup WhatsApp, lini masa sosial media, hingga obrolan-obrolan singkat di pinggir trotoar.

Saya bangun lebih siang di Minggu (31/12) itu, dengan kondisi perut dihujam lapar. Karena sudah berjanji untuk profesional pada diri sendiri, saya memutuskan mencari asupan untuk meredakan rasa itu.

Begitu buka pintu, suara terompet yang ditiup bocah-bocah tetangga di rumah menyambut saya. Rumah mereka lagi ramai, sepertinya sanak keluarga jauhnya sedang berkumpul. Beberapa dari mereka sibuk dengan perlengkapan bakar-bakaran. Selebihnya asyik berbincang-bincang.

Tak jauh dari rumah mereka. Saya melihat kondisi yang begitu kontras. Kendati para penghuninya lengkap, mereka terlihat seperti hari-hari kemarin. Suasanya lebih hening. Entah mereka tidak berhasrat merayakan pergantian tahun baru atau semua perlengkapan sudah lebih dulu diurus. Jadi tinggal leyeh-leyeh, sambil menunggu pukul 00.00 WIB.

Langkah saya terus melaju, meninggalkan dua rumah dengan kondisi yang berbeda tersebut. Memilih Rumah Makan Padang sebagai solusi mengatasi lapar. Saya makan di tempat, karena sedang malas mencuci piring sendiri.

Hanya ada dua orang yang makan, salah satunya saya. Satunya lagi seorang pria bertubuh jangkung sekitar 168 cm, berambut ikal, dan mata yang bulat. Usianya mungkin sekitar dua belas tahun di atas saya. Selesai makan, pria itu menghampiri saya. Sedikit lupa tentang siapa dirinya, namun saya tak merasa asing.

“Tahun baru ke mana ?” tanyanya.

Saya jawab, kumpul di rumah saudara dan palingan nongkrong sampai subuh sama teman-teman.

Dia menyesap teh manis dinginnya. “Ikut merayakan tahun baru juga ?”

“Nggak juga sih. Cuma tahun baru membuat semua orang yang tadinya sibuk, jadi memiliki waktu untuk rehat. Karenakan libur. Keluarga banyak yang memanfaatkan momentum ini untuk kumpul bareng, begitu juga teman-teman yang lain. Kebetulan aja barengan sama pergantian tahun,” ujar saya. “Kalau situ sendiri gimana ?”

Dia menyesap teh manis dinginnya kembali, akan menjadi yang terakhir, kalau saja dia tak berhasrat memesan segelas lagi. “Saya nggak kemana-mana.”

“O… Nggak ngrayain tahun baru ? Atau memang nggak ada agenda ?”

“Tidak merayakan. Jadinya nggak punya agenda.”

Saya membakar sebatang kretek dulu, sebelum lanjut ngobrol dengannya. “Bisa begitu yah ?”

“Bisalah,” jawabnya, “apa yang mau saya rayakan ? Kalau saya tidak pernah memenangkan apa-apa. Setahun ini saya banyak gagalnya.”

“Soal karir ? Asmara ?”

“Saya gagal mengatasi diri sendiri. Lebih banyak bicara dan sedikit sekali mendengar di tahun 2017.”

Kali itu saya mendengar alasan paling masuk akal tentang tidak perlunya merayakan pergantian tahun. Sekaligus menjadi alasan yang dalam, begitu kontemplatif, dan prestisius.

“Resolusi di tahun barumu apa ?” tanyanya.

“Saya mau punya kalender baru!”

Mendadak tawanya pecah. Entah apa yang lucu dari jawaban saya yang serius itu. Saya cuma mau kalender baru, karena tidak mungkin menggunakan kalender lama.

“Semua orang merayakan tahun baru dan berharap tahun tersebut memberikan perubahan yang baik untuk hidupnya. Kenapa hanya kalender baru ?”

“Karena itu yang saya butuhkan.”

“Bagaimana dengan resolusi yang sifatnya lebih pribadi lagi ? Seperti karir yang menanjak. Asmara yang mencapai tujuan. Kesehatan.”

Gantian saya yang ketawa mendengarnya. Mimik wajahnya berubah datar. “Kalau cuma untuk itu saya nggak perlu menunggu tahun baru. Saya nggak hidup dari tahun ke tahun. Hidup saya dari detik ke detik.”

“Loh bisa begitu ?”

“Bisalah,” timpal saya, “karena nafas saya berhembus perdetik bukan pertahun.”

Dia memesan satu gelas es teh manis. Saya pikir dia tak kuat menahan haus karena bicara terus. Ternyata dia memesankan untuk saya.

“Untuk obrolan ini,” ujarnya. Lantas pergi begitu saja, menjauhkan saya yang masih kekenyangan karena menghabiskan sepotong daging rendang dan kripik balado.

Masakan Padang selalu punya tempat tersendiri untuk saya. Rasanya yang amburadul: manis, pedas, asam  bercampur jadi satu, terlalu mengesankan buat saya. Ditambah lagi dengan obrolan yang tak terduga seperti ini.

Sungguh akhir tahun yang barokah.[]

Depok, 31 Desember 2017

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s