Cerpen

Membantah Suami

the-housemaid_cj-entertainment
Ilustrasi. Sumber: variety.com

SUDAH LAMA saya tidak ke rumahnya. Bisa jadi sebelas bulan, kalau saya tidak salah berhitung. Maka pada sore yang teduh itu saya berkunjung ke kediamannya. Selain untuk melepas rindu, juga untuk menagih rambutan yang mulai tanggal karena musim telah tiba, dan memberi tau bahwa saya sudah tidak lagi bekerja di kantor lama.

Di tengah saya, tepat di atas meja bertengger seikat rambutan yang dipisahkan dari ibunya. Rasanya manis, bahkan semut hitam tak rela menjauh darinya. Sampai saya harus tega hati mengusir semut-semut itu agar menjauh. Syukurlah, semutnya cukup kooperatif.

“Kenapa pindah kerja?” tanyanya.

Setelah melumat habis sebiji rambutan, saya bilang, “karena ingin.” Tapi dia tak puas dan bertanya lagi. “Mustahil pindah kerja tanpa didasari keinginan untuk pindah,” Saya membatu.

“Gajinya kecil? Orang-orangnya gak enak? Sistemnya korup?” Dia masih mencoba.

“O, jelas itu bukan masalah. Aku pindah karena memang ingin. Sudah itu saja yang perlu kamu ketahui.”

Jelas tidak ada hubungannya segala yang disebutnya menjadi alasan kepindahan saya. Andaikan itu benar terjadi pada saya, selama saya bisa mengatasinya dan bertahan karenanya. Tentu saja tidak akan membuat saya pindah. Maka jawaban “karena ingin” menjadi jawaban paling absolut, sebab dari kepindahan tersebut.

Selang kemudian meja yang berada di antara kami terisi oleh dua cangkir kopi panas. Istrinya yang meletakannya begitu saja.

“Loh kok ada kopi?” keluh saya. “Kamu jangan begitu dong. Aku masih bisa bikin kopi sendiri. Kamu juga sebetulnya masih punya cukup tenaga untuk beranjak ke dapur.”

“Kan sedari tadi kita asyik berbincang. Mana kamu dengar aku memerintahkannya membikin kopi? Tidak kan? Sudah minum saja.”

“Bukannya begitu. Aku masih pegang ucapanmu tempo dulu, soal perempuan punya hak penuh atas dirinya sendiri. Pasti sebelumnya kamu sudah mendoktrin yang macam-macam padanya ya?”

Ngawur! Jelas aku tidak pernah mendustai ucapanku sendiri,” tekannya. Menyeruput kopi pemberian sang istri. “Dia memang begitu. Sudah aku bilang, aku selalu bisa sendiri, apalagi hanya menyeduh kopi. Tapi nuraninya yang menggerakannya membantah perintahku. Mana mungkin aku melukai hatinya. Lalu aku bisa apa?”

Saya belum percaya dan masih menduga pasti dia telah mencuci otak sang istri dengan pola pikir yang patriarki. Saya meninjau ke dalam rumah, sang istri sedang duduk di ruang televisi, entah menyimak apa sambil sesekali melihat gawainya di tangan.

“Kamu sekarang mau jadi patriarkis ya?”

“Tuduhan apa lagi ini?!”

“Istrimu kamu biarkan di rumah begitu. Mengurusi segala urusan rumah tangga. Memberi jarak hidupnya dengan lingkungan sosial yang seharusnya menjadi haknya juga. Percuma dulu kita mengamini kesetaraan gender. Kalau sekarang istrimu cuma jadi burung dalam sangkar.”

“Aduh, kamu lupa ya? Istriku juga sering ikut kita berdiskusi soal relasi gender dan kekuasaan. Bahkan dia mengamini kesetaraan gender itu.”

“Benar dugaanku. Kamu telah mencuci otaknya sampai idealismenya luntur begitu.”

“Tunggu. Tunggu. Jangan ambil kesimpulan sendiri begitu dong. Mungkin saja dia sama sepertimu, bergerak berdasarkan keinginannya sendiri. Mungkin saja…” Dia menyesap kopinya lagi. “Coba kamu tanya sendirilah padanya. Dari pada aku yang jawab, nanti makin kamu tuding aku patriarkis, tak memberi hak bicara pada sang istri.”

Karena sudah mendapatkan izin darinya. Saya menghampiri istrinya dan bertanya.

“Loh! Kamu ini diterpa angin apa? Aku dan suamiku justru menerapkan hubungan yang setara. Kami sama-sama mempunyai hak dalam keluarga kecil yang baru saja kami rintis ini. Bagaimana bisa kamu bilang terjadi ketimpangan?”

“Hak seperti apa? Kalau kerjamu hanya melayani suami membikin kopi, sementara itu kamu seharian di rumah terus. Tak lagi berkegiatan seperti dulu.”

“Hak untuk menentukan pilihan. Tanpa intervensi ataupun intimidasi. Aku dan suamiku setara dalam mengambil keputusan berperan di keluarga ini, untuk menjadi apa dan bagaimana.”

“Tapi…” Belum selesai ucapanku telah dipotongnya.

“Tapi apa? Bukankah dulu kalian sudah mafhum bahwa perempuan itu berhak penuh atas hidupnya. Bahkan bukan saja perempuan, kata kalian, tetapi manusia yang masih bernafas. Kamu lupa soal itu?”

Jelas saya masih ingat betul hal tersebut, bahkan sampai detik ini. Semua manusia berhak penuh atas hidupnya sendiri. Mendengar jawabannya, saya masih merasa ada yang mengganjal.

“Begitu kami menikah,” lanjutnya, “dengan kesadaran penuh aku telah memilih peranku sendiri. Suamiku tipikal yang senang bergaul sementara aku tidak terlalu. Maka aku biarkan dirinya tetap bekerja. Aku resign dari kantor. Lalu tanpa kesepakatan tertulis, dia yang secara sadar mengambil tanggung jawab untuk urusan perekonomian keluarga ini. Aku yang garap urusan domestik. Lalu apanya yang salah di matamu? Apa yang timpang?”

Saya diam sejenak sambil memperhatikan ekspresi wajahnya yang sungguh-sungguh. “Ya, aku masih gak habis pikir aja. Kamu wanita terdidik. Malah memilih mengurung diri di rumah.”

“Justru itu menjadi keunggulanku. Dengan aku berpendidikan, aku makin leluasa mendidik bakal anak-anakku kelak. Sebelum nantinya sekolah mengotori pikirannya. Memangnya kamu sendiri percaya sama institusi pendidikan?”

Nggak sih…” jawabku memelas.

“Lagian kamu aneh-aneh saja.”

Kopi di atas meja tersisa satu, jelas itu punya saya yang baru diminum sedikit. Sudah terlanjur dingin. Namun karena terlalu banyak bicara, tenggorokan saya menjadi kering. Terpaksa kopi dingin membasahinya.

“Bagaimana? Sudah aku bilangkan istriku tukang bantah suami. Dia hanya mengikuti dirinya sendiri.”

Saya hanya mengangguk.

“Begitupun aku. Aku hanya mengikuti diriku sendiri.”

Sisa kopi saya minum hingga tandas. Begitu juga rambutan. Belum juga ada niat untuk saya beranjak. Saya masih ingin bertanya, masih ada yang mengganjal.[]

Depok, 06 Maret 2018

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s