Intisari

Tiada Istimewa Kartu Kuning Mahasiswa

11

Sabtu pagi, seorang teman chat saya. “Pagi ini tambah banyak dosa lagi yuk ?” ajaknya. Saya mengiyakannya dan berbalik bertanya mau menggibah siapa. Tak lama berselang dia membalas, ketua BEM UI yang melayangkan kartu kuning ke Jokowi. Ketika suguhan tema itu diajukan, saya baru mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.

Presiden Jokowi menghadiri acara Diesnatalis Universitas Indonesia ke-68 di Balairung Kampus Depok pada Jumat (2/2) lalu. Saat Jokowi sedang memberikan pidato, tiba-tiba seorang mahasiswa dari tengah kerumunan berdiri dan mengacungkan kartu berwarna kuning. Mahasiswa itu bernama Zaadit Taqwa -Ketua BEM UI.

Kembali ke teman saya, kemudian dia meminta pendapat saya. Terlepas dari apa motif Zaadit melakukan hal tersebut, saya tidak punya porsi lebih untuk memberi komentar. Selain mengakui bahwa prilaku Zaadit cukup nyentrik kala itu. Tidak banyak basa-basi, selain pula caranya yang saya boleh akui terbilang elegan.

Zaadit tidak membentangkan poster bertuliskan segala slogan atau potongan kutipan milik aktivis kondang. Tidak pula membawa toa dan membacakan puisi Wiji Thukul. Cukup kertas persegi berwarna kuning yang diacungkan ke langit begitu saja. Dia menganggap momentum itu serupa pertandingan sepak bola.

Bagaimanapun nyentriknya Zaadit, masih belum bisa merangsang penasaran saya. Bagi saya itu biasa sekali. Pun memang seharusnya mahasiswa seperti itu: berani konyol. Harus berpola pikir “batu”, bahwa apa yang dipelajarinya selama ini adalah benar. Toh kita semua tau, jauh hari Tan Malaka pernah mewejang, “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.”

Malah aneh apabila mahasiswa sepanjang riwayatnya menjadi civitas akademik hanya memikirkan bagaimana caranya supaya mudah di terima kerja, kelak jika dirinya sarjana nanti. Sama anehnya dengan pola pikir teman-teman post graduate yang malah mengkritisi Zaadit di bawah dalih: kamu belum tau sih dek, kalau cari kerja di zaman now itu susah. Pun gaji S-1 itu cuma UMR doang.

Kalau pada akhirnya setelah kamu menjadi sarjana dan mengeluh karena hanya di bayar UMR, kemudian coba menasehati kawan-kawan yang masih kuliah untuk fokus memperbaiki diri supaya kelak mampu dibayar mahal oleh korporasi. Itu salahmu sendiri, siapa suruh kuliahmu dipakai untuk berjudi. Kamu masih berpikir dengan kuliah, bisa mudah mendapatkan pekerjaan dan dibayar dengan gaji tinggi. Padahal banyak di antara kita yang tidak kuliah, bisa bekerja dan dibayar tinggi pula. Rumus hidupmu norak!

Mahasiswa bagi saya, masih dalam kategori sebagai pembelajar. Karena itu juga, Zaadit dan apa yang dilakukannya kemarin adalah bagian dari proses belajarnya. Oleh karena itu biasa saja bagi saya. Toh berada di jalurnya. Dia menjalani hari-harinya dengan kesadaran penuh sebagai mahasiswa. Tidak mengawang kepada hal yang belum terjadi di hidupnya; hari esok yang belum tentu jelas kedatangannya; dunia kerja yang masih belum juga dirasakannya.

Biarlah teman-teman mahasiswa menikmati waktunya. Serta urusan bagaimana mendapatkan pekerjaan dan gaji tinggi menjadi persoalan masing-masing dari kita. Jangan selalu dikait-kaitkan. Keduanya tidak ada hubungannya.

Biarlah waktu yang mengingatkan kita, betapa naifnya diri sendiri di waktu lalu.

Saya malah lebih penasaran dengan Jokowi, bagaimana perasaannya diberikan kartu kuning padahal tidak sedang bermain sepak bola. Beberapa khayalan tentang apa yang diucapkan Jokowi muncul dibenak saya, seperti:

  1. “Anak ini. Keren!”
  2. Jancuk!”
  3. Yellowcard ? Aku lebih milih MxPx.”

Atau, kalian mau menambahi ? Silakan saja.[]

Depok, 05 Februari 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s